Cepat Gemuk meski Sedikit Makan, Ahli Sebut Tiga Faktor Penentu

Kompas.com - 19/07/2020, 19:05 WIB
Ilustrasi mudah bertambah berat badan Shutterstock/Nina BudayIlustrasi mudah bertambah berat badan

KOMPAS.com - Menjaga berat badan ideal merupakan impian banyak orang, terutama bagi kaum hawa. Selain faktor penampilan, menjaga berat badan ideal juga membuat seseorang lebih sehat.

Dari sejumlah sumber disebutkan berat badan merupakan salah satu risiko untuk sejumlah penyakit metabolik, darah tinggi, kencing manis hingga kelebihan lemak darah.

Namun meski dianggap sepele, menjaga berat badan ideal tidaklah mudah. Pasalnya fakta di lapangan ditemui seseorang yang sudah berupaya makan dengan porsi berlebih namun tidak juga bertambah berat badannya.

Baca juga: Mengenal Beda Rokok dan Vape...

Sebaliknya ada pula seseorang yang merasa hanya makan dengan porsi sedikit tapi cepat gemuk.

Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menjawab hal ini, Dokter Gizi di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr Agnes Riyanti Inge Permadhi menjelaskan setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi:

1. Genetika

Ilustrasi sejarah perkembangan genetikabritannica.com Ilustrasi sejarah perkembangan genetika

Genetik adalah sesuatu yang sulit diubah, karena bawaan alami tubuh.

Diberitakan Kompas.com (6/3/2020), genetika adalah cabang biologi yang menyangkut dengan pewarisan sifat (hereditas) dan variasi.

Konsep genetika berkembang dari ilmu yang membahas tentang bagaimana sifat diturunkan menjadi lebih luas, yakni ilmu yang mempelajari tentang materi genetik.

Secara luas, genetika membahas mengenai:

  1. Strukturmateri genetik, meliputi gen, kromosom, DNA, RNA, plasmid, episom, dan elemen tranposabel.
  2. Reproduksi materi genetik, meliputi reproduksi sel, replikasi DNA, dan lainnya.
  3. Kerja materi genetik, meliputi ruang lingkup materi genetik, transkripsi, kode genetik dan lainnya.
  4. Perubahan materi genetik, meliputi mutasi dan rekombinasi
  5. Genetika dalam populasi
  6. Perekayasaan materi genetik

Baca juga: 9 Tanda-tanda Tubuh Saat Kurang Makan Sayur

2. Metabolisme

Metabolisme merupakan sejumlah reaksi kimia yang terjadi di dalam setiap sel organisme hidup. Metabolisme menyesuaikan energi untuk proses vital dan membentuk energi baru.
shutterstock.com Metabolisme merupakan sejumlah reaksi kimia yang terjadi di dalam setiap sel organisme hidup. Metabolisme menyesuaikan energi untuk proses vital dan membentuk energi baru.

Faktor kedua yang memengaruhi berat badan seseorang yakni metabolisme. Namun karena tidak terlihat maka hal ini sedikit sulit dikontrol.

Menurut Inge, makanan yang masuk ke dalam tubuh akan diproses menjadi energi yang berbentuk lemak.

Lemak itu akan keluar jika digunakan untuk beraktivitas, namun jika seseorang hanya sedikit melakukan aktivitas fisik, maka energi itu hanya akan tersimpan di dalam tubuh.

"Begini ada orang yang dikasih makan (makanan) langsung dimetabolisme oleh tubuhnya menjadi energi. Ada orang yang dikasih makanan, (makanan) dimetabolisme, (lalu hanya) disimpan. Beda-beda," ujar Inge, saat dihubungi Kompas.com, Minggu (19/7/2020) siang.

Baca juga: Saat Asia Disebut sebagai Pusat Bahaya Kolesterol...

Proses metabolisme pun akan berbeda-beda pada setiap orang, tergantung dari faktor usia juga kegiatannya.

"Dengan bertambahnya usia itu biasanya metabolisme menjadi lebih rendah. Oleh karena itu, yang tadinya kurus, ketika jadi tua dia lebih gemuk. Secara umur, metabolisme menjadi lebih rendah, (asupan) makannya sama, makanya tumpukan lemaknya lebih banyak," jelas Inge.

Sebenarnya cara untuk meningkatkan metabolisme tubuh adalah dengan banyak beraktivitas fisik entah berolahraga, atau yang lainnya, sehingga energi itu terpakai dan tidak mengendap di dalam tubuh.

Baca juga: Saat Covid-19 Jadi Penyebab Kematian Utama di AS Kalahkan Jantung...

3. Asupan makanan

Ilustrasi makanan kemasan untuk take away dan delivery menu buka puasa dari hotel.SHUTTERSTOCK/CHEBERKUS Ilustrasi makanan kemasan untuk take away dan delivery menu buka puasa dari hotel.

Faktor terakhir atau ketiga adalah asupan makanan.

Bukan banyak sedikitnya makanan yang diasup yang menjadi permasalahan dalam hal ini, namun kandungan energi tersembunyi di dalamnya.

"Misalnya sama-sama makan nasi, yang satu makan nasi goreng, yang satu makan nasi biasa. Nah pada nasi goreng itu ada energi tersembunyi. Walaupun sama-sama makan 100gr nasi, tapi satu digoreng itu ada kandungan minyak yang dia (pemakan) tidak berasa," papar dia.

Contoh lain adalah minuman bersoda dan air mineral. Dalam minuman bersoda, terkandung kalori yang tinggi, sementara air mineral tidak demikian.

"Ketika kita makan bersama-sama, mungkin makanan saat itu semuanya sama, jadi kita ngeliatnya kok dia enggak gemuk-gemuk, tapi kok saya gemuk. Itu sebenernya kita makan lebih banyak makanan yang mengandung sumber energi tersembunyi," ungkap Inge.

Baca juga: Selain Membuat Kulit Lebih Cantik, Ini Manfaat Tempe bagi Kesehatan

Apalagi, jika asupan tinggi energi tersembunyi tersebut tidak diimbangi dengan olahraga yang bisa meningkatkan metabolisme tubuh. Maka jangan heran ketika berat badan meningkat.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ahli Gizi Komunitas, Dr dr Tan Shot Yen.

Saat dihubungi terpisah ia menegaskan ada baiknya tidak buru-buru menyalahkan sistem metabolisme tubuh kita, tapi perhatikan betul apa saja yang kita asup sehingga tambahan berat badan itu datang.

"Paling enak nuduh yang enggak kelihatan kan (metabolisme)? Setuju metabolisme tidak sama, tapi sebelum menyasar ke sana, lebih bijak bikin jurnal apa yang dimakan dan diminum tiap hari. Jangan lupa jurnal jujur," ujar Tan, Minggu (19/7/2020) pagi.

Jurnal jujur yang dimaksud Tan adalah catatan asupan makanan yang kita konsumsi dalam setiap harinya.

Jangan lupa sertakan pula minuman yang kita konsumsi, jangan hanya makanannya.

Baca juga: Viral Video Batu Empedu Diduga Boba, Ini Penjelasannya

Minuman berasa, minuman mengandung boba, soda, gula, dan sebagainya, itu memiliki kandungan yang lebih banyak bagi tubuh, tapi seringkali kita abai.

"Makannya banyak dan sering, tapi tinggi serat dan kualitas, (itu) yang dibutuhkan tubuh. Ya aman dong? (Sementara) Makan dikit ya? Dikit tapi kalorinye gila?" sebutnya.

Soal metabolisme, Tan menyebut kerja tubuh seseorang akan berubah dan menurun ketika mendekai usia menopouse.

"Yang ngeluh-ngeluh tadi masih jauh dari menopause, kan? Metabolisme (mereka) turun karena rebahan, enggak olah raga. WFH beneran berteman dengan jok dan bantal," kata dia.

 Baca juga: 8 Makanan yang Baik untuk Penderita Diabetes

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: 11 Tanda Penyakit Jantung yang Sering Diabaikan

 

 


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.