Menyoal Rencana Pemindahan Pasien Covid-19 Surabaya ke Pulau Galang

Kompas.com - 03/07/2020, 19:05 WIB
Foto aerial progres pembangunan rumah sakit khusus Corona (COVID-19) di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (25/3/2020). Progres pembangunan rumah sakit Khusus Corona (COVID-19) secara keseluruhan telah mencapai 78 persen dan ditargetkan selesai dan siap untuk digunakan akhir bulan Maret 2020. ANTARA FOTO/M N KANWAFoto aerial progres pembangunan rumah sakit khusus Corona (COVID-19) di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (25/3/2020). Progres pembangunan rumah sakit Khusus Corona (COVID-19) secara keseluruhan telah mencapai 78 persen dan ditargetkan selesai dan siap untuk digunakan akhir bulan Maret 2020.

 

KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mempertimbangkan untuk mengirim pasien Covid-19 Surabaya dengan gejala ringan atau sedang ke Pulau Galang.

Pertimbangan itu muncul untuk mengurangi beban rumah sakit yang terus bertambah setiap harinya.

"Kami akan pertimbangkan bersama-sama. Ini untuk mengurangi beban rumah sakit yang ada di Surabaya khususnya di RSUD dr Soetomo," kata Muhadjir, Selasa (30/6/2020) malam.

Baca juga: Mengapa Kasus Covid-19 di Jawa Timur Melonjak? Ini Penjelasan Epidemiolog...

Nantinya, pasien-pasein tersebut akan dipindahkan dengan menggunakan transportasi yang telah disiapkan oleh TNI AU.

Menanggapi hal itu, epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo menganggap rencana tersebut aneh. Sebab, masih ada tempat isolasi non-rumah sakit di Jawa Timur yang tersedia.

"Ya aneh saja menurut saya. Mengapa harus dipindah ke Pulau Galang yang sejauh itu. Padahal di Jatim ada RS Darurat juga tempat-tempat isolasi khusus non-rumah sakit, seperti Asrama Haji dan beberapa hotel yang belum overload," kata Windhu kepada Kompas.com, Jumat (3/7/2020).

Baca juga: Mengenal Darurat Bencana Hidrometeorologi yang Ditetapkan Khofifah di Jawa Timur

Protokol kesehatan

Gambar ilustrasi: Dokter berbincang dengan pasien anak berstatus Orang Tanpa Gejala COVID-19 di halaman samping mess karantina Rusunawa IAIN Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/06). ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/wsj Gambar ilustrasi: Dokter berbincang dengan pasien anak berstatus Orang Tanpa Gejala COVID-19 di halaman samping mess karantina Rusunawa IAIN Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/06).

Meski kapasitas RS Rujukan saat ini mulai terbatas, khususnya RSUD, tapi masih ada banyak kamar di RS Rujukan swasta yang tersedia.

"Tapi secara umum kalau dirata-rata kapasitas RS Rujukan sudah kritis karena kapasitasnya kurang dari 120 persen dari estimasi pasien Covid-19 gejala sedang-berat yang membutuhkan perawatan," jelas dia.

"Peningkatan kapasitas rumah sakit harus terus dilakukan oleh Pemda, terutama untuk RSUD yang dimilikinya dan sangat diperlukan sebuah RS Khusus Covid-19," sambungnya.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Zona Hitam di Surabaya dan Mengapa Bisa Terjadi?

Namun, peningkatan kapasitas rumah sakit itu harus diimbangi dengan kemampuan dalam memutus rantai virus corona di hulu.

Pasalnya, pengendalian kedisiplinan warga dalam mematuhi protokol kesehatan sejauh ini sangat lemah, sehingga warga pun banyak yang tak memakai masker.

Menurutnya, pengendalian ini harus melalui peraturan sekaligus memberlakukan sanksi tegas, seperti denda.

Baca juga: Melihat Fenomena 10 Juta Kasus Covid-19 di Dunia...

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X