Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dilema PSK di Tengah Pandemi Corona, antara Takut Tertular dan Kehilangan Pelanggan

Kompas.com - 20/04/2020, 19:03 WIB
Jawahir Gustav Rizal,
Virdita Rizki Ratriani

Tim Redaksi

Selain itu, Cici juga meminta mereka mengenakan masker dan mencuci tangannya. "Jika mereka menolak mengenakan masker, maka saya terpaksa meminta mereka pergi," kata Cici.

Baca juga: ABK KM Kelud Positif Corona Nekat Pulang Jenguk Istri, 20 Warga se-Desa Dikarantina

Perempuan yang pindah dari China daratan ke Hong Kong tujuh tahun lalu ini, selalu membersihkan kamarnya sebelum dan sesudah melayani pelanggan.

Ketakutannya akan Covid-19 sama besarnya dengan ketakutannya akan kehilangan pekerjaan.

"Saya tidak ingin pergi ke pusat karantina, karena saya akan kehilangan pendapatan saya lebih banyak lagi," kata perempuan asli Sichuan ini.

Terlepas dari semua langkah pencegahan yang telah dia lakukan, Cici sadar bahwa dia mempertaruhkan nyawanya sendiri saat ini. "Ini memang berbahaya," keluh Cici.

Baca juga: Banyak Tenaga Medis Terinfeksi Corona, Pemicunya Pasien Tidak Jujur

Tidak ada tempat mengadu

Juru bicara Zi Teng, kelompok pendampingan PSK Hongkong, menyebut bahwa mayoritas PSK mengalami penurunan pendapatan sejak tahun lalu, ketika demonstrasi anti-pemerintahan pertama kali digelar di bulan Juni.

Pandemi virus corona kian memperburuk keadaan, karena pendapatan semakin menurun dan sulitnya mendapatkan alat pelindung diri, seperti masker dan hand sanitizer.

Beberapa dari mereka juga menerima tindak kekerasan dari pelanggan. Selain itu, banyak pelanggan yang menolak membayar dan bahkan merampok mereka.

Baca juga: Perhatian Gubernur Bantu Proses Penyembuhan Pasien Corona di Bengkulu

 

"Pelanggan-pelanggan ini juga mengenakan masker sehingga sulit untuk mengidentifikasi mereka," kata Ann Lee, seorang pendamping PSK. Ann juga menyebut bahwa respon polisi terhadap kejadian ini sangat lamban.

Zi Teng memperkirakan ada lebih dari 100 ribu PSK di Hong Kong. Sebanyak 90 persen dari mereka berasal dari China daratan dan sisanya kebanyakan datang dari negara-negara Asia Tenggara dan Eropa Timur.

Baca juga: UPDATE Corona Kalsel: Pasien Positif Corona Kini 95, 9 Orang Sembuh

Keterbatasan sumber daya

Karena keterbatasan sumber daya untuk melengkapi staf dan relawannya dengan APD, Zi Teng telah mengurangi layanan yang bersifat tatap muka.

Layanan tersebut seperti penyuluhan dan pembagian kondom untuk PSK. Workshop terkait keselamatan kerja juga dibatalkan, serta bantuan tes kesehatan gratis juga sudah tidak diberikan lagi.

Baca juga: Tolak Isolasi, PDP Corona Asal Samarinda Kembali Mengamuk di Rumah Sakit

"Klinik-klinik pemerintah juga banyak yang ditutup sehingga mereka menghadapi risiko penyakit seksual menular," kata Ann.

Ann juga menyebut bahwa para wanita ini tidak memiliki tempat untuk mengadu di Hong Kong.

"PSK biasanya diabaikan oleh pemerintah. Seolah mereka tidak menyadari keberadaan PSK di masyarakat," kata Ann.

Baca juga: Berapa Lama Proses Kesembuhan Infeksi Virus Corona?

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com