Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenang Sapardi Djoko Damono, Sosok yang Menyukai Kesunyian

Kompas.com - 19/07/2020, 13:05 WIB
Vina Fadhrotul Mukaromah,
Sari Hardiyanto

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan sosok besarnya. Sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono mengembuskan napas terakhirnya hari ini, Minggu (19/7/2020) sekitar pukul 09.17 WIB.

Ia begitu dikenal dengan deretan karyanya, terutama puisi-puisi yang telah ditulisnya.

Kumpulan sajak pertamanya, Duka-Mu Abadi, diterbitkan pada 1969 silam. Setelah itu, ia pun rajin mengeluarkan kumpulan-kumpulan sajak baru.

Baca juga: Tutup Usia, Berikut Profil dan Karya Sapardi Djoko Damono...

Salah satu yang paling dikenal adalah Hujan Bulan Juni yang diterbitkan pada 1994 lalu.

Selain itu, ia juga telah memperoleh berbagai penghargaan atas prestasi dan perannya di dunia sastra, terutama di Indonesia.

Menyukai kesunyian

Sapardi Djoko Damono (59), penyair Indonesia masa kini yang bisa tenar di luar habitatnya. Sajak Sapardi Djoko Damono Aku Ingin dikutip orang, antara lain untuk undangan pernikahan. Foto diambil pada 10 Februari 1999.KOMPAS/Mathias Hariyadi Sapardi Djoko Damono (59), penyair Indonesia masa kini yang bisa tenar di luar habitatnya. Sajak Sapardi Djoko Damono Aku Ingin dikutip orang, antara lain untuk undangan pernikahan. Foto diambil pada 10 Februari 1999.

Melansir Harian Kompas, 23 Maret 2008, Sapardi Djoko Damono mengaku dapat menulis puisi di berbagai tempat, termasuk di kereta, pesawat, hingga bus yang riuh.

Namun, suasana tenang lebih mudah membuatnya mematangkan gagasan dan kata-kata.

Menurut dia, kata-kata lahir dari kepekaan mendengar, sedangkan dengaran yang total hanya dapat dicapai dalam ketenangan

"Penyair itu kudu punya kuping untuk mendengarkan nada-nada. Kata-kata yang dipakai dalam puisi itu kan sebenarnya bunyi. Bunyi itu kemudian diabadikan jadi aksara dalam halamn buku," kata Sapardi waktu itu.

Kesunyian dan ketenangan merupakan hal yang diidamkan oleh Sapardi. Kesenangannya pada ketenganan pun terlihat pada kediaman yang ia tinggali.

"Ruang-ruang yang longgar membuat hati lega. Tetapi, yang paling penting, saya memperoleh suasana tenang, sunyi," katanya.

Baca juga: Mengenang Aktor Didi Petet, dari Perjalanan Karier hingga Seni Teaternya...

Untuk menjaga suasana, Sapardi mengaku tidak memasang televisi maupun berlangganan koran. 

"Televisi itu mengganggu, siksaan. Bunyinya tak bisa dihindari, menguber kita terus. Sementara, berita di koran kan umumnya buruk-buruk, hanya bikin marah saja," ungkapnya.

Saat itu, ia juga memilih tinggal sendirian.

Pilihannya ini bukannya tanpa risiko. Pada tahun 1998, Sapardi pernah jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. 

Namun, ia tak kapok untuk kembali mencari kesunyian dengan menyendiri di rumahnya ini. 

Baca juga: Mengenang Sosok Marsinah, Aktivis Buruh yang Tak Mau Mengalah pada Nasib

Makna kesunyian bagi Sapardi

Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan dosen UI pada Temu Kritikus dan Sastrawan, 12-16 Desember 1984.KOMPAS/Don Sabdono Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan dosen UI pada Temu Kritikus dan Sastrawan, 12-16 Desember 1984.

Lantas, apa makna kesunyian bagi Sapardi?

"Sunyi itu menyentuh. Dalam sunyi, saya bisa dengarkan bunyi-bunyi yang paling lembut, termasuk bunyi dari tubuh sendiri," ungkapnya.

Untuk mencapai momen tersebut, Sapardi kerap kali tidur sore-sore agar bisa bangun pada dini hari, yaitu sekitar pukul 03.00 WIB.

Saat itulah ia menemukan rentang waktu yang paling sublim, yang merangsangnya menulis beragam karya sastra, mulai dari puisi, esai, atau cerita.

Ia melakukannya hingga waktu subuh tiba.

Baca juga: Mengenang Kurt Cobain, Ikon Musik Rock Modern


Dari kesunyian yang ia temukan inilah, sebagian besar karyanya lahir.

Kalangan sastra seringkali menyebut karya puisi Sapardi sebagai puisi liris, yaitu puisi yang memproses perkembangan pikiran dan perasaan yang subtil.

Alasannya adalah karena diksinya tajam, halus, dan rumit, tetapi tidak kentara.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Baca juga: Mengenang 25 Tahun Kepergian Nike Ardila, seperti Apa Perjalanan Hidupnya?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

BMKG: Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang pada 23-24 Mei 2024

BMKG: Wilayah Berpotensi Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang pada 23-24 Mei 2024

Tren
[POPULER TREN] Kronologi Singapore Airlines Alami Turbulensi | Skandal Transfusi Darah di Inggris

[POPULER TREN] Kronologi Singapore Airlines Alami Turbulensi | Skandal Transfusi Darah di Inggris

Tren
Sosok Pegi Setiawan, Terduga Pembunuh Vina Cirebon Ditangkap

Sosok Pegi Setiawan, Terduga Pembunuh Vina Cirebon Ditangkap

Tren
Pendaftaran STAN 2024: Link, Jadwal, Persyaratan, dan Cara Daftarnya

Pendaftaran STAN 2024: Link, Jadwal, Persyaratan, dan Cara Daftarnya

Tren
10 Pemain Sepak Bola Termahal di Dunia 2024: Bellingham, Haaland, dan Mbappe Berbagi Tempat

10 Pemain Sepak Bola Termahal di Dunia 2024: Bellingham, Haaland, dan Mbappe Berbagi Tempat

Tren
Ditutup 31 Mei 2024, Ini Cara Daftar Pembelian Elpiji 3 Kg Pakai KTP

Ditutup 31 Mei 2024, Ini Cara Daftar Pembelian Elpiji 3 Kg Pakai KTP

Tren
Jadwal KRL Solo-Jogja selama Libur Panjang Hari Raya Waisak

Jadwal KRL Solo-Jogja selama Libur Panjang Hari Raya Waisak

Tren
Kasus Kecelakaan akibat Turbulensi Pesawat Kian Meningkat karena Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Kasus Kecelakaan akibat Turbulensi Pesawat Kian Meningkat karena Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Tren
HET Beras Akan Naik Bulan Depan, Ini Perincian Harganya

HET Beras Akan Naik Bulan Depan, Ini Perincian Harganya

Tren
Jangan Sampai Keliru, Ini Perbedaan Teluk dan Tanjung

Jangan Sampai Keliru, Ini Perbedaan Teluk dan Tanjung

Tren
Ini yang Terjadi Saat Pesawat Singapore Airlines Alami Turbulensi

Ini yang Terjadi Saat Pesawat Singapore Airlines Alami Turbulensi

Tren
Berkaca dari Turbulensi Singapore Airlines, Bolehkah Penderita Penyakit Jantung Naik Pesawat?

Berkaca dari Turbulensi Singapore Airlines, Bolehkah Penderita Penyakit Jantung Naik Pesawat?

Tren
Penyebab Pesawat Alami Turbulensi seperti Singapore Airlines

Penyebab Pesawat Alami Turbulensi seperti Singapore Airlines

Tren
Cerita Penumpang Singapore Airlines Saat Turbulensi, Tanpa Peringatan dan Penumpang Terlempar dari Kursi

Cerita Penumpang Singapore Airlines Saat Turbulensi, Tanpa Peringatan dan Penumpang Terlempar dari Kursi

Tren
Jadwal Lengkap Piala AFF 2024 dan Pembagian Grupnya

Jadwal Lengkap Piala AFF 2024 dan Pembagian Grupnya

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com