Syukuromologi dan Kualatisme, Belajar Bersyukur dengan Bijak

Kompas.com - 20/04/2020, 12:18 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.


MAKNA kata “syukur” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “rasa terima kasih kepada Tuhan”.

Maka layak disimpulkan bahwa mensyukuri merupakan suatu perasaan positif dan konstruktif selaras makna adiluhur sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Bahagia

Secara eudaimonialogis alias ilmu yang mempelajari rasa bahagia, memang manusia merasa bahagia apabila mau dan mampu mensyukuri Anugrah Yang Maha Kasih bagi dirinya.

Demi merasa bahagia, kearifan tradisional Jawa mengajarkan kemampuan dan kemauan manusia bukan meratapi apa yang belum dimiliki namun mensyukuri apa yang sudah dimiliki.

Semisal kaki kanan saya tersandung batu maka saya wajib bersyukur bahwa kaki kiri saya tidak ikut tersandung.

Namun bahagia merupakan suatu bentuk perasaan nisbi plus subyektif serta kontekstual. Maka rasa syukur perlu ditelaah secara lebih teliti, cermat dan saksama demi menghindari generalisasi gebyah-uyah pukul rata yang rawan menghilangkan sisi positif dan konstruktif pada rasa syukur .

Syukuromologi

Memang bijak apabila kita mensyukuri apa yang telah kita miliki. Misalnya pada saat menulis naskah ini, saya mensyukuri bahwa diri saya masih belum terpapar virus Corona meski saya sudah berusia 71 tahun maka harus siap setiap saat terpapar penyakit menular yang ganas merusak saluran pernafasan itu.

Setiap saat saya harus siap meninggalkan dunia fana akibat angkara murka pagebluk Corona.

Maka hukumnya wajib bagi saya untuk bersyukur belum tertular penyakit saluran pernafasan yang bukan saja menular namun juga membinasakan itu.

Hukumnya juga wajib bahwa saya mensyukuri sesama manusia yang tidak terpapar Covid-19 sambil berdoa memohon kesembuhan bagi sesama manusia yang kebetulan telah terpapar Virus Corona.

Tidak bijak

Namun kurang bijak menganjurkan orang lain bersyukur apabila kebetulan orang lain itu tidak memiliki yang layak disyukuri.

Misalnya kurang bijak memaksa rakyat tergusur untuk mensyukuri nasib mereka digusur.

Kurang bijak menganjurkan kaum miskin mensyukuri nasib tidak mampu membayar biaya perawatan kesehatan atau iuran BPJS.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X