Hari Kebangkitan Nasional, Siapa Saja Tokoh-tokoh Pelopornya?

Kompas.com - 20/05/2020, 15:37 WIB

Ia kemudian pindah ke Bandung dan bergabung bersama Douwes Dekker di De Express sebagai editor.

Salah satu tulisannya yang paling populer berjudul Als ik eens Nederlander was yang berarti Seandainya Saya Orang Belanda,pada tahun 1913 sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan Hindia Belanda yang merayakan 100 tahun bebasnya Belanda dari Jajahan Inggris, namun melakukan perayaan tersebut di tanah jajahannya, Hindia Belanda.

Artikel berbahasa belanda itu kemudian oleh Soewardi diterjemahkan ke bahasa Melayu sehingga banyak orang pribumi memahami apa substansi yang disampaikan.

Dianggap berbahaya, Soewardi pun diasingkan keluar dari Hindia Belanda ke Belanda selama 5 tahun. Sekembalinya dari Belanda, Soewardi berubah nama menjadi Ki Hadjar Dewantara dan mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta.

3. dr. Tjipto Mangoenkoesoemo

Ia adalah seorang dokter yang aktif berpraktek melayani pasien, ia juga menaruh perhatian yang tinggi pada aspek kesehatan masyarakat negerinya.

Namun, di dalam jiwanya juga tumbuh jiwa sebagai seorang pemberontak terhadap kekuasaan penjajah.

Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional, Bangkitnya Nasionalisme

Ia menganalogikan dengan penyakit, apapun sakitnya, jika sudah diketahui, maka akan ada obatnya. begitu pula dengan penjajahan yang terjadi di tanah kelahirannya.

Tjipto melihat orang  Jawa ketika itu begitu mudah mengiyakan atau mengaminkan apa yang dikatakan pemerintah Hindia Belanda sehingga langgeng lah praktik kolonialisme itu. Orang-orang Jawa kekurangan semangat perlawanan.

Sifat dan kebiasaan itu lah yang disebut sebagai penyakit oleh Tjipto. Ia pun mencoba untuk mengubahnya dan membangkitkan semangat perlawanan dalam masyarakat Jawa. 

4. Wahidin Soedirohoesodo

Wahidin Soediro Husodorepro Harian Kompas Wahidin Soediro Husodo

Ia adalah seorang pemuda yang lahir dari pinggiran Kota Yogyakarta, priyayi desa dengan gelar Mas Ngabehi.

Wahidin pun berhasil masuk menjadi anak pribumi pertama yang diterima di sekolah dasar untuk anak-anak Eropa bernama Europesche Lagere School (ELS).

Sosoknya yang terbilang pandai kemudian memang lulus dari sekolah kedokteran hingga menjadi pejabat kesehatan.

Jiwa-jiwa pemberontakannya mulai nampak saat ia memimpin redaksi Retnodhoemilah yang terbit 3 kali dalam satu minggu ketika itu.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X