Klaim Antivirus Corona, Epidemiolog: Menurunkan Kewaspadaan Masyarakat

Kompas.com - 05/07/2020, 18:15 WIB
ilustrasi minyak kayu putih (eucalyptus) shutterstockilustrasi minyak kayu putih (eucalyptus)

KOMPAS.com - Klaim mengenai suatu produk yang dapat menjadi obat atau antivirus corona ramai diperbincangkan masyarakat. Padahal obat dan antivirus yang resmi dan disepakati ahli dan badan kesehatan dunia masih dalam proses penelitian. 

Seperti pada awal pandemi, ramai soal empon-empon yang disebut-sebut dapat mencegah virus corona

Pada akhir April, Satgas lawan covid DPR-RI mengimpor jamu dari China yang diklaim menyembuhkan pasien virus corona. Hal ini kemudian diprotes Gabungan Pengusaha (GP) Jamu. 

"Kenapa Satgas lawan covid DPR-RI rekomendasi itu karena herbal Vit teruji bisa menyembuhkan. Salah satu pimpinan DPR bersama 6 anggota keluarga terpapar Corona, setelah minum itu herbal Vit-19 sembuh," ujar Anggota Komisi IV DPR Andre Rosiade dikutip dari Kontan, (27/4/2020). 

Sementara yang terbaru adalah ramai mengenai kalung eucalyptus yang diklaim sebagai antivirus corona dan akan diproduksi Kementerian Pertanian. 

Sebelum itu, dikutip dari Kompas.com (19/5/2020), beberapa prototype teknologi berbasis minyak eucalyptus sebagai antivirus disebut dihasilkan atas kolaborasi beberapa unit kerja di bawah Balitbangtan.

Di antaranya Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) telah terdaftar paten, antara lain:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Formula Aromatik Antivirus Berbasis Minyak Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003578

2. Ramuan Inhaler Antivirus Berbasis Eucalyptus dan Proses Pembuatannya dengan nomor pendaftaran paten P00202003574

3. Ramuan Serbuk Nanoenkapsulat Antivirus Berbasis Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003580

4. Minyak atsiri eucalyptus citridora sebagai antivirus terhadap virus avian influenza subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus.

Baca juga: Kontroversi Kalung Eucalyptus, Diklaim Antivirus Corona...

Mekanisme dan prosedur ilmiah

Melihat beberapa klaim temuan tersebut, epidemiolog dr Dicky Budiman mengatakan, secara mekanisme atau prosedur ilmiah, satu tanaman dapat menjadi produk jadi atau obat, rata-rata membutuhkan waktu 15-20 tahun penelitian.

Riset memang tetap harus dilakukan dan dilihat, meskipun pada tumbuhan tersebut benar ditemukan suatu kandungan antivirus.

"Karena umumnya tumbuhan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan satu ekstrak yang dibutuhkan. Umumnya itu tidak efisien," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Minggu (5/7/2020).

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.