Cerita Laksana, Ramadhan dan Lebaran Pertama di Negeri Sakura...

Kompas.com - 24/05/2020, 07:10 WIB
Laksana Segara, pemuda Indonesia yang merantau ke Jepang. Tahun ini merupakan pengalaman pertamanya menjalani bulan Ramadhan di Jepang. IstimewaLaksana Segara, pemuda Indonesia yang merantau ke Jepang. Tahun ini merupakan pengalaman pertamanya menjalani bulan Ramadhan di Jepang.

KOMPAS.com - Selamat Idul Fitri 1441 Hijriah. Momen Idul Fitri, hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa, biasanya menjadi momen berkumpul bersama seluruh anggota keluarga.

Namun, situasi Lebaran tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Di tengah situasi pandemi virus corona, masyarakat Muslim diimbau melakukan silaturahim virtual untuk menekan penyebaran virus corona.

Di luar Indonesia, ada cerita para perantau yang bekerja jauh dari rumah, menjalani Ramadhan Lebaran tahun ini tanpa anggota keluarga.

Ini cerita yang dibagikan Laksana Segara (24), pemuda asal Indonesia yang kini tengah merantau di Tokyo, Jepang.

Kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2020), Laksa, begitu ia biasa disapa, menceritakan pengalaman pertamanya menjalani ibadah puasa di Negeri Sakura dan keputusannya untuk tidak mudik ke Indonesia saat Lebaran kali ini.

Baca juga: Cerita dari Norwegia, Kisah WNI Jalani Ibadah Puasa 16,5 Jam hingga 19,5 Jam

Ramadhan di Jepang saat pandemi Covid-19

Laksa mengawali santap sahurnya sebelum pukul 02.30 dini hari waktu setempat, karena pada pukul tersebut sudah memasuki waktu Imsak di Jepang.

Dia kemudian berbuka puasa pukul 18.45. Selama sekitar 16 jam ia berpuasa setiap harinya.

Dengan situasi pandemi virus corona, Jepang memberlakukan pembatasan sosial, sehingga Laksa pun menjalani hari-hari dengan work from home.

"Saya sudah hampir dua bulan lebih, work from home selama pandemi corona ini. Hal ini cukup membantu saya dalam menjalankan ibadah puasa, karena saya tidak perlu pergi ke kantor dan bisa menghemat energi," kata Laksa yang bekerja di sebuah perusahaan IT di Tokyo.

Namun, akibat pandemi corona ini, dia merasa sedih karena event-event yang biasa diadakan saat bulan Ramadhan, seperti buka puasa bersama di Masjid Tokyo Camii, masjid terbesar di Jepang, ditiadakan.

"Walaupun Muslim itu minoritas di sini, sebenarnya masih ada perayaan-perayaan yang biasa dilakukan saat Ramadhan. Tapi, karena adanya pandemi corona maka semua aktivitas yang berhubungan dengan berkumpul di ruang publik akhirnya ditiadakan," kata Laksa.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X