Sederet Bantahan atas Klaim Hadi Pranoto

Kompas.com - 04/08/2020, 06:45 WIB
Tangkapan layar YouTube Anji bersama Hadi Pranoto ScreenshotTangkapan layar YouTube Anji bersama Hadi Pranoto
Penulis Jihad Akbar
|

KOMPAS.com - Sejumlah pihak membantah klaim penemuan obat herbal untuk Covid-19 yang diutarakan Hadi Pranoto.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Satgas Covid-19, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), hingga Kemenristek/BRIN membantah klaim pria yang ramai diperbincangkan publik setelah diwawancarai musisi Erdian Aji Prihartanto atau Anji itu.

Hadi Pranoto, dalam video perbincangan yang diunggah melalui kanal Youtube milik Anji, memperkenalkan diri sebagai profesor sekaligus Kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid-19.

Ia mengklaim telah menemukan cairan antibodi Covid-19 yang bisa menyembuhkan ribuan pasien Covid-19.

Cairan antibodi Covid-19 tersebut disebutnya telah didistribusikan di Pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan.

Bahkan, ia mengklaim sudah memberikan kepada ribuan pasien di Wisma Atlet, dengan lama penyembuhan 2-3 hari. Namun, belakangan video perbincangan itu sudah dihapus pihak YouTube.

Baca juga: Kemenkes Minta Masyarakat Tak Mudah Percaya Klaim Hadi Pranoto

Berikut sederet bantahan atas klaim Hadi Pranoto:

Kemenkes

Kemenkes menegaskan hingga saat ini belum ada pihak yang menemukan obat yang secara khusus bisa mengobati Covid-19.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes Slamet menyatakan penelitian saat ini masih terus dilakukan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Ia menjelaskan proses produksi obat pun harus melalui proses yang benar dan tidak bisa sembarangan.

"Pertama, harus diawali dengan upaya penemuan bahan atau zat atau senyawa potensial obat melalui berbagai proses penelitian," kata Slamet menanggapi klaim Hadi Pranoto melalui keterangan tertulis, seperti diberitakan Kompas.com pada Senin (3/8/2020).

Baca juga: Mengaku Temukan Obat Covid-19, Hadi Pranoto Minta Jangan Dicemooh

 

Bahan potensial tersebut, kata dia, selanjutnya harus melewati berbagai proses pengujian. Kemudian masih dibutuhkan uji klinis untuk fase pertama, fase kedua dan fase ketiga.

Setelah itu, obat tersebut masih harus mengantongi izin edar.

"Lalu diproduksi melalui cara pembuatan obat yang baik dan dilakukan kontrol pada proses pemasarannya," lanjut dia. 

IDI

Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Slamet Budiarto menyebutkan, Hadi Pranoto bukanlah anggota IDI.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X