Kompas.com - 23/06/2020, 12:05 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Pemerintah mengimbau masyarakat agar tetap menjalankan protokol kesehatan di masa pandemi dan menuju fase new normal atau tatanan kehidupan baru.

Selain mengenakan masker, masyarakat juga diminta untuk tetap menjaga jarak.

Diketahui virus corona menular melalui droplets pernapasan yang dikeluarkan oleh seseorang yang terinfeksi.

Baca juga: Hampir 80 Persen Kasus Covid-19 Tak Bergejala, Ini Fakta soal OTG

 

Penularan Covid-19 dapat terjadi tidak hanya dari orang sudah diketahui terinfeksi, tetapi juga dari orang yang tidak menunjukkan gejala OTG).

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto menegaskan penularan virus corona di masyarakat masih terjadi hingga saat ini.

Berdasarkan data pemerintah yang masuk hingga Senin pukul 12.00 WIB, ada 954 kasus baru Covid-19. Hal ini menyebabkan ada 46.845 kasus Covid-19 di Indonesia terhitung sejak kasus pertama diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020.

Baca juga: 4 Alasan Biaya Penanganan Pasien Covid-19 sampai Ratusan Juta Rupiah

Lantas, mengapa kita harus tetap menggunakan masker saat pandemi virus corona?

Menghambat penularan Covid-19

Dikutip dari laman resmi WHO, penggunaan masker dapat menghambat terjadinya penularan virus corona melalui droplet dari orang yang terinfeksi.

Masyarakat dapat menggunakan masker berbahan kain dengan mempertimbangkan beberapa hal:

  • Jumlah lapisan kain/tisu
  • Kemudahan bernapas yang diberikan bagi pengguna dari bahan masker
  • Sifat kedap air/hidrofobik
  • Bentuk masker
  • Kesesuaian ukuran masker

Baca juga: Masih Perlukah Masker Saat Memakai Face Shield?

WHO menekankan bahwa masker medis dan respirator harus diprioritaskan bagi tenaga kesehatan.

Namun, saat ini belum ada bukti bahwa mengenakan masker (baik masker medis atau jenis lainnya) oleh orang sehat di tengah masyarakat secara umum, termasuk penggunaan masker secara bersama-sama pada masyarakat luas, dapat mencegah dari infeksi Covid-19.

Namun, penggunaan masker saja tidak cukup dalam memberikan tingkat perlindungan yang memadai dan diperlukan langkah-langkah lain.

Misalnya, rajin mencuci tangan, mematuhi aturan jaga jarak, dan melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Baca juga: Hadapi New Normal, Masih Perlukah Mengenakan Masker?

Tata laksana masker

Penggunaan dan pembuangan masker terlepas dari jenisnya, penting untuk dilakukan dengan benar.

Hal itu untuk memastikan masker tersebut efektif dan untuk menghindari peningkatan penularan.

Berikut cara penggunaan dan pembuangan masker sesuai anjuran WHO:

  1. Tempatkan masker dengan hati-hati, pastikan masker menutup mulut dan hidung, dan kaitkan dengan kuat untuk meminimalisasi jarak antara wajah dan masker.
  2. Hindari menyentuh masker saat digunakan.
  3. Lepas masker dengan teknik yang benar: jangan menyentuh bagian depan masker, melainkan lepaskan masker dari belakang.
  4. Setelah melepas atau setiap kali tidak sengaja menyentuh masker yang terpakai, bersihkan tangan dengan cairan antiseptik berbahan dasar alkohol atau sabun dan air mengalir jika tangan terlihat kotor.
  5. Segera ganti masker saat masker menjadi lembap dengan masker baru yang bersih dan kering.
  6. Jangan gunakan kembali masker sekali pakai.
  7. Buang masker sekali pakai setelah digunakan dan segera buang setelah dilepas.

Baca juga: Meninggal karena Menggunakan Masker Saat Olahraga, Benarkah Demikian?

Jenis-jenis masker

Mengutip Antara, terdapat tiga jenis masker terbaik yang dapat melindungi masyarakat dari paparan virus corona.

Respirator

Contoh masker N95 yang akan dikirimkan BNPB untuk WNI yang ada di ChinaBNPB Contoh masker N95 yang akan dikirimkan BNPB untuk WNI yang ada di China

Respirator teruji bahwa bahannya yang terbuat dari serat lembut sangat efektif dalam menyaring patogen di udara.

Respirator ini harus memenuhi standar ltrasi ketat yang ditetapkan oleh Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (NIOSH).

Diameter virus korona diperkirakan 125 nanometer (nm). Dengan mengingat hal ini, sebaiknya Anda perlu mengetahui bahwa:

Respirator N95 dapat menyaring 95 persen partikel yang berukuran 100 hingga 300 nm.

Baca juga: Harga Masker dan Hand Sanitizer Kembali Normal, Apa Saja Faktor Penyebabnya?

Sementara itu, respirator N99 memiliki kemampuan untuk menyaring 99 persen dari partikel-partikel ini.

Dan, respirator N100 dapat menyaring 99,7 persen dari partikel-partikel sebesar virus.

Beberapa respirator ini memiliki katup yang memungkinkan udara yang dihembuskan keluar, sehinggamemudahkan pengguna untuk bernapas.

Namun, kelemahan dari alat ini adalah bahwa orang lain rentan terhadap partikel dan patogen yang diembuskan melalui katupnya.

Baca juga: Berkaca dari Indira Khalista, Mengapa Masih Banyak Masyarakat yang Ogah Pakai Masker?

Masker bedah

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat meninjau salah satu produsen APD, masker bedah, dan baju hazmat, PT. Multi One Plus di Kabupaten Bogor, Rabu (15/4/2020).Humas Pemprov Jabar Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat meninjau salah satu produsen APD, masker bedah, dan baju hazmat, PT. Multi One Plus di Kabupaten Bogor, Rabu (15/4/2020).

Ada berbagai jenis masker bedah. Biasanya, masker sekali pakai ini berbentuk persegi panjang dengan lipatan yang membentang menutupi hidung, mulut, dan garis rahang Anda.

Bahannya terdiri dari kain sintetis yang relatif nyaman untuk bernapas. Tidak seperti respirator, masker bedah tidak harus memenuhi standar ltrasi NIOSH.

Mereka tidak diharuskan membentuk segel kedap udara di area wajah Anda yang tertutupi.

Seberapa baik masker bedah menyaring patogen sangat bervariasi, dengan laporan berkisar antara 10 hingga 90 persen.

Meskipun terdapat perbedaan dalam kapasitas dan ltrasi, sebuah percobaan acak menemukan bahwa masker bedah dan respirator N95 mengurangi risiko partisipan berbagai penyakit pernapasan dengan cara yang sama.

Baca juga: Menilik Bagaimana Penutup Wajah atau Masker Dapat Mengurangi Penyebaran Covid-19

Masker kain

Ilustrasi masker kainBill Roque Ilustrasi masker kain

Masker kain kurang efektif melindungi pemakai karena sebagian besar memiliki celah di dekat hidung, pipi, dan rahang di mana tetesan kecil dapat dihirup.

Selain itu, kain sering keropos dan tidak bisa menahan tetesan kecil.

Meskipun masker kain cenderung kurang efektif daripada masker kelas medis, hasil percobaan menunjukkan ini jauh lebih baik daripada tidak bermasker dan dikenakan dengan benar.

Baca juga: Pencegahan Virus Corona, Barack Obama dan Perlu Tidaknya Penggunaan Masker...

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Cara Penggunaan Masker Kain

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.