Mengenang Arief Budiman, Sebuah Catatan yang Sangat Personal

Kompas.com - 24/04/2020, 13:20 WIB
ARIEF BUDIMAN Sosiolog, aktivis demonstran tahun 66, kelahiran Jakarta, 3 Januari 1941 dengan nama Soe Hok Djin. Tahun 1968 lulus Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, tahun 1980 meraih Ph.D dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat. KOMPAS/Hasanuddin AssegafARIEF BUDIMAN Sosiolog, aktivis demonstran tahun 66, kelahiran Jakarta, 3 Januari 1941 dengan nama Soe Hok Djin. Tahun 1968 lulus Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, tahun 1980 meraih Ph.D dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat.


INI adalah catatan yang sangat personal tentang sosok Prof Arief Budiman yang saya kenal.

Adalah Prof Arief Budiman yang pertama mempertemukan saya dengan mahaguru keberpihakan pada kaum tertindas saya, Gus Dur, pada upacara pernikahan putri beliau di taman sederhana nan indah griya beliau yang dirancang oleh Romo Mangunwjijaya.

Adalah Prof Arief Budiman yang mendukung kekeliruan saya menggagas Kelirumologi bahkan nekat mendirikan Pusat Studi Kelirumologi sebab Sang Pelopor Golput meyakini tidak ada orang lain yang lebih sering berbuat kekeliruan ketimbang saya.

Adalah Prof Arief Budiman yang mengabulkan permohonan saya untuk membuat kata pengantar bagi buku perdana saya tentang kelirumologi dengan rekor kata pengantar pertama di alam semesta yang menegaskan (menghasut?) bahwa sebenarnya sangat keliru jika membaca apalagi membeli buku yang dikata-pengantari oleh doktor sosiologi jebolan Universitas Harvard itu.

Adalah Prof Arief Budiman yang menyalahkan istri tercintanya, Leila Chairani sebab pada berbagai forum seminar psikologi sudi terpancing berdebat dengan seorang yang goblog tapi ngeyelan seperti saya yang tidak mau menyia-nyiakan kehormatan menjadi moderator Mbak Leila yang saya hormati.

Baca juga: Arief Budiman di Mata Sang Istri: Akademisi yang Mencari Kebenaran

Adalah Prof Arief Budiman yang menyadarkan saya bahwa gender bukan hanya nama alat musik tradisional jawa tetapi juga istilah psikososial untuk membedakan peran berdasar jenis kelamin.

Adalah Prof Arief Budiman sebagai ketua Departemen Studi Indonesia di Universitas Melbourne yang memberikan kehormatan bagi saya di forum terhormat Melbourne University berbicara tentang Indonesia dilengkapi penampilan karya video potpourri para tokoh nasional Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Pusaka mahakarya Ismail Marzuki nan legendaris menggetar sukma itu.

Adalah Prof Arief Budiman yang memberikan suri-teladan perilaku keberpihakan ke kaum tertindas dengan aksi pembelaan nyata terhadap para tukang becak yang digusur penguasa di Salatiga.

Baca juga: Meninggal Dunia, Berikut Sosok Arief Budiman yang Dikenal Konsisten Membela Kaum Marjinal

Adalah Prof Arief Budiman yang mengajari saya tentang berani bicara yang benar sebagai yang benar dengan menyatakan dirinya tidak keberatan disebut dengan sebutan rawan dianggap cemooh bagi etnis tertentu sebab memang benar bahwa kakanda Soe Hok Gie seorang warga Indonesia keturunan etnis tertentu.

Adalah Prof Arief Budiman sebagai penandatangan Manifesto Kebudayaan 1963 yang memberikan warisan kesadaran kepada saya bahwa cinta Indonesia bukan dibuktikan dengan sekadar sebutan atau predikat namun dengan kenyataan sikap dan perilaku.

Dari lubuk sanubari terdalam, dengan penuh kerendahan hati, saya memanjatkan doa permohonan Yang Maha Kasih berkenan menerima arwah seorang putra terbaik Nusantara di sisi Yang Maha Kasih di alam baka. Amin.

______

Catatan Editor: Ada perubahan penggunaan kata karena dirasa kurang tepat dan kurang sensitif untuk beberapa pihak. Demikian perubahan dilakukan. Terima kasih 


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X