Salah Kaprah Stigmatisasi dan Diskriminasi terhadap Pasien Covid-19

Kompas.com - 13/04/2020, 16:44 WIB
Petugas pemakaman menurunkan peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020). Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto per Senin (30/3/2020) pukul 12.00 WIB menyatakan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1.414  kasus, pasien yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 75 orang, sementara kasus kematian bertambah delapan orang dari sebelumnya 114 orang menjadi 122 orang. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAPetugas pemakaman menurunkan peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020). Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto per Senin (30/3/2020) pukul 12.00 WIB menyatakan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1.414 kasus, pasien yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 75 orang, sementara kasus kematian bertambah delapan orang dari sebelumnya 114 orang menjadi 122 orang. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.

Ketidakpastian faktor penyebab penyebaran penyakit yang diderita. Minimnya penelitian atas faktor penyebaran penyakit yang diderita turut bersumbangsih atas ada atau tidaknya stigma yang dilekatkan pada pasien.

Pada kasus Covid-19, tingkat kecemasan masyarakat kian meningkat manakala munculnya informasi bahwa transmisi penyakit dapat terjadi melalui udara (airbone transmition), bukan hanya melalui percikan cairan tubuh pasien (droplet transmition). Namun, penelitian lebih lanjut masih dilakukan atas informasi transmisi tersebut.

4. Minimnya informasi masyarakat atas penyakit

Informasi masyarakat atas penyebaran, pencegahan, maupun penyembuhan penyakit adalah faktor terakhir yang dinilai cukup signifikan atas adanya stigamatisasi dan perilaku diskriminasi kepada pasien Covid-19.

Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, perlu lebih meningkatkan informasi terkait penyebaran dan pencegahan Covid-19 kepada masyarakat.

Dengan begitu, stigmatisasi yang berujung pada perilaku diskriminasi kepada ODP maupun PDP Covid-19 tidak terjadi.

Beberapa langkah yang cukup baik sudah dilakukan Kementerian Dalam Negeri. Menteri Dalam Negeri beserta sejumlah pejabat terkait, seperti Kepala Polri dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), telah mengeluarkan respons terkait fenomena ini.

Mereka telah menyatakan bahwa tindakan penolakan pemakaman jenazah Covid-19 tidak dibenarkan dan tidak berdasar. Karena, prosedur pemakaman jenazah tersebut telah memenuhi protokol pemulasaran jenazah yang dikeluarkan WHO sehingga tidak akan menularkan warga yang tinggal di area sekitar pemakaman.

Begitu juga dengan penolakan petugas medis di sejumlah indekos atau kontrakan. Jelas sekali bahwa perilaku tersebut tidak dapat dibenarkan dan tidak memiliki alasan yang mendasar, sebab para petugas medis bertugas dengan dilengkapi alat pelindung diri (APD) dan berbagai protokol penanganan kesehatan yang ketat.

Sehingga, transmisi Covid-19 di lingkungan tempat ia tinggal berisiko minim dan perilaku diskriminasi yang dilakukan masyarakat tempat ia tinggal tidaklah berdasar.

Perilaku diskriminasi tersebut hanyalah merupakan bentuk stigmatisasi semata sebagai bentuk kecemasan masyarakat atas penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Untuk itu, edukasi masyarakat melalui sosial media berperan penting dalam menghapus stigmatisasi dan perilaku diskriminasi pada ODP dan PDP Covid-19.

Ke depan, pemerintah perlu lebih banyak merangkul berbagai tokoh masyarakat dan influencer untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai apa dan bagaimana transmisi Covid-19 dapat terjadi.

Selain itu, pemerintah juga perlu untuk lebih melibatkan universitas dan para peneliti kesehatan untuk lebih memperbanyak penelitian mengenai bagaimana proses transimisi Covid-19 beserta cara pengobatannya.

Hal itu perlu untuk menekan kecemasan dan memunculkan optimisme masyarakat bahwa wabah ini dapat berakhir dan disembuhkan.

Annisa Rizkiayu, S.Psi, M.Psi, Psikolog
Pengamat kebijakan publik, dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

 

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X