Unggahan Bekal untuk Suami dan Perdebatan soal Peran Perempuan...

Kompas.com - 30/06/2020, 18:02 WIB
Ilustrasi perempuan ShutterstockIlustrasi perempuan

KOMPAS.com - Di media sosial, apa saja bisa memancing perdebatan. Termasuk unggahan seseorang yang berbagi inspirasi soal bekal yang disiapkan untuk suaminya.

Beberapa hari lalu, ada perbincangan yang memicu perdebatan warganet soal peran perempuan yang berawal dari unggahan bekal untuk suami ini.

Pengguna Twitter membagikan resep bekal untuk suami yang biasa ia buat setiap hari. Ia juga bercerita bahwa kebiasaan ini ia lakukan bukan karena permintaan suaminya, melainkan karena ia memang suka memasak dan apresiasi yang diberikan suami atas masakannya.

Jika melihat utas atau rangkaian twitnya, si pengunggah membagikan foto bekal makanan dan persiapan bahan masakan berikut resepnya.

Banyak yang menyukai unggahan ini. 

"Kalo liat beginian jd pengen punya suami, terus masakin buat dia. Tp masalahnya, aku belum punya calon + masih belum bisa masak-masak yg kayak gini. Jadi gak nikah dulu deh," tulis seorang pengguna akun.

Namun, ada pula yang merespons sebaliknya. Misalnya, ada yang mempertanyakan, kenapa hanya ada bekal untuk suami dan tidak bekal untuk istri. Ada yang berkomentar, memasak seharusnya bukan hanya tanggung jawab istri atau perempuan.

"'Its' just cooking and not that deep' is often used to justify the unpaid labour carried out by women as well as low wage of women domestic workers," komentar seorang pengguna Twitter.

Mereka yang kontra menilai, kepopuleran thread itu bisa dijadikan justifikasi atau pembenaran bahwa perempuan harus bisa memasak, perempuan harus mengabdi pada suaminya, dan perempuan harus terampil dalam urusan domestik.

Karena perdebatan ini, sempat muncul trending #bekaluntuksuami di Twitter. Tagar ini disertakan warganet saat meunggah foto-foto bekal makanan atau masakan yang mereka buat.

Bagaimana melihat dua pandangan soal ini? Mengapa ada yang menganggap unggahan seperti ini meletakkan perempuan pada peran-peran domestik?

Perempuan dapat memilih

Peneliti isu gender yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Rouli Esther Pasaribu, menilai, melihat perdebatan soal ini, yang harus diperhatikan adalah masalah pilihan.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X