Cerita Pandemi dari Lembah Tidar

Kompas.com - 03/07/2020, 09:00 WIB
Penyemprotan disinfektan di lingkungan Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah. IMELDA BACHTIARPenyemprotan disinfektan di lingkungan Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah.

 


SIAPA yang tahu pandemi akan datang. Siapa yang tahu pula pandemi ini akan berlangsung berbulan, bahkan mungkin bertahun. Ini memang tahun yang istimewa bagi dunia.

Masyarakat masih bergerak dengan super hati-hati karena infeksi masih terus terjadi. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi terminologi populer yang selalu terdengar dan dibaca di mana pun. Televisi, radio, koran membahasnya dalam aneka talkshow pengisi waktu panjang di rumah saja.

Masker yang selalu dipakai dan jarak yang selalu dijaga adalah protokol minimal yang selama ini sudah dianggap kewajaran yang baru.

Cerita dari Lembah Tidar

Akademi Militer di Lembah Tidar, Magelang, tak terkecuali juga mengalami goncangan ini.

Irama keteraturan militer yang pasti yang biasanya melingkungi Magelang, kini diganti dengan protokol Covid-19 yang serba baru dan tak bisa ditebak perkembangannya.

Seperti seluruh warga dunia, Akademi Militer melakukan lockdown dan menutup pintu dari keluar-masuk orang ke dalam Akmil. Suram dan sedih suasana para taruna? Tentu saja.

Gubernur Akademi Militer Mayjen Dudung Abdurachman mengatakan, siapa pun pasti jatuh mental dalam minggu-minggu pertama, tetapi justru dari suasana yang prihatin inilah jiwa kepemimpinan para taruna, calon pemimpin Indonesia masa depan semakin terasah.

“Ketika pandemi datang dan semua tak terkecuali harus ‘terkunci’ dalam ksatrian, tidak boleh keluar asrama, di sinilah ternyata pentingnya tegar dan kuat memotivasi diri sendiri. Saya katakan, mereka harus terima kenyataan tidak bisa mudik lebaran tahun ini. ‘Kalau kalian ada di daerah operasi militer, bisa 7 tahun kalian tidak ketemu orang tua. Saya mengalami itu’. Mereka semangat lagi mendengarnya. Mukanya cerah,” cerita Dudung tentang bagaimana ia membangkitkan semangat para taruna Lembah Tidar.

Sebagai prajurit, Dudung pernah bertugas 7 tahun di wilayah operasi dan tidak dapat bertemu dengan orang tuanya. Begitulah tentara, siap ditugaskan ke mana negara membutuhkan. Mental seperti itulah yang harus dimiliki para taruna.

Karena pandemi, semua kegiatan penting pun berubah. Dalam jadwal resmi, Akademi Militer seharusnya melaksanakan Latsitardanus (Latihan Terintegrasi Taruna Dewasa Nusantara) ke-40 yang akan berlangsung di Manado, Sulawesi Utara, 16 Maret lalu.

Para taruna tingkat empat pesertanya, sudah mengepak semua keperluan pribadi yang akan dibawa selama masa latihan yang akan digabung dengan tiga angkatan lain: Akademi Angkatan Udara, Akademi Angkatan Laut dan Akademi Kepolisian.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X