Dunia Hitam, Debt Collector, dan Premanisme

Kompas.com - 29/06/2020, 11:15 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.

Sebelum mendatangi rumah itu, kami meminta izin terlebih dahulu kepada RT setempat. Kemudian, kami bergegas ke rumah tersebut.

Bisa Anda bayangkan, dua kelompok pemuda dari timur Indonesia bertemu dalam kepentingan yang berseberangan. Bisa ditebak: ketegangan pun terjadi di depan rumah.

Kelompok penjaga rumah terlihat lebih banyak. Mereka nongkrong di halaman rumah dan berteriak meminta kami pulang.

Salah satu dari anggota kelompok Marsyel berhasil masuk dan melobi agar keributan tak sampai terjadi.

Meski demikian beberapa dari mereka berjaga ketat di halaman rumah. Kami tak diizinkan sama sekali masuk dan mengambil gambar. Suasana yang luar biasa, belum pernah saya temui sebelumnya!

Lebih tertata

Terlepas dari ketegangan yang terjadi dan potensi bahaya yang mengancam jiwa maupun hukum, hidup mereka lebih tertata. Bahkan, tak sedikit yang jauh lebih sejahtera.

Padahal, sebelumnya banyak dari mereka yang keluar masuk penjara, entah karena kasus penganiayaan atau pembunuhan.

Pertanyaannya, seberapa kuat mereka bertahan?

Satu kunci, manusia adalah makhluk Tuhan yang tak bisa hidup sendiri. Setiap kita layak saling memberi kepedulian bagi satu dengan yang lain, apa pun bentuknya.

Meski sulit dibayangkan dunia akan sepenuhnya aman, tapi setidaknya sejarah dan peradaban mencatatnya, atas nama Tuhan.

Saya Aiman Witjaksono.
Salam!

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X