Mendaras Zaman Kiwari

Kompas.com - 17/07/2020, 15:37 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.


VIRUS dan vaksin yang telah menjadi tema perbincangan kita sejak akhir 2019 lalu, secara berangsur mulai dilupakan.

Hagia Sophia yang lama tertidur dalam rahim peradaban, malah kembali mencuat ke permukaan sejarah umat beragama. Graha monumental peninggalan Romawi ini memang dirancang sebagai vulgata.

Lalu Dinasti Ottoman memasjidkannya melalui keputusan Al-Fatih (Sultan Mehmed II). Turki modern lantas memuseumkan segala riwayat tersebut, dan Presiden Erdogan tiba-tiba mengikuti lagi jejak leluhurnya.

Dunia Kristen pun geger seketika. Alhasil, arkaik peradaban besar itu hanya sekadar ajang perebutan sentimen keberagamaan sahaja.

Sampai awal Juli 2020 ini, ternyata kita masih berkutat pada sebuah keadaan yang lama mengendap dalam bawah sadar manusia terkini. Ribuan tahun perjalanan agama langit, rupanya belum juga menumbuhkan kesadaran baru.

Agama kian terselubungi ikonoklastik, dogma semu, doktrin palsu. Sinagog, gereja, atau masjid, padahal bukan bagian ultim dari agama.

Bangunan itu produk kebudayaan manusia. Ia bisa berubah atau tetap. Tergantung bagaimana konsep yang kita sepakati sepanjang keberadaannya di lintasan peradaban.

Setelah setengah abad lebih manusia terasing dari dan di dalam rumahnya sendiri, alam kembali mengajak kita pulang.

Pandemi dan kita

Pandemi yang sedang bersiap tinggal landas meninggalkan kita, turut berjasa mengajari manusia tentang begitu banyak hal yang kadung ia lupakan.

Rumah dan keluarga kita kembali semarak. Kehangatannya terasa hingga ke sumsum tulang belakang. Suami-istri menemukan lagi arti ikatan perkawinan mereka. Orangtua dan anak mulai saling menyadari fungsi mereka dalam keluarga.

Ada begitu banyak hal yang telah berlangsung selama berbulan lamanya kita mendekam di rumah. Pola hidup, pranata kehidupan, cara berpikir, prilaku sosial, serta laku keberagamaan, pelahan tapi pasti, mulai beranjak ke periode baru yang belum pernah terbayangkan sama sekali.

Presedennya tak sempat kita kenali. Internet yang selama satu dasawarsa ini hanya berguna untuk berselancar informasi-data, ternyata sudah berada di garda depan untuk mengurusi hajat hidup manusia sedunia.

Mata pencaharian, cara kita belajar, bergaul, berkeluarga, bertumbuh, beragama, bernegara, berbangsa, telah berubah total.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X