Kriteria Perhitungan Korban Meninggal Dunia dan Pasien Sembuh Virus Corona Berubah, Apa Perubahannya?

Kompas.com - 20/07/2020, 07:50 WIB
Seorang tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri sebelum memberikan makanan kepada pasien positif COVID-19 di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Bandung, Jawa Barat, Senin (13/7/2020). Kementerian Kesehatan menyebut anggaran untuk insentif tenaga kesehatan yang menangani pasien COVID-19 mencapai Rp1,9 triliun baik di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dan institusi kesehatan pusat. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj. ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISISeorang tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri sebelum memberikan makanan kepada pasien positif COVID-19 di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Bandung, Jawa Barat, Senin (13/7/2020). Kementerian Kesehatan menyebut anggaran untuk insentif tenaga kesehatan yang menangani pasien COVID-19 mencapai Rp1,9 triliun baik di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dan institusi kesehatan pusat. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj.

KOMPAS.com – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menerbitkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease (Covid-19) Revisi ke-5.

Dalam pedoman tersebut, ada beberapa perubahan istilah operasional lama dengan delapan istilah operasional baru.

Beberapa yang diubah di antaranya istilah orang dalam pemantauan (ODP) berubah menjadi kontak erat, pasien dalam pengawasan (PDP) berubah menjadi kasus suspek, dan orang tanpa gejala (OTG) menjadi kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik).

Perubahan kriteria perhitungan korban meninggal dunia dan pasien sembuh

Selain perubahan istilah-istilah di atas, ada perubahan terkait kriteria perhitungan korban meninggal dunia dan sembuh akibat virus corona Covid-19.

Dalam pedoman tersebut, angka kematian dihitung berdasarkan jumlah kasus konfirmasi atau kasus probable Covid-19.

“Kematian COVID-19 untuk kepentingan surveilans adalah kasus konfirmasi/probable COVID-19 yang meninggal,”  demikian tertulis dalam peraturan Kemenkes.

Baca juga: [KLARIFIKASI] Penumpang Bus Meninggal Dunia Disebut karena Virus Corona

Kasus probable didefinisikan sebagai ISPA berat/ARDS/meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan Covid-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR.

Sementara, kasus konfirmasi yakni seseorang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19 yang dibuktikan pemeriksaan laboratorium RT-PCR yang dibagi menjadi simptomatik (dengan gejala) dan asimptomatik (tanpa gejala).

Kriteria perhitungan ini berbeda dengan sebelumnya di mana jumlah korban meninggal hanya dihitung berdasarkan kasus positif.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, perhitungan korban meninggal dunia sudah mengikuti revisi ke-5.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X