Negara-negara Asia Bersiap Hadapi Gelombang Kedua Pandemi Covid-19

Kompas.com - 22/06/2020, 07:05 WIB
Ibu kota China, Beijing pada Rabu (17/6/2020) membatalkan lebih dari 60 persen penerbangan komersial dan meningkatkan kesiagaan di tengah wabah virus corona gelombang kedua. AP/Ng Han GuanIbu kota China, Beijing pada Rabu (17/6/2020) membatalkan lebih dari 60 persen penerbangan komersial dan meningkatkan kesiagaan di tengah wabah virus corona gelombang kedua.

KOMPAS.com -  Gelombang kedua pandemi Covid-19 melanda China dan berpusat di Beijing, dengan sedikitnya 184 kasus baru dilaporkan sejak pekan lalu.

Menyusul kemudian keputusan pihak berwenang membatalkan sejumlah penerbangan domestik, melarang perjalanan keluar dan memberlakukan lockdown sebagian.

Kemunculan kasus-kasus baru dari virus corona di China telah memicu gelombang kekhawatiran akan datangnya gelombang kedua di negara-negara lain.

Kekhawatirann ini terutama terjadi di negara-negara yang telah berhasil mengendalikan pandemi dan kini bergerak maju untuk membuka kembali ekonomi mereka yang lesu.

Beberapa negara Asia yang telah melonggarkan pembatasan dan memulai kembali beberapa kegiatan ekonomi seperti Jepang, dan Korea Selatan, pada bulan lalu melaporkan kasus baru yang jumlahnya mencapai puluhan.

Melansir SCMP, meski ada ancaman gelombang kedua, para ahli umumnya setuju bahwa pemerintah tiap negara tampaknya lebih siap untuk menghadapinya setelah pengalaman yang mereka dapatkan selama menangani masa awal pandemi.

Namun, para ahli juga menyebut bahwa permasalahan akan tetap ada, terutama dalam menjaga kewaspadaan dan memastikan bahwa klaster-klaster kecil terkendali dengan cepat sehingga tidak akan berubah menjadi infeksi yang lebih besar dan tidak terkendali.

Baca juga: Pandemi Corona, Negara Mana Saja yang Alami Gelombang Kedua?

Asia hadapi gelombang kedua

Paul Ananth Tambyah, presiden dari Asia-Pacific Society of Clinical Microbiology and Infection, mengatakan negara yang paling berisiko terkena gelombang kedua adalah mereka yang masih mengalami penambahan harian kasus penularan lokal.

“Meskipun dapat dikatakan bahwa saat ini masih merupakan ujung dari gelombang pertama, kemungkinan ada banyak rantai transmisi di negara-negara yang belum terputus,” kata Tambyah.

Negara-negara dengan infeksi tinggi yang disinggung oleh Tambyah termasuk India.

Pada hari Jumat (19/6/2020), India mencatat lonjakan kasus harian tertinggi yakni 13.586 kasus virus dan secara total menjadi 380.532, tertinggi keempat di dunia, setelah Amerika Serikat, Brasil dan Rusia.

Korban meninggal dunia di India mencapai 12.573 orang.

Halaman:

Sumber SCMP
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X