Studi Baru: Klorokuin dan Hidroksiklorokuin Tak Menunjukkan Manfaat untuk Pasien Covid

Kompas.com - 23/05/2020, 11:15 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi

KOMPAS.com – Sebuah studi baru menunjukkan bahwa obat hidroksiklorokuin dan klorokuin tidak menunjukkan manfaat dalam mengobati pasien virus corona.

Bahkan studi tersebut menunjukkan adanya kemungkinan peningkatan risiko kematian dalam penggunaan obat yang dikenal sebagai terapi untuk penyakit malaria ini.

Melansir dari SCMP sebuah penelitian baru yang terbit di The Lancet pada Jumat (22/5/2020) menyebut kedua obat ini menghasilkan efek yang serius terutama aritmia jantung.

Obat juga menunjukkan ia tak memberikan keuntungan pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

Baca juga: Sebabkan Komplikasi Jantung, Penelitian Klorokuin di Brazil Dihentikan

Metode dan hasil penelitian

Penelitian tersebut berdasarkan catatan 96.000 pasien di ratusan rumah sakit.

Peneliti membandingkan hasil dari empat kelompok yakni mereka yang diobati hidroksiklorokuin saja, dengan klorokuin saja dan dua kelompok masing-masing obat diberi kombinasi dengan antibiotik golongan makrolida.

Terdapat pula kelompok kontrol pasien yang tidak diberikan perawatan ini.

Saat periode penelitian selesai, sekitar 9 persen dari mereka dalam kelompok kontrol  meninggal.

Sementara mereka yang diobati dengan hidoksiklorokuin ada sebanyak 18 persen yang meninggal, dan yang diobati dengan klorokuin saja 16,4 persen yang meninggal.

Adapun mereka yang diberi kombinasi antibiotik bahkan menunjukkan angka kematian lebih tinggi.

Dimana kombinasi klorokuin dan antibiotik 22,8 persen meningal, sementara mereka yang diberikan hidroksiklorokuin dengan antibiotik 23,8 persennya juga meninggal.

Para peneliti memperkirakan kedua obat ini menempatkan risiko kematian akibat Covid-19 mencapai 45 persen lebih tinggi dibandingkan masalah kesehatan yang mendasarinya.

Dinilai berbahaya

Melansir dari Washington Post Sabtu (23/5/2020) penelitian yang dipublikasikan di The Lancet ini adalah analisis terbesar yang ada hingga saat ini mengenai risiko dan manfaat kedua obat dalam mengobati pasien.

Penelitian sebelumnya dalam skala yang lebih kecil juga menunjukkan hal serupa.

“Ini adalah sesuatu yang tidak bermanfaat tapi justru berbahaya. Jika ada harapan untuk obat ini (hidroksiklorokuin dan klorokuin), itu adalah kematian,” ujar Eric Topol seorang Ahli Jantung dan Direktur Institut Scripps Research Translational.

Baca juga: FDA Keluarkan Izin Terbatas Penggunaan Klorokuin untuk Pengobatan Covid-19 di AS

David Maron Direktur Kardiologi Preventif di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford juga mengatakan hal serupa.

“Temuan ini menunjukkan sama sekali tak ada alasan untuk optimis bahwa obat ini mungkin memiliki manfaat untuk pencegahan atau pengobatan Covid-19,” ujar dia.

Digembar-gemborkan Donald Trump

Juru Bicara FDA Michael Felberbaum mengatakan pada Jumat (22/5/2020) pihaknya tidak mengomentari penelitian yang dilakukan pihak ketiga tersebut.

Akan tetapi ia mengatakan bahwa otorisasi penggunaan darurat dapat direvisi atau dicabut dalam keadaan tertentu seperti ketika ada dugaan kejadian buruk, data baru tentang efektivitas atau perubahan dalam penilaian risiko-manfaat obat.

Hidroksiklorokuin adalah obat yang banyak digembar-gemborkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam minggu ini Trump mengumumkan bahwa ia menggunakan obat tersebut dan juga telah mendorong pemerintah untuk membelinya secara massal.

Awal bulan ini, para pendukung presiden Trump yang mendukung kedua obat malaria tersebut menggunakan studi dari NYU Langone Health sebagai dasar.

Baca juga: Klorokuin Bukan untuk Cegah Corona, Efek Sampingnya Sangat Berbahaya

Studi itu sendiri menggunakan kombinasi pasien yang menggunakan pengobatan Zinc dengan hidroksiklorokuin dan azithromycin.

Mereka yang diobati dengan obat tersebut menunjukkan memiliki kelangsungan hidup yang lebih tinggi.

Akan tetapi, penelitian tersebut bukanlah penelitian yang fokus meneliti hidroksiklorokuin akan tetapi berfokus pada Zinc.

Di mana apakah hidroksiklorokuin akan meningkatkan efek suplemen Zinc sebagai anti virus.

Para peneliti menekankan bahwa temuan mereka bersifat sementara dan mungkin disebabkan oleh faktor selain obat.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X