Mengatasi Permasalahan Merokok di Indonesia

Kompas.com - 06/06/2020, 09:55 WIB
Ilustrasi berhenti merokok. Nopphon_1987Ilustrasi berhenti merokok.

ROKOK sudah lama membudaya di dalam masyarakat Indonesia yang turut memengaruhi perilaku masyarakat.

Kebiasaan merokok dianggap wajar di kalangan masyarakat dapat dilihat dari kemudahan mengakses rokok, yang telah menjadi kebutuhan bahkan gaya hidup.

Rokok yang terbuat dari tembakau yang dibudidayakan di Indonesia juga telah menjadi bagian dari tradisi dalam menjalin keakraban sosial, misalnya rokok kretek.

Akan tetapi, kebiasaan merokok ternyata juga berbanding lurus dengan jumlah perokok di Indonesia yang terus meningkat.

Dalam asap rokok, zat yang paling membahayakan bagi perokok adalah TAR yang dihasilkan dari proses pembakaran.

Ada lebih dari 7.000 macam senyawa kimia dalam TAR, sebagian di antaranya berbahaya terhadap kesehatan.

Kita tentu sudah tahu bahaya merokok yang juga ditulis pada setiap bungkus rokok, mulai dari kanker, jantung, kolesterol, komplikasi diabetes, gigi menguning, keguguran, gangguan mata, dan lainnya.

Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar mengapa larangan sudah dicantumkan di bungkus rokok, bahkan melalui pamflet di pinggir jalan secara besar-besaran tetapi tidak memberikan dampak secara efektif? Apakah ada yang salah dengan cara seperti itu?

Efektifitas komunikasi simbol yang disampaikan melalui gambar atau bahkan narasi sangat tergantung dari sisi budaya, pendidikan maupun adat istiadat.

Budaya masyarakat kita kurang gemar membaca, lebih patuh pada bahasan lisan langsung oleh seorang tokoh atau bahkan langsung diperlihatkan dampak negatifnya pada penderita.

Kurang efektifnya larangan rokok ini terlihat dari tren masih terus meningkatnya jumlah perokok di Indonesia dan prevalensi merokok yang masih tinggi.

Selain komunikasi simbol, pemerintah Indonesia juga telah melakukan upaya-upaya lain, yaitu mengenakan cukai pada rokok dan produk tembakau lainnya, menaikkan harga jual eceran (HJE) rokok, penyuluhan kesehatan kepada masyarakat dan klinik berhenti merokok, pembatasan iklan dan promosi rokok, hingga penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Berdasarkan laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (Seatca) berjudul The Tobacco Control Atlas tahun 2019, jumlah perokok di Indonesia sebanyak 65,19 juta orang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asia Tenggara.

Selain itu, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlah perokok di atas 15 tahun sebanyak 33,8 persen dari jumlah tersebut 62,9 persen merupakan perokok laki-laki dan 4,8 persen perokok perempuan.

Data tersebut juga menunjukkan peningkatan prevalensi merokok menjadi 9,1 persen dibandingkan 7,2 persen pada tahun 2013.

Kenaikan prevalensi merokok ini dapat menjadi momok bagi pemerintah karena menimbulkan beban kesehatan dan hilangnya kesempatan bonus demografi.

Dengan jumlah yang sangat besar itu sungguh bisa menjadi beban pemerintah. Jika 10 persen saja berakibat pada penyakit kronis, akan ada sekitar 6,5 juta orang yang menggunakan BPJS dengan biaya pengobatan yang sangat besar.

Untuk mencari solusinya, kita harus memahami akar permasalahan penyebab tingginya jumlah perokok dan prevalensi merokok di Indonesia, yakni tradisi dan budaya merokok yang melekat di masyarakat.

Tradisi dan budaya merokok harus diubah untuk mengurangi dampak negatif dari rokok dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat.

Jika dilihat dari karakteristik dan perilakunya, upaya untuk mengatasi masalah rokok di Indonesia harus dilakukan berbagai pendekatan (pendekatan holistik) secara budaya, kesehatan, ekonomi, regulasi dan komunikasi.

Pendekatan holistik ini diperlukan agar dalam penanganannya, dapat dipetakan bagaimana aspek tradisi dan budaya merokok mempengaruhi gaya hidup seseorang.

Oleh karena itu, upaya mengatasi permasalahan merokok harus melibatkan semua pemangku kepentingan terkait, mulai dari pemerintah, masyarakat, praktisi kesehatan, akademisi, pelaku industri dan juga para perokok itu sendiri.

Saat ini, berbagai negara sudah mengadopsi konsep pengurangan bahaya tembakau untuk melengkapi pendekatan lainnya yang sudah diterapkan.

Sebagai contoh, Selandia Baru telah menerapkan konsep pengurangan bahaya tembakau (tobacco harm reduction) sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi jumlah perokok dan mencapai program "New Zealand Smoke Free 2025".

Selain itu, Inggris melalui Public Health England (PHE), lembaga penasihat di bawah Kementerian Kesehatan dan Kepedulian Sosial, mendorong perokok Inggris yang sulit berhenti merokok untuk beralih ke produk alternatif seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan sebagai upaya mengurangi risiko kesehatan penggunanya maupun mengurangi dampak negatif pada lingkungan sekitar.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, PHE menyimpulkan bahwa rokok elektrik 95 persen lebih rendah risiko daripada merokok dan merupakan alat yang efektif untuk membantu menghentikan kebiasaan merokok.

Adapun Jepang telah mengalami penurunan besar dalam jumlah perokok, bersamaan dengan semakin banyaknya perokok yang beralih ke konsumsi produk tembakau yang dipanaskan.

Konsep pengurangan bahaya tembakau merupakan upaya untuk mengurangi dampak berbahaya yang disebabkan oleh rokok.

Konsep ini meliputi berbagai macam strategi dan upaya mengganti produk atau perilaku berisiko tinggi dengan yang lebih rendah risiko.

Salah satu strategi yang dilakukan ialah memberikan pilihan kepada perokok untuk beralih ke produk tembakau yang memiliki risiko kesehatan jauh lebih rendah daripada rokok, seperti produk terapi sulih nikotin (nicotine replacement therapy) serta produk tembakau alternatif lainnya, misalnya produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik.

Perlu diingat, bahwa pilihan terbaik bagi perokok adalah berhenti merokok.

Konsep pengurangan bahaya tembakau dan peralihan perokok ke produk tembakau alternatif berperan penting dalam mempercepat proses pengendalian tembakau.

Hal ini dibuktikan oleh penelitian di Amerika Serikat bertajuk Potential Deaths Averted in USA by Replacing Cigarettes with E-Cigarette yang dilakukan oleh Levy dan tim.

Hasilnya mengejutkan, sekitar 6,6 juta orang perokok Amerika dapat terhindar dari kematian dini jika perokok beralih ke rokok elektrik.

Sekali lagi yang perlu ditekankan adalah berhenti merokok akan lebih baik daripada berpindah ke rokok elektrik. Namun, adanya alternatif yang dapat membantu perokok ini patut untuk dikaji lebih lanjut.

Beberapa penelitian juga membuktikan bahwa berhenti merokok secara tiba-tiba (cold turkey) memiliki angka keberhasilan yang sangat rendah.

Dr J Taylor Hays, MD, Direktur Nicotine Dependence Center Mayo Clinic menjelaskan bahwa penelitian selama 25 tahun terakhir menunjukkan, dari 100 orang yang menerapkan cold turkey, hanya sekitar tiga hingga lima dari mereka yang akan berhasil selama lebih dari enam bulan.

Dengan kata lain, hanya sedikit yang bisa berhenti merokok dengan cara cold turkey, sedangkan 95 persen lainnya tidak berhasil.

Cold turkey memiliki tingkat keberhasilan yang rendah karena banyak faktor, di samping terbentur sifat kecanduan perokok pada nikotin, juga aspek gaya hidup yang tidak mudah di rubah secara sesaat.

Banyak orang yang sadar akan bahaya rokok tetapi karena pergaulan dan gaya hidup sulit menghentikannya.

Oleh karena itu, perlu media untuk membantu berhenti merokok atau beralih seperti terapi sulih nikotin dan produk tembakau alternatif.

Pendekatan menyeluruh atau holistik untuk mengatasi permasalahan merokok perlu dilakukan.

Kebijakan pengendalian tembakau yang sudah dilakukan pemerintah masih belum berhasil karena belum melibatkan semua pemangku kepentingan, yakni perokok aktif selaku konsumen sehingga upaya pengendalian tembakau tidak komprehensif, serta belum dilakukan secara menyeluruh dan komperehensif.

Oleh karena itu, perlu juga menangkap aspirasi masyarakat dengan baik, terutama para perokok aktif maupun perokok pasif yang ingin terhindar dari dampak negatif rokok.

Kebijakan pengendalian tembakau sebetulnya dapat menjadi efektif jika disertai dengan pendukung lainnya, yakni edukasi terhadap konsep pengurangan bahaya tembakau.

Agar masyarakat Indonesia, khususnya perokok, turut berperan mengatasi permasalahan rokok di Indonesia, risk awareness pada masyarakat perlu ditingkatkan.

Di sinilah perlunya social engineering untuk mengubah budaya dan tradisi merokok di masyarakat, dan berhenti merokok.

Caranya ialah memberikan informasi yang akurat bagi perokok serta menawarkan layanan untuk membantu mereka berhenti merokok.

Namun, bagi perokok yang merasa sulit berhenti total, perlu diberikan informasi mengenai produk-produk yang risiko kesehatannya jauh lebih rendah daripada terus merokok, seperti terapi sulih nikotin dan produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan maupun lainnya.

Paling tidak, ada tiga hal yang penting dalam social engineering yaitu edukasi maupun sosialisasi, penelitian, serta pendekatan regulasi.

Agar social engineering efektif menurunkan jumlah perokok dan prevalensi merokok di Indonesia, maka diperlukan beberapa hal berikut ini.

  1. Peran aktif para pemangku kepentingan untuk memberikan edukasi dan sosialisasi informasi yang akurat berdasarkan hasil-hasil penelitian kepada masyarakat, khususnya kepada para perokok agar terjadi perubahan perilaku. Sehingga, mereka bisa berhenti atau minimal beralih ke produk-produk tembakau alternatif dengan risiko bahaya yang lebih rendah bagi diri mereka sendiri maupun orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.
  2. Memperbanyak penelitian mengenai pengurangan bahaya tembakau dari berbagai disiplin ilmu, baik dari aspek kesehatan, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Penelitian harus obyektif, bebas kepentingan, tidak bersifat politis, dan berdasarkan fakta empiris. Penelitian lokal harus digiatkan, mengingat penelitian tentang pengurangan bahaya tembakau saat ini sebagian besar dilakukan di negara lain. Oleh sebab itu, penelitian tentang perokok di Indonesia yang sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat Indonesia sangat diperlukan sehingga rekomendasi untuk kebijakan strategis sesuai dengan budaya Indonesia.
  3. Regulasi dan dukungan dari pemerintah yang dirumuskan berdasarkan hasil-hasil penelitian serta memberikan akses kepada perokok untuk mendapatkan informasi akurat terhadap bahaya merokok dan produk-produk tembakau alternatif untuk membantu mereka berhenti atau minimal beralih dari rokok.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sepekan Ledakan Lebanon, Apa Saja Fakta yang Diketahui Sejauh Ini?

Sepekan Ledakan Lebanon, Apa Saja Fakta yang Diketahui Sejauh Ini?

Tren
Jangan Lari hingga Pura-pura Mati, Ini Langkah Penyelamatan Diri Saat Bertemu Beruang

Jangan Lari hingga Pura-pura Mati, Ini Langkah Penyelamatan Diri Saat Bertemu Beruang

Tren
Selain Fadli Zon dan Fahri Hamzah, Ini Penerima Bintang Mahaputera Nararya sejak 2005

Selain Fadli Zon dan Fahri Hamzah, Ini Penerima Bintang Mahaputera Nararya sejak 2005

Tren
127.083 Kasus Covid-19 di Indonesia dan Kewaspadaan Kita...

127.083 Kasus Covid-19 di Indonesia dan Kewaspadaan Kita...

Tren
Perum Peruri Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan SMA/SMK, Tertarik?

Perum Peruri Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan SMA/SMK, Tertarik?

Tren
Update CPNS 2019: Ini Rincian Materi Pokok SKB CPNS

Update CPNS 2019: Ini Rincian Materi Pokok SKB CPNS

Tren
Bagaimana Catatan Penanganan Virus Corona di Bawah Komite Covid-19?

Bagaimana Catatan Penanganan Virus Corona di Bawah Komite Covid-19?

Tren
[KLARIFIKASI] Penjelasan Lengkap BMKG soal Awan di Meulaboh yang Disebut seperti Tsunami

[KLARIFIKASI] Penjelasan Lengkap BMKG soal Awan di Meulaboh yang Disebut seperti Tsunami

Tren
Pandemi Covid-19, Apa Saja Dampak pada Sektor Ketenagakerjaan Indonesia?

Pandemi Covid-19, Apa Saja Dampak pada Sektor Ketenagakerjaan Indonesia?

Tren
Profil Hassan Diab, PM Lebanon yang Mengundurkan Diri Pasca-ledakan Beirut

Profil Hassan Diab, PM Lebanon yang Mengundurkan Diri Pasca-ledakan Beirut

Tren
Pesan untuk Para Pendaki: Pahami Kompetensi Ini Sebelum Naik Gunung

Pesan untuk Para Pendaki: Pahami Kompetensi Ini Sebelum Naik Gunung

Tren
Update Virus Corona Dunia 11 Agustus: 179.990 Kasus Baru Covid-19 pada Anak-anak di AS

Update Virus Corona Dunia 11 Agustus: 179.990 Kasus Baru Covid-19 pada Anak-anak di AS

Tren
Mengenal Bintang Mahaputera Nararya, Tanda Jasa yang Akan Diterima Fahri Hamzah dan Fadli Zon

Mengenal Bintang Mahaputera Nararya, Tanda Jasa yang Akan Diterima Fahri Hamzah dan Fadli Zon

Tren
Simak, Ini Panduan Persalinan untuk RS di Masa Pandemi Virus Corona

Simak, Ini Panduan Persalinan untuk RS di Masa Pandemi Virus Corona

Tren
WHO Usahakan agar Distribusi Vaksin Corona Merata, Bagaimana Caranya?

WHO Usahakan agar Distribusi Vaksin Corona Merata, Bagaimana Caranya?

Tren
komentar
Close Ads X