Kompas.com - 12/05/2020, 21:05 WIB
Mass Rapid Transit (MRT) Singapura jalur Utara-Selatan atau warna ungu terlihat kosong-melompong Sabtu malam (25/04/2020). MRT Singapura memang terlihat lebih lengang sejak pemerintah Singapura memberlakukan kebijakan circuit breaker atau lockdown parsial mulai Selasa (7/4/2020) KOMPAS.com/ERICSSEN Mass Rapid Transit (MRT) Singapura jalur Utara-Selatan atau warna ungu terlihat kosong-melompong Sabtu malam (25/04/2020). MRT Singapura memang terlihat lebih lengang sejak pemerintah Singapura memberlakukan kebijakan circuit breaker atau lockdown parsial mulai Selasa (7/4/2020)

KOMPAS.com - Mencapai herd immunity terhadap Covid-19 melalui infeksi alami pada populasi akan menyebabkan jumlah kematian dan infeksi yang lebih tinggi.

Selain itu juga dapat membebani sistem perawatan kesehatan apabila pasien membludak. Singapura, meskipun disebut-sebut memiliki layanan kesehatan yang baik di dunia tidak mau mengambil opsi menjalankan herd immunity. 

Hal itu diungkapkan Direktur Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) Kenneth Mak saat briefing virtual pada hari Selasa (12/5/2020) dilansir dari Straits Times Singapore.

Mak menjelaskan bahwa Singapura harus "membayar sangat mahal" untuk mencapai herd immunity, oleh karena itu cara ini belum menjadi bagian dari strategi Singapura untuk memerangi pandemi virus coronavirus. .

"Jika kita berasumsi bahwa kita akan membiarkan Covid-19 menyebar bebas dalam populasi kita, maka kita harus menerima kenyataan akan ada lebih banyak lansia jatuh sakit, lebih banyak lansia yang mengalami komplikasi, dan sejumlah besar lansia bisa meninggal karena infeksi," kata Mak.

Baca juga: Update Virus Corona di ASEAN: Singapura Kasus Tertinggi, Malaysia Terbanyak Sembuh

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Risiko kesehatan pasien

Selain itu, Mak juga menyebut risiko rumah sakit dan juga ruang ICU yang akan dibanjiri oleh pasien Covid-19.

Menurutnya, jika Singapura berhasil mengendalikan penyebaran virus corona dengan baik, maka Singapura tidak akan perlu mengandalkan herd immunity, kecuali kekebalan yang diperoleh dari vaksin.

Para pakar memperkirakan sekitar 60 sampai 80 persen populasi harus terinfeksi dan memeroleh kekebalan dari virus tersebut sehingga herd immunity bisa dicapai.

Namun, perkiraan tersebut hanyalah "dugaan terbaik" seperti dikatakan oleh Vernon Lee, direktur divisi penyakit menular MOH.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.