Tanpa Vaksin, Herd Immunity Bisa Membuat Jutaan Orang Meninggal

Kompas.com - 15/05/2020, 13:00 WIB
Sejumlah petugas mengangkat peti jenazah seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19 dari kendaraan untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (11/5/2020). PDP berusia 56 tahun itu meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Undata Palu. Data Gugus Tugas COVID-19 Sulteng per 11 Mei 2020, jumlah kasus positif COVID-19 sebanyak 83 orang, PDP 31 orang, 3 meninggal dunia, dan 13 orang dinyatakan sembuh. ANTARAFOTO/Eddy Djunaedi/bmz/hp. ANTARA FOTO/BASRI MARZUKISejumlah petugas mengangkat peti jenazah seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19 dari kendaraan untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (11/5/2020). PDP berusia 56 tahun itu meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Undata Palu. Data Gugus Tugas COVID-19 Sulteng per 11 Mei 2020, jumlah kasus positif COVID-19 sebanyak 83 orang, PDP 31 orang, 3 meninggal dunia, dan 13 orang dinyatakan sembuh. ANTARAFOTO/Eddy Djunaedi/bmz/hp.

KOMPAS.com - Sebagian orang meyakini bahwa kekebalan bisa didapatkan setelah seseorang terpapar penyakit dan sembuh. Setelah itu, orang tersebut tidak akan tertular penyakit tersebut.

Sehingga beberapa orang berharap bahwa kekebalan yang luas dapat menjadi jalan keluar dari pandemi virus corona Covid-19 ini. Namun kondisi yang disebut dengan Herd Immunity itu sulit terwujud tanpa adanya vaksin.

Apa itu herd immunity atau kekebalan kawanan?

Jika setiap orang dalam suatu populasi kebal terhadap infeksi, maka virus itu tidak dapat menyebar. Semakin banyak orang yang kebal, semakin besar kemungkinan orang yang terinfeksi hanya akan melakukan kontak dengan orang yang tidak dapat terinfeksi, sehingga mengakhiri penyebaran.

Kondisi ini menciptakan hambatan sosial antara yang menular dan yang rentan.

Baca juga: Pakar: Strategi Herd Immunity untuk Atasi Covid-19 Telan Banyak Korban

Herd immunity dapat dilihat dari seberapa menular patogen itu, yang diukur dengan apa yang oleh para ahli disebut nomor reproduksi dasar, atau R0.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

R0 adalah jumlah rata-rata orang yang akan menularkan penyakit pada populasi di mana tidak ada yang kebal, jadi R0 dari 3 berarti orang yang terinfeksi menyebarkan penyakit ke, rata-rata, tiga orang lainnya sementara mereka kembali menular.

Semakin tinggi R0, semakin tinggi proporsi populasi yang perlu kebal untuk menghentikan penyebarannya.

“Semakin tinggi proporsi dalam populasi yang terinfeksi, semakin sedikit tempat untuk virus itu, semakin sedikit orang yang rentan untuk ditularkan,” kata Greta Bauer, epidemiolog dan biostatistia di Western University di Ontario, Kanada seperti dikutip dari fivethirtyeight.

Namun untuk virus corona Bauer masih belum yakin berapa R0 itu, sehingga belum mengetahui apa ambang batas herd immunity. Saat ini diperkirakan ambang batas berkisar antara 70 hingga 90 persen.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.