Update Virus Corona Dunia 2 Juli: 10,7 Juta Orang Terinfeksi | Sekolah di Korea Utara Kembali Dibuka

Kompas.com - 02/07/2020, 08:34 WIB
Lembaga non-profit yang didirikan Jeffrey Newman bersama para sukarelawan membagikan tas ransel berisi perlengkapan yang dibutuhkan di masa pandemi Covid-19. Tas ransel dibagikan ke sejumlah tunawisma,  utamanya di New York. Dok. Jeffrey Newman via GMALembaga non-profit yang didirikan Jeffrey Newman bersama para sukarelawan membagikan tas ransel berisi perlengkapan yang dibutuhkan di masa pandemi Covid-19. Tas ransel dibagikan ke sejumlah tunawisma, utamanya di New York.

KOMPAS.com – Angka kasus infeksi virus corona di dunia terus meningkat setiap harinya hingga hari ini, Kamis (2/7/2020).

Melansir data Worldometers, tercatat 10.789.441 kasus Covid-19. Dari angka itu, jumlah kematian sebanyak 517.974 orang, dan 5.928.941 orang lainnya telah dinyatakan sembuh.

Berikut 10 negara dengan jumlah kasus terbanyak:

  1. Amerika Serikat: 2.776.264 kasus, 130.770 orang meninggal dunia, dan 1.159.577 orang sembuh.
  2. Brazil: 1.453.369 kasus, 60.713 orang meninggal dunia, dan 826.870 orang sembuh.
  3. Rusia: 654.410 kasus, 9.536 orang meninggal dunia, dan 422.930 orang sembuh.
  4. India: 605.220 kasus, 17.848 orang meninggal dunia, dan 359.890 orang sembuh.
  5. Inggris: 313.480 kasus, 43.906 orang meninggal dunia.
  6. Spanyol: 296.740 kasus, 28.363 orang meninggal dunia.
  7. Peru: 288.480 kasus, 9.860 orang meninggal dunia, dan 178.250 orang sembuh.
  8. Chile: 282.040 kasus, 5.753 orang meninggal dunia, dan 245.440 orang sembuh.
  9. Italia: 240.760 kasus, 34.788 orang meninggal dunia, dan 190.720 orang sembuh.
  10. Iran 230.210 kasus, 10.958 meninggal dunia, 191.490 semuh.

Berikut sejumlah perkembangan terkait virus corona di dunia:

Bank Dunia

Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan, pandemi virus corona yang terjadi memperburuk situasi ketidaksetaraan di seluruh dunia.

Mereka yang berada di negara berkembang yang ekonominya sulit kian terpukul tanpa jaring pengaman sosial.

Sementara, mereka yang di negara maju bisa melakukan pembelian aset bank sentral sehingga semakin menguntungkan yang kaya.

“Pandemi adalah malapetaka bagi negara berkembang yang akan membawa kerusakan jangka panjang dan output ekonomi global tak akan pulih ke tingkat pra pandemi selama bertahun-tahun,” ujar Malpass, seperti dikutip dari Aljazeera.

Baca juga: Luhut: Bank Dunia Naikkan Indonesia Jadi Upper Middle Income Country

Amerika Serikat

Puluhan diplomat AS menunda rencana mereka kembali ke China pada akhir Juli 2020.

Penundaan ini karena AS gagal bersepakat dengan Beijing terkait pengujian Covid-19 dan soal karantina.

Halaman:
Baca tentang

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X