Idul Adha dan Dimensi Publik Hari Raya Agama-agama

Kompas.com - 30/07/2020, 10:58 WIB
Pekerja memberi makan sapi yang dibeli Presiden Joko Widodo untuk kurban Idul Adha di Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (24/7/2020). Presiden Joko Widodo membeli sapi jenis limusin dengan berat 1,03 ton tersebut untuk disembelih pada Hari Raya Idul Adha 144! Hijriah di Masjid Agung Solo. ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHAPekerja memberi makan sapi yang dibeli Presiden Joko Widodo untuk kurban Idul Adha di Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (24/7/2020). Presiden Joko Widodo membeli sapi jenis limusin dengan berat 1,03 ton tersebut untuk disembelih pada Hari Raya Idul Adha 144! Hijriah di Masjid Agung Solo.


SALAH satu hal baik sebagai warga negara atau orang Indonesia adalah bahwa hari raya-hari raya dalam setiap agama tidak saja bermakna bagi penganut agama yang bersangkutan, melainkan bermakna juga bagi penganut agama lain.

Setiap orang beragama di Indonesia dapat mencerap makna hari raya agamanya masing-masing dan hari raya agama-agama lain. Hal ini menunjukkan bahwa makna hari raya-hari raya agama melampaui batas-batas formal agama itu sendiri.

Makna hari raya-hari raya agama dengan maknanya yang melampaui batas-batas formal agama, menunjukkan bahwa hari saya agama merupakan sebuah realitas yang berdimensi kolektif-kolegial sekaligus berdimensi publik.

Dimensi kolektif-kolegial agama tampak dalam pencerapan makna hari raya oleh penganutnya.

Sedangkan dimensi publiknya, terungkap melalui orang-orang di luar agama tertentu (penganut agama lain) yang mengucapkan selamat hari raya kepada yang merayakannya.

Dimensi publik hari raya agama ini berakar pada konteks kelahiran agama itu sendiri. Sebuah agama lahir dalam konteks sosial masyarakat tertentu. Agama lahir sebagai tanggapan terhadap keadaan manusia dalam konteks tersebut.

Manusia dalam konteks itu, bukan manusia yang monolitik melainkan plural, baik dari segi budaya, sistem nilai, orientasi hidup, maupun kepentingan. Tidak ada tatanan sosial-masyarakat yang tunggal manakala agama tertentu lahir.

Konsekuensi dari latar historis yang demikian adalah bahwa hari raya agama bermakna baik bagi pemeluk agama yang bersangkutan maupun bagi non-pemeluk agama itu.

Terlebih bagi negara seperti Indonesia, hari raya agama-agama dengan aneka makna yang terkandung di dalamnya, menjadi undangan bagi setiap orang dari berbagai agama dan budaya yang berbeda-beda menimba makna itu darinya.

Dimensi publik hari raya agama merupakan ruang terbuka sekaligus undangan bagi para penganut agama lain untuk mencerap maknanya. Dimensi publik itu merupakan kekayaan sekaligus kekuatan dari hari raya agama-agama.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X