Sempat Error, Bagaimana Awal Mula WhatsApp Diluncurkan?

Kompas.com - 20/06/2020, 14:37 WIB
ilustrasi WhatsApp user slashgear.comilustrasi WhatsApp user

KOMPAS.com - Aplikasi pesan instan WhatsApp mengalami error atau gangguan pada Jumat (19/6/2020) malam. Pengguna aplikasi tersebut melaporkan gangguan pada fitur pengaturan last seen dan status online.

Selain itu, berdasarkan informasi dari akun Twitter WABetaInfo terdapat pula gangguan yang tidak memungkinkan pengguna untuk membuat akun WhatsApp baru.

Baca juga: Hati-hati, Berikut Ciri-ciri WhatsApp yang Sedang Disadap

Baca juga: 6 Cara Membuat Format Tulisan Unik di WhatsApp

Gangguan ini dirasakan oleh hampir semua pengguna dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Mereka mengunggah gangguan yang mereka alami di media sosial Twitter dengan menyertakan tagar #WhatsApp.

Baca juga: INFOGRAFIK: Ciri-ciri WhatsApp Disadap

Namun, gangguan-gangguan tersebut sudah berhasil diatasi oleh pihak WhatsApp dan kini aplikasi tersebut sudah bisa digunakan seperti sedia kala.

Akun WABetaInfo juga membantah rumor yang beredar bila gangguan ini terjadi karena uji coba fitur baru WhatsApp. Mereka menyebut bahwa gangguan terjadi karena adanya bug sever di seluruh dunia.

Baca juga: Facebook Luncurkan Messenger Rooms Saingi Zoom, Bagaimana Cara Penggunaannya?

Lantas bagaimana awal mula WhatsApp diluncurkan?

WhatsApp adalah aplikasi pesan instan terbesar di dunia dengan lebih dari 2 miliar pengguna yang tersebar di 180 negara. Karena itu, tidak mengherankan bila saat ini aplikasi berwarna hijau itu telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari setiap orang.

Diberitakan Kompas.com (21/2/204), WhatsApp didirikan oleh Jan Koum, Brian Acton, dan Alex Fishman.

Koum dan Acton adalah sepasang rekan yang sempat bekerja bersama di Yahoo, namun keduanya memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu karena tidak setuju dengan cara Yahoo menempatkan iklan kepada pelanggan.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Apple Inc Didirikan, Bagaimana Awal Mulanya?

Koum ketika itu berusia 31 tahun dan telah mengumpulkan uang untuk memulai bisnisnya sendiri. Dia bertekad bahwa bisnisnya ini tak akan direcoki oleh iklan yang mengganggu.

Koum dan Acton pisah jalan, tetapi masih sering bertemu untuk mendiskusikan rencana bisnis.

Keduanya diketahui sempat mencoba melamar di Facebook dan sama-sama ditolak.

Pada 2009, setelah membeli sebuah iPhone, Koum menyadari bahwa toko aplikasi App Store yang baru berumur tujuh bulan akan melahirkan industri baru yang berisi pengembang-pengembang aplikasi.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Pendiri Apple, Steve Jobs Meninggal Dunia

Koum mendapat ide untuk membuat aplikasi yang bisa menampilkan update status seseorang di daftar kontak ponsel, misalnya ketika hampir kehabisan baterai atau sedang sibuk.

Nama yang muncul di benak Koum adalah "WhatsApp" karena terdengar mirip dengan kalimat "what's up" yang biasa dipakai untuk menanyakan kabar.

Dia pun mewujudkan ide ini dengan dibantu oleh Alex Fishman, seorang teman asal Rusia yang dekat dengan komunitas Rusia di kota San Jose. Pada 24 Februari 2009, dia mendirikan perusahaan WhatsApp Inc di California.

Baca juga: AS, Taiwan, Jerman, dan Singapura Larang Penggunaan Aplikasi Zoom, Apa Alasannya?

Terus berkembang

Aplikasi WhatsApp.PlayStore Aplikasi WhatsApp.

WhatsApp versi pertama benar-benar dipakai sekadar untuk update status di ponsel. Pemakainya kebanyakan hanya teman-teman Koum dari Rusia.

"Lalu, pada suatu ketika, ia berubah fungsi jadi aplikasi pesan instan. Kami mulai memakainya untuk menanyakan kabar masing-masing dan menjawabnya," ucap Fishman, sebagaimana dikutip oleh Forbes.

Koum pun tersadar bahwa dia secara tak sengaja telah menciptakan layanan pengiriman pesan.

"Bisa berkirim pesan ke orang di belahan dunia lain secara instan, dengan perangkat yang selalu Anda bawa, adalah hal yang luar biasa," kata Koum.

Baca juga: Iklan Akan Muncul di WhatsApp, Bagaimana Cara Kerjanya?

Ketika itu, satu-satunya layanan messaging gratis lain yang tersedia adalah BlackBerry Messenger. Namun, aplikasi ini hanya bisa digunakan di ponsel BlackBerry.

Google G-Talk dan Skype juga ada, tetapi WhatsApp menawarkan keunikan tersendiri di mana mekanisme login dilakukan melalui nomor ponsel pengguna.

Koum merilis WhatsApp versi 2.0 dengan komponen messaging. Jumlah pengguna aktifnya langsung melonjak jadi 250.000 orang.

Dia kemudian menemui Acton yang masih menganggur. Acton bargabung dengan WhatsApp dan membantu mencarikan modal dari teman-teman eks-Yahoo.

Kendati sempat mengalami kesulitan keuangan, WhatsApp terus tumbuh dan mulai menghasilkan pendapatan dari biaya langganan yang ditarik dari pengguna.

Baca juga: Mengenal Spyware Pegasus Pembobol WhatsApp Indonesia

Dibeli Facebook

ilustrasi logo WhatsApp Messenger.KOMPAS.com/Bill Clinten ilustrasi logo WhatsApp Messenger.

Pada 2014, raksasa digital Facebook membeli WhatsApp senilai 19 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 200 triliun. Kekayaan Koum yang memiliki 45 persen saham WhatsApp diperkirakan melonjak jadi 6,8 miliar dollar AS.

Pada 18 Januari 2016, WhatsApp mengumumkan bakal mencabut biaya pemakaian sebesar 1 dollar AS per tahun. Artinya, layanan ini sepenuhnya tersedia gratis.

Kebijakan tersebut mulai berlaku tak lama kemudian, pada 20 Januari 2016, sehingga pengguna WhatsApp disambut pemberitahuan bahwa aplikasi pesan instan itu bisa dipakai secara cuma-cuma “seumur hidup”.

Dengan memangkas iuran tahunan, WhatsApp kehilangan satu-satunya sumber pendapatan.

Baca juga: Kenali Dua Fitur Baru WhatsApp yang Mungkin Belum Anda Ketahui

Sebagai ganti pemasukan yang hilang, WhatsApp menyatakan bakal menjajaki kemungkinanan menawarkan sejumlah layanan berbayar untuk pengguna korporat.

Layanan ini nantinya bisa dipakai oleh entitas bisnis untuk berkomunikasi dengan pelanggan masing-masing tanpa perlu membayar biaya tambahan lain. 

Pada 2017, Brian Acton memutuskan untuk keluar dari WhatsApp, keputusan ini kemudian disusul oleh Jan Koum pada 2018.

Hengkangnya dua pendiri aplikasi ini memunculkan isu bahwa mereka sudah tidak sejalan lagi dengan cara Facebook memanfaatkan data pengguna untuk kepentingan iklan. 

Acton yang lebih dulu hengkang, kini berbalik menentang raksasa media sosial tersebut dengan terang-terangan mendukung gerakan #DeleteFacebook.

Baca juga: Sejarah Tetris dan Bagaimana Awal Mula Diciptakan...

(Sumber: Kompas.com/ Oik Yusuf | Editor: Reska K. Nistanto, Wicak Hidayat, Reza Wahyudi)

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Cara Pakai WhatsApp video Call Delapan Orang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X