Berikut Analisis Lapan soal Banjir di Luwu Utara

Kompas.com - 17/07/2020, 09:50 WIB
Banjir yang merendam Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sejumlah warga memilih mencari tempat yang aman karena khawatir banjir susulan akan kembali terjadi, Sabtu (8/6/2019). KOMPAS.COM/AMRAN AMIRBanjir yang merendam Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sejumlah warga memilih mencari tempat yang aman karena khawatir banjir susulan akan kembali terjadi, Sabtu (8/6/2019).

KOMPAS.com - Banjir bandang sempat menerjang Masamba, di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada Senin (13/7/2020).

Diberitakan KOMPAS.com (14/7/2020), banjir disebabkan lantaran meluapnya sungai yang membuat akses jalan tertutup lumpur dengan ketinggian beragam.

Banjir di Luwu Utara sempat mengundang keprihatinan banyak pihak bahkan memunculkan trending tagar #prayformasamba dan #banjirluwuutara di Twitter.

Baca juga: Viral hingga Trending, Ini Cerita di Balik Video Dirut KAI Naik Rakit Saat Tinjau Banjir

Sejauh ini, setidaknya 19 orang telah meninggal dunia akibat banjir tersebut.

Sementara itu, menurut Kepala Pelaksana BPBD Luwu Utara Muslim Muchtar terdapat 15.000 jiwa yang mengungsi akibat banjir bandang tersebut.

Banjir bandang tersebut, menuut BMKG diakibatkan oleh hujan lebat yang dipengaruhi suhu muka laut di Teluk Bone.

Selain BMKG, Lapan juga menganalisis banjir yang terjadi di Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan tersebut.

Baca juga: Belajar dari Jepang yang Punya Sejarah Panjang soal Banjir...

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X