Menilik Bagaimana China Gunakan Kontrol Sosial untuk Atasi Pandemi Corona

Kompas.com - 23/04/2020, 08:02 WIB
Petugas medis memeriksa pasien Covid-19 di Rumah Sakit Leishenshan, Wuhan, China. Rumah sakit itu bakal ditutup setelah pasien terakhir virus corona dipindahkan. Sky NewsPetugas medis memeriksa pasien Covid-19 di Rumah Sakit Leishenshan, Wuhan, China. Rumah sakit itu bakal ditutup setelah pasien terakhir virus corona dipindahkan.

KOMPAS.com - Kehidupan di saat penguncian wilayah atau lockdown yang ketat di Kota Wuhan, China, adalah pengingat masa lalu bagi warga berusia lanjut.

Wuhan merupakan kota pertama di mana virus SARS-CoV-2 mulai merebak sejak Desember 2019.

Dilansir dari SCMP, Rabu (22/4/2020) salah satu warga Wuhan, Jiang Hong (75) mengisahkan bahwa selama tiga bulan terakhir menyerupai kehidupan di era Mao Zedong.

Mao Zedong merupakan mantan presiden China sekaligus pemimpin Partai Komunis China.

"Ini benar-benar deja vu, seperti mengalami kembali tahun 1960-an, ketika kami tinggal di komune orang dan semuanya diurus tetapi Anda tidak punya pilihan," ujar pensiunan tersebut.

Baca juga: Berikut 8 Organ Dalam yang Terdampak Saat Tubuh Terinfeksi Covid-19

Namun pada 2020, ia mengatakan para pejabat menggunakan smartphone alih-alih pengeras suara untuk menyampaikan pesan mereka.

Dan orang-orang tidak lagi bergantung pada kupon makanan yang banyak digunakan di China pada tahun 60-an untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok.

Seperti banyak penduduk lanjut usia, Jiang harus belajar menggunakan aplikasi media sosial WeChat untuk beradaptasi dengan "kehidupan kolektif baru" -nya.

Semua penghuni di "sel" komunitasnya terhubung melalui grup WeChat tempat mereka menerima pesan pemerintah dan melakukan pembayaran online.

Sel-sel ini membentuk sistem pemantauan lingkungan dan manajemen lingkungan berbasis grid yang ada di seluruh China.

Baca juga: Kenali Tanda dan Gejala Infeksi Virus Corona pada Anak-anak

Krisis nasional

Seorang penduduk membayar makanan dengan berdiri di atas pagar pembatas di pasar basah Wuhan, provinsi Hubei, China. Foto diambil pada 1 April 2020.ALY SONG/REUTERS Seorang penduduk membayar makanan dengan berdiri di atas pagar pembatas di pasar basah Wuhan, provinsi Hubei, China. Foto diambil pada 1 April 2020.

Asisten profesor komunikasi di Universitas Stanford, Jennifer Pan menggambarkan hak tersebut sebagai peningkatan sistem manajemen unit rumah tangga perkantoran yang telah ada sejak era Mao.

Menurut analis politik independen, Chen Daoyin, model ini adalah versi modern dari kontrol otokratis terpusat yang telah ada di China sejak dinasti Qing.

Ia menjelaskan, tindakan itu menyatukan sistem pendaftaran rumah tangga dan jaringan komite lingkungan yang diperkenalkan segera setelah berdirinya China komunis pada 1949 lalu, dan teknologi internet telah membawa era lebih jauh.

"(China dapat melakukan ini karena) ini adalah otokrasi terpusat, jika tidak, sistem seperti itu akan sangat sulit untuk dikelola," ujar Chen.

"Selain itu, pandemi ini adalah krisis nasional yang memungkinkan negera untuk membenarkan kontrol kejamnya. Tapi ini mengorbankan otonomi dan vitalitas publik," lanjut dia.

Baca juga: Jadi Pandemi Global, Kenali 3 Gejala Awal Covid-19

Pengawasan kedap air

Seorang penumpang mengenakan pakaian pelindung diri melintas di Bandara Tianhe yang baru dibuka kembali di Wuhan, Hubei, China, Rabu (8/4/2020). Ribuan orang bergegas meninggalkan Wuhan setelah otoritas mencabut kebijakan lockdown selama lebih dari dua bulan di lokasi yang diketahui sebagai episenter awal virus corona tersebut.AFP/HECTOR RETAMAL Seorang penumpang mengenakan pakaian pelindung diri melintas di Bandara Tianhe yang baru dibuka kembali di Wuhan, Hubei, China, Rabu (8/4/2020). Ribuan orang bergegas meninggalkan Wuhan setelah otoritas mencabut kebijakan lockdown selama lebih dari dua bulan di lokasi yang diketahui sebagai episenter awal virus corona tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X