Belajar dari Jepang, Simak agar Tak Jadi Pesepeda yang Menyebalkan

Kompas.com - 23/06/2020, 06:05 WIB
Sepeda di Jepang longtaildog / Shutterstock.comSepeda di Jepang

KOMPAS.com – Bersepeda saat ini menjadi salah satu aktivitas yang digandrungi oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Meski demikian, keluhan tentang pengguna sepeda yang cenderung cuek saat bersepeda di jalan raya juga banyak dikeluhkan oleh warganet di media sosial.

“KSEL BGT SM YG GOWES GOWES NAIK SEPEDA. pd jejer jejer ber 2 ber 3 gatau aturan anjir yg di belakang pake motor susah mau nyalip woi jd lama dijalan kan asw,” keluh warganet di Twitter dengan akun @saladbuahnyakak.

Warganet @customerbacot juga mengunggah sebuah video tentang kecelakaan sepeda ontel dan sepeda motor yang berawal dari rombongan pesepeda yang memenuhi badan jalan.

Di Indonesia tuh kalau ada tren juga bakal ada turunan masalahnya. Contohnya ini,” tulisnya mengawali utas yang ia buat.

Lebih paham bapak ibu petani yg berangkat ke sawah naik sepeda itu convoynya satu baris ga menuhin jalan,” tulisnya di utas selanjutnya.

Sampai kini, unggahan tersebut telah dibagikan ulang lebih dari 10.000 kali dan disukai lebih dari 11.000 pengguna.

Baca juga: Hobi Bersepeda Selama Pandemi Corona, Kesadaran atau Hanya Latah?

Bagaimana agar tetap aman bersepeda?

Agar tetap aman baik bagi diri sendiri maupun pengguna jalan lain, ada baiknya kita sedikit mengintip bagaimana aturan bersepeda di negara Jepang.

Negara yang terkenal dengan keteraturannya ini memiliki beberapa peraturan terkait pesepeda, yakni:

1. Pesepeda harus menggunakan jalan raya

Melansir dari situs web Kantor Kabinet Pemerintah Jepang, sepeda dalam peraturan Undang-Undang Lalu Lintas Jalan diposisikan sebagai kendaraan, sehingga pengendara sepeda harus menggunakan jalan raya di mana terdapat pemisahan antara jalan raya dan trotoar.

Sanksi apabila melanggar adalah kurungan sampai 3 bulan dan denda sampai 50.000 yen atau sekitar Rp 6,6 juta.

Meski demikian, ada pengecualian bagi sepeda untuk berjalan di trotoar, yakni jika:

  • Ada rambu-rambu atau marka jalan bahwa itu jalur sepeda.
  • Ketika pengemudi merupakan anak di bawah usia 13 tahun, lansia 70 atau lebih, dan orang cacat fisik.

Selain itu, boleh melaju di trotoar jika kondisi jalan atau lalu lintas yang tak dapat dihindari dengan kondisi:

  • Sisi kiri jalan susah dilewati karena konstruksi jalan, parkir dalam waktu lama, dan sebagainya.
  • Lalu lintas sangat padat serta jalan sempit, dan risiko kecelakaan besar.

Baca juga: Ramai Orang Gowes Sepeda, Bagi Pemula Waspadai Bahaya Serangan Jantung

Pesepeda di JepangMoreGallery / Shutterstock.com Pesepeda di Jepang

2. Bersepeda di sisi kiri

Para pesepeda harus menggunakan lajur kiri agar tetap aman.

Pelanggaran untuk kasus ini adalah penjara hingga 3 bulan atau denda hingga 50.000 yen.

3. Utamakan pejalan kaki

Saat pesepeda berjalan di jalur trotoar, maka ia tidak boleh melaju kencang.

Kemudian, saat ada pejalan kaki yang menyeberang maka harus berhenti dahulu dan mempersilakan ia lewat.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X