3C, Rahasia Jepang Kendalikan Covid-19 Tanpa Berlakukan Lockdown

Kompas.com - 31/05/2020, 14:00 WIB
Warga memakai masker pelindung berjalan di sebuah distrik pasar lokal di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Tokyo, Jepang, Rabu (13/5/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/KIM KYUNG-HOONWarga memakai masker pelindung berjalan di sebuah distrik pasar lokal di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Tokyo, Jepang, Rabu (13/5/2020).

KOMPAS.com - Hingga saat ini, Jepang dianggap cukup berhasil mengendalikan penyebaran virus corona penyebab Covid-19, tanpa memberlakukan penguncian wilayah atau lockdown.

Berdasarkan data dari Worldometers, sampai dengan Minggu (31/5/2020) total kasus infeksi Covid-19 di Jepang adalah 16.804 kasus, dengan 14.406 sembuh, dan 886 kematian.

Rasio kematian akibat Covid-19 di negara itu ada di angka 5,3 persen. Jika dibandingkan dengan Italia misalnya, sebagai salah satu negara yang menerapkan kuncian, Jepang dinilai cukup baik.

Italia mencatatkan rasio kematian yang jauh lebih tinggi, yakni 14,3 persen dari total kasus infeksi sebanyak 232.664 kasus, diambil dari sumber data yang sama.

Baca juga: Jepang Sudah Mulai New Normal, seperti Apa Praktiknya?

Lalu, apa rahasia Jepang sehingga bisa mengontrol pandemi tanpa melakukan intervensi berupa kuncian wilayah, yang banyak dipilih oleh negara lain untuk menghentikan persebaran virus?

3C ala Jepang

Panduan sederhana Jepang mengatasi virus corona: 3C. screenshoot Panduan sederhana Jepang mengatasi virus corona: 3C.

Dilansir dari Business Insider, Kamis (28/5/2020) ternyata Jepang menerapkan imbauan khusus yang simpel, yakni menghindari 3C.

Jadi, semua masyarakat yang ada di wilayah negara tersebut harus menghindari 3C yang merupakan closed spaces (ruangan tertutup), crowded places (tempat ramai), dan close-contact (kontak dekat).

Ruangan tertutup yang dimaksudkan di sini adalah tempat publik yang sirkulasi udaranya tertutup, misalnya museum, bioskop, dan sebagainya.

Prinsip menghindari 3C ini ternyata terbukti ampuh diterapkan di sana.

Pekan ini, Jepang mengumumkan masa tanggap darurat di wilayahnya sudah berakhir. Banyak yang kemudian mengaitkan kesuksesan itu dengan pesan imbauan 3C yang disampaikan pemerintah.

Jadi, pemerintah Jepang tidak lah menyampaikan imbauan sebagaimana banyak dilakukan pemerintahan lain, seperti menjaga jarak sejauh sekian meter, namun menggantikannya dengan imbauan 3C ini.

Baca juga: Geliat Klub-klub Liga Jepang Persiapkan Diri

Kampanye 3C ini juga disampaikan bukan hanya sebagai cara menghindari transmisi virus corona, namun disebutkan sebagai perubahan cara hidup yang bisa diimplementasikan dalam jangka waktu panjang, tidak hanya saat pandemi Covid-19 ini saja.

Imbauan ini pun banyak mendapat pujian, salah satunya dari profesor politik internasional dari Public University Hokkaido, Kazuto Suzuki, lewat tulisannya di The Diplomat.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Seekor Anjing di Texas Dites Positif Covid-19 Setelah Pemiliknya Terinfeksi

Seekor Anjing di Texas Dites Positif Covid-19 Setelah Pemiliknya Terinfeksi

Tren
INFOGRAFIK: Macam-macam Penularan Virus Corona

INFOGRAFIK: Macam-macam Penularan Virus Corona

Tren
Disorot Dunia, Ini Cerita dari Swedia Hadapi Pandemi Corona

Disorot Dunia, Ini Cerita dari Swedia Hadapi Pandemi Corona

Tren
Benarkah Mapel Bahasa Arab dan PAI Dihapus dari Kurikulum? Berikut Penjelasan Kemenag

Benarkah Mapel Bahasa Arab dan PAI Dihapus dari Kurikulum? Berikut Penjelasan Kemenag

Tren
Mulai Senin, Argo Parahyangan Jakarta-Bandung Beroperasi Lagi, Catat Jadwalnya!

Mulai Senin, Argo Parahyangan Jakarta-Bandung Beroperasi Lagi, Catat Jadwalnya!

Tren
Kilas Balik Pernyataan WHO soal Penyebaran Virus Corona di Udara: Dulu Dibantah, Kini Diakui

Kilas Balik Pernyataan WHO soal Penyebaran Virus Corona di Udara: Dulu Dibantah, Kini Diakui

Tren
Menular Lewat Udara, Ini 7 Gejala Kunci dan Tidak Biasa Saat Terkena Covid-19

Menular Lewat Udara, Ini 7 Gejala Kunci dan Tidak Biasa Saat Terkena Covid-19

Tren
Saat Asrama hingga Pondok Pesantren Jadi Klaster Baru Covid-19, Apa yang Terjadi dan Harus Bagaimana?

Saat Asrama hingga Pondok Pesantren Jadi Klaster Baru Covid-19, Apa yang Terjadi dan Harus Bagaimana?

Tren
AS Konfirmasi 70.000 Kasus Baru Covid-19 dalam Sehari, Tertinggi di Dunia Selama Pandemi

AS Konfirmasi 70.000 Kasus Baru Covid-19 dalam Sehari, Tertinggi di Dunia Selama Pandemi

Tren
Kenapa Kita Suka Menggunakan Media Sosial? Ini Alasan Psikologisnya

Kenapa Kita Suka Menggunakan Media Sosial? Ini Alasan Psikologisnya

Tren
Hari Ini dalam Sejarah: Mike Tyson Pekerjakan Donald Trump sebagai Penasihat

Hari Ini dalam Sejarah: Mike Tyson Pekerjakan Donald Trump sebagai Penasihat

Tren
Yang Perlu Dipahami soal Penularan Virus Corona Melalui Udara

Yang Perlu Dipahami soal Penularan Virus Corona Melalui Udara

Tren
Update Virus Corona di Dunia 11 Juli: 12,6 Juta Terinfeksi |Angka Kasus di Brazil Lewati 1,8 Juta

Update Virus Corona di Dunia 11 Juli: 12,6 Juta Terinfeksi |Angka Kasus di Brazil Lewati 1,8 Juta

Tren
Benarkah Pandemi Virus Corona di Indonesia Masih Jauh dari Puncaknya?

Benarkah Pandemi Virus Corona di Indonesia Masih Jauh dari Puncaknya?

Tren
Kapan Orang yang Terinfeksi Virus Corona Menularkannya kepada Orang Lain?

Kapan Orang yang Terinfeksi Virus Corona Menularkannya kepada Orang Lain?

Tren
komentar
Close Ads X