Mengintip Budaya Antre di Tengah Pandemi Corona...

Kompas.com - 08/07/2020, 13:05 WIB
Calon penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line antre di Stasiun Kota Bogor, Selasa (9/6/2020). Pihak stasiun menerapkan protokol kesehatan kepada para penumpang antara lain penerapan pembatasan jumlah kapasitas penumpang di dalam gerbong KRL. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOCalon penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line antre di Stasiun Kota Bogor, Selasa (9/6/2020). Pihak stasiun menerapkan protokol kesehatan kepada para penumpang antara lain penerapan pembatasan jumlah kapasitas penumpang di dalam gerbong KRL.

KOMPAS.com - Pemandangan atre dengan menjaga jarak terlihat familiar di tengah pandemi corona. Hal itu semakin kentara sewaktu antrean menunggu kereta rel listrik ( KRL) di sejumlah stasiun di Jabodetabek.

Pemandangan tersebut seperti terlihat di Stasiun Bogor pada Senin (6/7/2020).

Deretan barisan penumpang memenuhi hingga ke area jalur pedestrian dan lokasi parkir di Stasiun Bogor.

Akun Twitter resmi milik PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) @CommuterLine menginformasikan, terjadi antrean yang cukup panjang.

Foto yang diunggah di akun tersebut, hingga pukul 07.20 WIB, memperlihatkan kondisi penumpukan penumpang hingga mengular ke area parkir.

Baca juga: Melihat Fenomena 10 Juta Kasus Covid-19 di Dunia...

Antre mengandung beberapa dimensi sosiologis

Pengamat sosial dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta) Drajat Tri Kartono menyebut, budaya antre memiliki beberapa dimensi sosiologis.

Pertama, antre merefleksikan atau merepresentasikan sebuah nilai-nilai tentang kehidupan yang populis.

"Artinya kerakyatan, tidak elit. Sebuah kehidupan kesetaraan atau kehidupan yang egaliter. Ini lawan dari sebuah kultur atau kebiasaan yang primordial yang elitis atau hierarki," kata Drajat saat dihubungi Kompas.com, Rabu (8/7/2020).

Baca juga: 8 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Naik Kereta di Masa Adaptasi New Normal

Hierarki, menurut Drajat akan mengutamakan yang lebih tinggi jabatan atau yang lebih hebat dan kaya.

Oleh karena itu, budaya antre tersebut sangat tidak cocok untuk masyarakat yang sangat kental hierarkinya.

"Tetapi harus pada masyarakat yang lebih egaliter atau populis itu tadi. Karena dengan kesetaraan itu ada penghargaan sesama manusia apa pun jenis dan latar belakangnya itu dihargai sama," terang Drajat.

"Sehingga kalau ada yang datang lebih dahulu, ya dia dapat tempat di depan, kalau datang terakhir, ya dapat tempat di belakang," imbuhnya.

Baca juga: Viral Video Masinis Beli Makanan Saat Kereta Berhenti di Perlintasan, Ini Penjelasan PT KAI

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X