Di Balik Rahasia Patgulipat Djoko Tjandra

Kompas.com - 03/08/2020, 10:32 WIB
Terpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra tiba di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (30/7/2020). Djoko Tjandra ditangkap di Malaysia. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOTerpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra tiba di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (30/7/2020). Djoko Tjandra ditangkap di Malaysia.


ADA logika menggelitik: mengapa Djoko Tjandra harus melakukan akrobat luar biasa padahal hukumannya hanya 2 tahun penjara dan denda 15 juta rupiah.

Sementara, boleh jadi uang yang ia keluarkan untuk aksi patgulipatnya mencapai miliaran rupiah.

Dua jenderal polisi dan dua pejabat kejaksaan “tumbang” karena terjerat dalam pusaran kasusnya.

Ada apakah gerangan?

Saya mencoba menelusuri pertanyaan dari logika sederhana yang menggelitik ini melalui serangkaian riset, baik melalui studi analisis isi media massa maupun mendapatkan data primer serta sekunder dari sejumlah sosok yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan Djoko Tjandra.

Hasil penelusuran itu saya babarkan dalam Program AIMAN yang tayang setiap Senin pukul 20.00 di KompasTV.

Saya mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu kedatangan Djoko Tjandra ke Jakarta. Betulkah Djoko datang ke Jakarta menembus segala kesulitan hanya untuk mengurus KTP yang kemudian ia gunakan untuk membuat paspor hingga mendaftarkan Peninjauan Kembali kasusnya?

Sesederhana itukah alasannya? Sulit untuk membuktikan secara ilmiah. Tapi, ketika kita menggunakan "feeling" atau rasa, sepertinya sulit untuk dikatakan sesederhana itu. Benarkah?

Mari kita elaborasi.

Ada berbagai akrobat patgulipat Djoko Tjandra sepanjang Juni dan terbongkar di awal Juli 2020 ini. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang dikejar Djoko. Ini bukan sekadar mengurus KTP, membuat paspor, lalu mendaftarkan PK.

Mari kita mulai dari soal pengurusan KTP. Lurah Grogol Selatan menggelar karpet merah bagi Djoko Tjandra dan pengacara Anita Kolopaking. Pelayanan KTP dilakukan di luar jam pelayanan umum kelurahan. Dalam dua jam KTP baru itu jadi. Baca juga: Djoko Tjandra Masuk Indonesia, Urus KTP, Lalu Keluar Indonesia Lagi, Kok Bisa?

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X