Dunia Hitam, Debt Collector, dan Premanisme

Kompas.com - 29/06/2020, 11:15 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.


SAYA melihat langsung bagaimana aktivitas debt collector, bagaimana mereka bekerja di lapangan, potensi gesekan dengan kelompok lain yang dibayar untuk menjaga. Saya melihat kelamnya dunia hitam mereka.

Kasus John Kei seolah membuka mata. Premanisme masih ada dan kadang merajalela. Senjata api mereka kuasai. Tujuh tembakan mereka muntahkan. Pedang panjang mereka hunus.

Sampai saat ini polisi masih terus mencari keberadaan senjata api yang digunakan. Tak kurang sang "Godfather of Jakarta", begitu warga dunia maya menyebutnya, ditahan bersama puluhan anggota kelompoknya.

Pasal yang dikenakan tidak main-main. Selain pasal pengeroyokan, ada pula pasal pembunuhan berencana, yaitu Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal ini merupakan pasal yang penghilangan nyawa yang paling pamungkas. Ancaman hukuman maksimal adalah mati!

Pasal tersebut berbunyi, "Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun.”

John Kei, terancam pasal ini.

Melalui pengacaranya yang saya wawancara pada program Sapa Indonesia Malam, Selasa, (23/6/2020), John Kei menyangkal terlibat perencanaan pembunuhan yang belakangan mengakibatkan kerabat Nus Kei, Yustus Corwing Rahakbauw alias Erwin, tewas secara brutal: dilukai dengan senjata tajam sebelum dilindas dengan mobil minibus yang dikendarai kawanan ini.

Kasus pribadi John Kei dengan pamannya yang kebetulan seusia, Nus Kei, berujung pada pembunuhan.

Satu orang tewas, 3 orang terluka, termasuk Satpam dan pengendara ojek online yang terkena tembakan senjata api di dekat rumah Nus Kei di kawasan Cipondoh, Tangerang, Banten, masih berproses.

Bagaimana agar peristiwa tak berulang? Bagaimana mencegah mereka merajalela membuat onar? Kasusnya memang pribadi, tapi trauma bagi warga adalah abadi.

Ada banyak kelompok serupa di kota besar, mayoritas di Jabodetabek. Mereka berada di dunia hitam yang sama, tapi tak semua dari mereka berujung kelam. Ada yang berbenah, menata hidup lebih tenteram, sadar hukum, dan sopan meski seram.

Satu darah

Saya mengunjungi mereka di sebuah tempat di Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Marsyel Ririhena nama pimpinan mereka. Satu Darah nama organisasinya.

Ada banyak unit usahanya. Ada jasa satuan pengamanan (satpam) resmi dengan seragam safari; ada klub olahraga bela diri profesional yang masuk dalam program TV terkenal; juga ada jasa penagihan utang (debt collector).

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X