Bahan Nanofiber dari Jepang, Diklaim Lebih Baik dari Masker N95 dan Bisa Dicuci Ulang

Kompas.com - 18/05/2020, 16:15 WIB
Zetta, sebuah startup yang berbasis di kota Matsuyama, Jepang barat, telah mengembangkan bahan nanofiber yang dapat dicuci yang dapat dipasang pada masker kain dengan kinerja yang baik atau lebih baik daripada masker N95. maskerZetta, sebuah startup yang berbasis di kota Matsuyama, Jepang barat, telah mengembangkan bahan nanofiber yang dapat dicuci yang dapat dipasang pada masker kain dengan kinerja yang baik atau lebih baik daripada masker N95.

KOMPAS.com - Sebuah startup bernama Zetta di Jepang mengklaim telah mengembangkan bahan nanofiber bukan tenunan yang dapat dicuci berulang kali tanpa kehilangan kemampuannya untuk melindungi pemakainya dari virus.

Startup yang berasal dari Institut Teknologi Tokyo, juga dikenal sebagai Tokyo Tech di kota Matsuyama, Jepang barat, berencana membuat masker dari bahan tersebut.

Perusahaan ini mengambil bagian dalam upaya nasional di Jepang untuk memastikan bahwa dokter, perawat dan orang lain yang berisiko terinfeksi oleh coronavirus baru memiliki perlindungan yang mereka butuhkan.

Mereka akan mengkomersilkan nanofiber bukan tenunannya itu dengan nama Z-Mask.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Ini Bahan Kain Terbaik untuk Membuat Masker

Diameter lebih kecil dari masker N95

Nanofiber memiliki diameter 0,08 hingga 0,4 mikrometer (sepersejuta meter). Itu kurang dari sepersepuluh ukuran serat respirator N95, yang dirancang untuk memblokir setidaknya 95 persen partikel di udara sekecil 0,3 mikrometer.

Bahan yang digunakan untuk membuat masker N95 memiliki diameter serat 3 hingga 5 mikrometer.

Z-Mask diklaim dapat memblokir virus yang lebih kecil dari 0,1 mikrometer, seperti coronavirus baru menggunakan kekuatan antarmolekul yang memediasi interaksi antar molekul, termasuk tarikan molekul.

Dalam sebuah percobaan yang dilakukan oleh Organisasi Pengembangan Teknologi dan Teknologi Industri Baru atau NEDO yang dikelola pemerintah, Z-Mask disebut mampu menangkap hampir 100 persen partikel yang kira-kira berukuran sama dengan coronavirus.

Masker N95 umumnya menggunakan listrik statis di serat untuk menarik partikel seperti magnet. Setelah beberapa jam digunakan terus menerus, kinerja masker tersebut mulai menurun karena efek dari napas lembab pemakai.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X