Dilema PSK di Tengah Pandemi Corona, antara Takut Tertular dan Kehilangan Pelanggan

Kompas.com - 20/04/2020, 19:03 WIB
Seorang pekerja seks komersial (PSK) duduk dalam kegelapan saat  menunggu pelanggan di dekat sebuah distrik bar populer di Shanghai, China, pada 7 Juni 2003. REUTERS/Claro CortesSeorang pekerja seks komersial (PSK) duduk dalam kegelapan saat menunggu pelanggan di dekat sebuah distrik bar populer di Shanghai, China, pada 7 Juni 2003.

KOMPAS.com - Pekerja Seks Komersial ( PSK) menghadapi risiko kesehatan yang besar dan rentan mengalami kekerasan selama pandemi corona berlangsung. Hal ini diperparah dengan menurunnya pendapatan mereka.

Melansir South China Morning Post , Sabtu (18/4/2020) Cici, seorang ibu dari dua anak perempuan, telah menjadi PSK di Hong Kong selama kurang lebih empat tahun.

Namun, dirinya kini merasa kesulitan untuk bertahan hidup di salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia itu.

"Saya tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya," kata Cici yang sekarang berusia 30-an tahun.

Baca juga: Dampak Corona, Inggris Gelontorkan Rp 25,6 Triliun untuk Startup

Sejak kasus infeksi virus corona ditemukan di Hong Kong pada bulan Januari, masyarakat telah diminta menerapkan social distancing.

Sedikitnya orang yang keluar dari rumah telah memengaruhi pendapatan harian Cici.

"Sebelumnya, saya bisa mendapat 1.000 dollar Hong Kong tiap hari, sekarang saya bahkan kesulitan untuk mendapat satu pelanggan saja," kata Cici.

Rasa cemas menghantui Cici setiap hari. Tidak hanya karena faktor keuangan tapi juga karena dia sadar bahwa dia terancam terpapar infeksi virus corona.

Baca juga: 1 Kru Positif Corona, KM Bukit Raya Batal Berlayar dan Semua ABK Isolasi Mandiri

"Setiap pelanggan yang datang bisa saja terjangkit virus dan saya selalu merasa takut. Saya takut jika saya menulari anak-anak saya," kata Cici yang tinggal di sebuah rumah bordil di Kowloon.

PSK seperti Cici tidak hanya terancam oleh virus corona tetapi mereka juga kesulitan untuk mengakses klinik dan lembaga swadaya yang mendampingi mereka karena kebijakan karantina dan social distancing yang tengah diberlakukan. 

Baca juga: Pandemi Corona, Shalat Tarawih dan Idul Fitri di Makassar Dilaksanakan di Rumah

Hal ini menyebabkan mereka menjadi lebih rentan terhadap penyakit seksual menular dan ancaman eksploitasi.

Beberapa PSK mengaku bahwa pelanggan mereka menjadi lebih kasar dan ada pula PSK yang harus menggunakan cara-cara berisiko untuk mendapat pelanggan.

Bahkan, dalam beberapa kasus ekstrim yang terjadi di India, PSK terpaksa harus berutang uang hanya untuk membeli makanan.

Baca juga: Konser Amal One World: Together At Home Raih 128 Juta Dollar AS, Hasilnya Disumbangkan Lawan Corona

Mencoba menjaga kesehatan

Sejak wabah corona menyebar, Cici telah menyesuaikan caranya bekerja dan berusaha menjaga kesehatan.

"Saya akan mengecek suhu tubuh pelanggan terlebih dahulu, sebelum memasuki kamar," kata dia.

Selain itu, Cici juga meminta mereka mengenakan masker dan mencuci tangannya. "Jika mereka menolak mengenakan masker, maka saya terpaksa meminta mereka pergi," kata Cici.

Baca juga: ABK KM Kelud Positif Corona Nekat Pulang Jenguk Istri, 20 Warga se-Desa Dikarantina

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X