Kasus Prank Daging Isi Sampah, Kenapa Masih Ada yang Membuat Konten seperti Ini?

Kompas.com - 03/08/2020, 12:20 WIB
YouTuber asal Palembang, Sumatera Selatan, bernama Edo Putra ditangkap pihak kepolisian lantaran telah membuat prank daging berisi sampah. Tangkapan layarYouTuber asal Palembang, Sumatera Selatan, bernama Edo Putra ditangkap pihak kepolisian lantaran telah membuat prank daging berisi sampah.

KOMPAS.com - Video berisi prank kontroversial kembali muncul di YouTube, kali ini dilakukan oleh YouTuber bernama Edo Putra.

Ia membagikan bungkusan plastik yang disebut daging kurban, namun ternyata isinya adalah sampah.

Video ini diunggah dengan judul " PRANK BAGI BAGI DAGING KE EMAK-EMAK ISINYA SAMPAH".

Konten ini prank seperti ini tak jauh berbeda dari konten yang sebelumnya dibuat oleh Ferdian Paleka yang membagikan bungkusan sembako pada transgender, namun berisi sampah.

Baca juga: Viral, Video Prank Bagi-bagi Daging Isi Sampah, YouTuber Edo Putra Ditangkap Polisi 

Kasus Ferdian sempat diperkarakan. Kenapa masih ada yang membuat konten- konten prank seperti ini yang dinilai minim empati?

Prank adalah konten lama

Aktivis digital sekaligus social media advocates, Enda Nasution mengatakan, konten prank memang selalu ada, baik di dunia nyata, maupun di media sosial.

Namun, tidak semua prank menyebabkan kemarahan atau kontroversi. Ada juga prank yang ditujukan untuk memunculkan kelucuan atau sesuatu yang bersifat humor.

Model prank seperti ini tidak merugikan atau membahayakan.

"Prank itu kan practical joke, ngerjain orang, kayak narik kursi pas orang mau duduk, biasanya semua ketawa, kecuali yang dikerjain sampai ada korban materi, kecelakaan. Dari zaman kuno sudah ada. Ada yang suka, ada yang enggak suka. Beberapa practical joke juga ada yang jadi tradisi," jelas Enda saat dihubungi Kompas.com, Senin (3/8/2020) pagi.

Namun, kata Enda, yang membedakan, saat ini prank mulai marak di ranah digital.

Di sana, konten prank yang banyak digemari kemudian bisa mendatangkan rupiah bagi pembuatnya, melalui sistem keuangan yang berjalan, misalnya di YouTube.

"Sebenarnya selalu ada konten prank, yang muncul lagi prank yang bikin marah orang," kata Enda.

Mereka membuat konten itu, khususnya di YouTube, dengan alasan ingin mendapatkan penghasilan yang besar layaknya YouTuber lain yang sukses dengan pendapatan yang menggiurkan.

Mereka melihat pekerjaan itu mudah untuk dilakukan dan menjanjikan.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X