Hikmah Pandemi Covid-19 terhadap Riset dan Pengetahuan

Kompas.com - 07/04/2020, 11:51 WIB
Suku Dinas Penanggulang Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin PKP) Jakarta Pusat melakukan penyemprotan carian disinfektan di kawasan Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Sudin PKP Jakarta PusatSuku Dinas Penanggulang Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin PKP) Jakarta Pusat melakukan penyemprotan carian disinfektan di kawasan Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Oleh: Leksmono Suryo Putranto

SEJAK terjadinya pandemi Covid-19 dan banyak dari kita yang telah bekerja dari rumah, tanpa terasa kita menyerap dengan sangat cepat berbagai perkembangan terkait Covid-19, baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan virus tersebut.

Hal ini dimungkinkan dengan pemberitaan yang masif di media massa tentang Covid-19 dan diperkuat dengan penggunaan media sosial yang dengan sangat mudah meneruskan teks, gambar, audio, dan video baik secara pribadi maupun melalui kelompok.

Salah satu yang mungkin tidak terlalu kita sadari adalah tiba-tiba kita menjadi sangat ahli tentang seluk-beluk virus tersebut terutama cara penyebarannya dan cara menghindari infeksi.

Mari kita mulai dari yang paling terkait dahulu. Yaitu dengan sangat cepat masyarakat teredukasi mengenai definisi virus. Menurut Koonin et al (2006), virus adalah mikroorganisme patogen yang menginfeksi sel makhluk hidup.

Virus hanya dapat bereplikasi di dalam sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Semua bentuk kehidupan dapat diinfeksi oleh virus, mulai dari hewan, tumbuhan, bakteri, dan arkea.

Organisasi kesehatan dunia, WHO mengatakan cara penyebaran virus corona melalui tetesan kecil yang keluar dari hidung atau mulut ketika mereka yang terinfeksi virus bersin atau batuk.

Tetesan itu kemudian mendarat di benda atau permukaan yang disentuh dan orang sehat. Lalu orang sehat ini menyentuh mata, hidung atau mulut mereka.

Virus Covid-19 juga bisa menyebar ketika tetesan kecil itu dihirup oleh orang sehat ketika berdekatan dengan yang terinfeksi Covid-19.

Dari sinilah kemudian terjadi perdebatan di kalangan para ahli mengenai apakah virus Covid-19 tersebut menyebar melalui tetesan (droplet) di suatu permukaan atau dapat juga melalui udara (airborne).

Akhirnya diskusi makin berkembang ke arah ukuran partikel yang menetes (berukuran kurang dari 20 mikromilimeter) dan ukuran partikel yang tersebar melalui udara (berupa aerosol berukuran kurang dari 10 mikromilimeter). Luar biasa!

Sehubungan dengan cara penyebaran tersebut, maka muncullah berbagai rekomendasi untuk mencegah penyebaran virus tersebut, antara lain berupa kampanye masif agar tidak menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan, tidak berjabatan tangan dan sering mencuci tangan di bawah air mengalir dengan menggunakan sabun selama sekurangnya 20 detik untuk menghancurkan membran sel virus.

Karena tetesan virus bisa menempel di berbagai permukaan, seperti meja, tuas pintu, tombol lift/ATM, lantai, maka disarankan untuk sering membersihkan permukaan-permukaan benda yang rentan jadi media penularan tersebut.

Terjadi juga diskusi yang hangat tentang penggunaan masker serta jenisnya. Mulanya sebagian besar praktisi kesehatan hanya menyarankan penggunaan masker bagi yang sedang kurang sehat yang menyebabkan seseorang sering batuk dan bersin untuk menghindari menyebarnya tetesan virus.

Namun, dengan berkembangnya pendapat tentang penyebaran yang melalui udara, maka penggunaan masker untuk yang sedang berkegiatan di luar rumah menjadi sangat disarankan.

Apalagi, telah pula beredar berbagai video mengenai kebiasaan baik menggunakan masker di tempat umum di Jepang dan Ceko yang menyebabkan di kedua negara tersebut penyebaran virus Covid-19 lebih tekendali.

Diskusi mengenai masker pun berkembang mengenai berbagai jenis masker, cara penggunaan yang benar, dan alternatif masker buatan rumahan yang tetap bermanfaat untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Beranjak ke aspek yang jauh lebih ke arah riset terkini. Saya memperoleh video yang sangat menarik tentang observasi yang dilakukan para peneliti di Wuhan, China, yang mengambil sampel aerosol di tiga tempat.

Ketiga tempat itu adalah Renmin Hospital of Wuhan University untu merawat pasien Covid-19 dengan gejala berat, Rumah Sakit Lapangan Wuchang Fangcang (hasil renovasi stadion olahraga indoor untuk pasien Covid-19 dengan gejala ringan), dan pada area publik terbuka di Wuhan selama wabah.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X