Masyarakat Abaikan PSBB, Akibat Tidak Sinkronnya Kebijakan Pemerintah?

Kompas.com - 21/05/2020, 08:03 WIB
Warga Desa Air Batu, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, mengamuk. Warga membakar posko Covid-19 di desa tersebut, Selasa (19/5/2020) malam. (Tribun Jambi/Istimewa) Warga Desa Air Batu, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, mengamuk. Warga membakar posko Covid-19 di desa tersebut, Selasa (19/5/2020) malam. (Tribun Jambi/Istimewa)

KOMPAS.com - Pemerintah telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) sebagai strategi guna mencegah penyebaran virus corona penyebab Covid-19.

PSBB adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi virus corona untuk mencegah kemungkinan penyebaran makin meluas.

Sejumlah kegiatan yang melibatkan publik dibatasi, seperti perkantoran atau instansi diliburkan, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan transportasi umum.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan, ada banyak manfaat yang didapat dari pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Baca juga: Gubernur Riau, Kapolda hingga Danrem Turun ke Dumai Tinjau PSBB

Contohnya, mencegah munculnya kerumunan dan berbagai aktivitas publik yang berpotensi menjadi medium penularan Covid-19. Namun, nyatanya sebagian masyarakat masih mengabaikan aturan-aturan dari PSBB.

Seperti yang terjadi pada saat penutupan McD Sarinah. Lalu, penumpang yang membludak dan berdesak-desakan di Bandara Soekarno Hatta. Kemudian, kerumunan masyarakat yang tengah berbelanja di pasar dan supermarket tanpa adanya penerapan jarak fisik menjelang Idul Fitri.

Meski demikian, benarkah semua hal tersebut disebabkan oleh kesalahan masyarakat semata? Bagaimana peran pemerintah?

Sudahkah pemerintah memanajemen krisis Covid-19 dan mengomunikasinnya secara tepat kepada masyarakat?

Baca juga: Jika Ingin Kehidupan Normal, Masyarakat Diminta Patuhi PSBB Dua Minggu ke Depan

Tanggapan ahli

Menurut Gabriel Lele, Dosen Manajemen Kebijakan Publik (MKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, secara makro, Indonesia tidak memiliki risk governance yang jelas dalam seluruh lapis pemerintahan.

"Risk managementnya juga nyaris tidak ada. Semua dikelola dengan menggunakan logika normal. Begitu ada bencana atau krisis, baru direspon secara adhoc sehingga tampak tidak sistematis, tidak komprehensif, dan jauh dari tegas," kata Gabriel saat dihubungi Kompas.com (20/5/2020).

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gelombang Kedua Corona Iran: 3 Hari Berturut-turut Laporkan 3.000 Kasus

Gelombang Kedua Corona Iran: 3 Hari Berturut-turut Laporkan 3.000 Kasus

Tren
5 YouTuber Indonesia dengan Konten Inspiratif Kuliah di Luar Negeri, dari Nadhira Afifa hingga Jerome Polin

5 YouTuber Indonesia dengan Konten Inspiratif Kuliah di Luar Negeri, dari Nadhira Afifa hingga Jerome Polin

Tren
Kabar Baik: Rekor 551 Pasien Covid-19 Sembuh Harian, Begini Perawatannya

Kabar Baik: Rekor 551 Pasien Covid-19 Sembuh Harian, Begini Perawatannya

Tren
7 Negara di Dunia yang Akan Buka Pariwisata, Indonesia Salah Satunya

7 Negara di Dunia yang Akan Buka Pariwisata, Indonesia Salah Satunya

Tren
12 Penumpang dari Doha Positif Covid-19, Yunani Setop Penerbangan dari dan ke Qatar

12 Penumpang dari Doha Positif Covid-19, Yunani Setop Penerbangan dari dan ke Qatar

Tren
INFOGRAFIK: Pandemi Covid-19, Arti Zona Merah, Oranye, Kuning dan Hijau

INFOGRAFIK: Pandemi Covid-19, Arti Zona Merah, Oranye, Kuning dan Hijau

Tren
Di Warung Berbagi, Bisa Makan Sepuasnya Tanpa Harus Membayar Saat Pandemi Covid-19

Di Warung Berbagi, Bisa Makan Sepuasnya Tanpa Harus Membayar Saat Pandemi Covid-19

Tren
Simak, Waktu Terbaik Saksikan Gerhana Bulan Penumbra Esok Pagi

Simak, Waktu Terbaik Saksikan Gerhana Bulan Penumbra Esok Pagi

Tren
[KLARIFIKASI] Benarkah Petugas Rapid Test Jarang Ganti Sarung Tangan dan Berisiko Tularkan Covid-19?

[KLARIFIKASI] Benarkah Petugas Rapid Test Jarang Ganti Sarung Tangan dan Berisiko Tularkan Covid-19?

Tren
Syarat Mengajukan Keringanan UKT Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri

Syarat Mengajukan Keringanan UKT Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri

Tren
Mengenal Fenomena 'Strawberry Moon' yang Akan Muncul pada 6 Juni

Mengenal Fenomena "Strawberry Moon" yang Akan Muncul pada 6 Juni

Tren
Apa Itu R0 dan Rt yang Jadi Pertimbangan dalam Keputusan soal PSBB?

Apa Itu R0 dan Rt yang Jadi Pertimbangan dalam Keputusan soal PSBB?

Tren
Benarkah Manusia Pertama yang Mengelilingi Dunia Berasal dari Maluku?

Benarkah Manusia Pertama yang Mengelilingi Dunia Berasal dari Maluku?

Tren
Berikut 4 Skema Keringanan Pembayaran UKT Saat Pandemi Covid-19

Berikut 4 Skema Keringanan Pembayaran UKT Saat Pandemi Covid-19

Tren
New Normal, Pertimbangkan Hal Ini jika Ingin Bawa Anak ke Mal atau Tempat Keramaian

New Normal, Pertimbangkan Hal Ini jika Ingin Bawa Anak ke Mal atau Tempat Keramaian

Tren
komentar
Close Ads X