Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3C, Rahasia Jepang Kendalikan Covid-19 Tanpa Berlakukan Lockdown

Kompas.com - 31/05/2020, 14:00 WIB
Luthfia Ayu Azanella,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hingga saat ini, Jepang dianggap cukup berhasil mengendalikan penyebaran virus corona penyebab Covid-19, tanpa memberlakukan penguncian wilayah atau lockdown.

Berdasarkan data dari Worldometers, sampai dengan Minggu (31/5/2020) total kasus infeksi Covid-19 di Jepang adalah 16.804 kasus, dengan 14.406 sembuh, dan 886 kematian.

Rasio kematian akibat Covid-19 di negara itu ada di angka 5,3 persen. Jika dibandingkan dengan Italia misalnya, sebagai salah satu negara yang menerapkan kuncian, Jepang dinilai cukup baik.

Italia mencatatkan rasio kematian yang jauh lebih tinggi, yakni 14,3 persen dari total kasus infeksi sebanyak 232.664 kasus, diambil dari sumber data yang sama.

Baca juga: Jepang Sudah Mulai New Normal, seperti Apa Praktiknya?

Lalu, apa rahasia Jepang sehingga bisa mengontrol pandemi tanpa melakukan intervensi berupa kuncian wilayah, yang banyak dipilih oleh negara lain untuk menghentikan persebaran virus?

3C ala Jepang

Panduan sederhana Jepang mengatasi virus corona: 3C. screenshoot Panduan sederhana Jepang mengatasi virus corona: 3C.

Dilansir dari Business Insider, Kamis (28/5/2020) ternyata Jepang menerapkan imbauan khusus yang simpel, yakni menghindari 3C.

Jadi, semua masyarakat yang ada di wilayah negara tersebut harus menghindari 3C yang merupakan closed spaces (ruangan tertutup), crowded places (tempat ramai), dan close-contact (kontak dekat).

Ruangan tertutup yang dimaksudkan di sini adalah tempat publik yang sirkulasi udaranya tertutup, misalnya museum, bioskop, dan sebagainya.

Prinsip menghindari 3C ini ternyata terbukti ampuh diterapkan di sana.

Pekan ini, Jepang mengumumkan masa tanggap darurat di wilayahnya sudah berakhir. Banyak yang kemudian mengaitkan kesuksesan itu dengan pesan imbauan 3C yang disampaikan pemerintah.

Jadi, pemerintah Jepang tidak lah menyampaikan imbauan sebagaimana banyak dilakukan pemerintahan lain, seperti menjaga jarak sejauh sekian meter, namun menggantikannya dengan imbauan 3C ini.

Baca juga: Geliat Klub-klub Liga Jepang Persiapkan Diri

Kampanye 3C ini juga disampaikan bukan hanya sebagai cara menghindari transmisi virus corona, namun disebutkan sebagai perubahan cara hidup yang bisa diimplementasikan dalam jangka waktu panjang, tidak hanya saat pandemi Covid-19 ini saja.

Imbauan ini pun banyak mendapat pujian, salah satunya dari profesor politik internasional dari Public University Hokkaido, Kazuto Suzuki, lewat tulisannya di The Diplomat.

“Model ini memungkinkan kegiatan ekonomi (tetap berjalan) pada tingkat tertentu dan tetap memberi kebebasan orang untuk bergerak. Dengan demikian lebih berkelanjutan dalam jangka panjang daripada model yang lebih memberatkan seperti penguncian,” kata  Suzuki.

Sebuah sekolah dasar dibuka kembali dengan para murid memakai masker pelindung, menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di Nagasaki, selatan Jepang, Senin (11/5/2020), dalam foto yang diambil oleh Kyodo.ANTARA FOTO/Kyodo/via REUTERS Sebuah sekolah dasar dibuka kembali dengan para murid memakai masker pelindung, menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di Nagasaki, selatan Jepang, Senin (11/5/2020), dalam foto yang diambil oleh Kyodo.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com