5 Fakta soal Didi Kempot, Sang Legenda Berjuluk The Godfather of Broken Heart...

Kompas.com - 06/05/2020, 07:38 WIB
Penyanyi Didi Kempot menggelar konser di The Pallas, SCBD, Jakarta Selatan, Jumat (6/12/2019). Konser bertajuk The Lord of Loro Ati ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan. KOMPAS.com/M LUKMAN PABRIYANTOPenyanyi Didi Kempot menggelar konser di The Pallas, SCBD, Jakarta Selatan, Jumat (6/12/2019). Konser bertajuk The Lord of Loro Ati ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan.

Koyo ngene rasane wong nandang kangen...
Rino wengi atiku rasane peteng...
Tansah kelingan kepingin nyawang...
Sedelo wae uwis emoh tenan...

KOMPAS.com - Siapa yang tak hafal sepenggal lirik di atas, sebuah lagu ciptaan legenda musik campursari, Didi Kempot, yang berjudul Pamer Bojo.

Namun, kini sang legenda yang memiliki julukan The Godfather of Broken Heart tersebut telah tiada dan meninggalkan kita semua.

Didi Kempot meninggal dunia karena henti jantung mendadak (HJM) pada Selasa (5/5/2020) pagi di RS Kasih Ibu, Surakarta, Jawa Tengah.

Berikut 5 fakta mengenai Didi Kempot:

1. Awalnya musisi jalanan

Warga melewati poster ucapan duka cita untuk mengenang penyanyi campursari Dionisius Prasetyo atau Didi Kempot yang meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020). Didi Kempot meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Selasa (5/5/2020), dan rencananya akan dimakamkan di tempat kelahiran Ngawi, Jawa Timur.ANTARA FOTO/MAULANA SURYA Warga melewati poster ucapan duka cita untuk mengenang penyanyi campursari Dionisius Prasetyo atau Didi Kempot yang meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020). Didi Kempot meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Selasa (5/5/2020), dan rencananya akan dimakamkan di tempat kelahiran Ngawi, Jawa Timur.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelum menjadi legenda musik camprsari, pemilik nama asli Dionisius Prasetyo ini dulunya adalah seorang musisi jalanan.

Dilansir Harian Kompas, 29 September 2019, Didi pernah menghabiskan 10 tahun mengamen di Keprabon, pusat jajanan di Kota Solo, Jawa Tengah.

Saat itu, ia tergabung dengan kelompok bernama Kelompok Pengamen Trotoar. Akronim dari kelompok itulah yang kelak dijadikan Didi nama panggungnya, Didi Kempot.

Menjelang akhir 1985, ia bersama teman-temannya memberanikan diri mengadu nasib di Jakarta.

Setelah lagu-lagunya mengudara di jalanan beberapa waktu, baru pada 1989 Didi mendapat kesempatan merekam karyanya dalam bentuk album. Lagu "Cidro", "We Cen Yu" (Kowe Pancen Ayu), dan "Moblong-moblong" berada di album perdana itu.

Baca juga: [POPULER TREN] Mengenang Kepergian Didi Kempot | 18 Provinsi dengan Nol Kasus Baru Covid-19

2. Musisi spesialis patah hati

Didi Kepot tampil di acara Kemendikbud yaitu Pekan Kebudayaan Nasional, Oktober 2019. Dok. Dokumentasi PKN 2019, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Didi Kepot tampil di acara Kemendikbud yaitu Pekan Kebudayaan Nasional, Oktober 2019.

Banyak lagu ciptaan Didi Kempot bertemakan patah hati.

Beberapa di antaranya adalah Pamer Bojo, Kangen Nickerie, Banyu Langit, Layang Kangen, Ambyar, Cidro, dan masih banyak lagi.

Didi Kempot pernah mengatakan, kurang lebih sebanyak 700 lagu lebih pernah ia ciptakan.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X