Di New York, Ditemukan Banyak Pasien Berusia Muda yang Terinfeksi Virus Corona

Kompas.com - 03/04/2020, 11:08 WIB
Deretan tempat tidur disiapkan di dalam tenda rumah sakit lapangan darurat yang didirikan sukarelawan dari organisasi bantuan Kristen Internasional Samaritans Purse untuk pasien virus corona di Central Park, New York, Senin (30/3/2020). AS kini resmi menjadi epicenter corona di dunia dengan data hingga Selasa (31/3/2020) terdapat 163.429 kasus positif dan korban meninggal 3.148 orang, melebihi Italia, China, dan Spanyol. AFP/BRYAN R SMITHDeretan tempat tidur disiapkan di dalam tenda rumah sakit lapangan darurat yang didirikan sukarelawan dari organisasi bantuan Kristen Internasional Samaritans Purse untuk pasien virus corona di Central Park, New York, Senin (30/3/2020). AS kini resmi menjadi epicenter corona di dunia dengan data hingga Selasa (31/3/2020) terdapat 163.429 kasus positif dan korban meninggal 3.148 orang, melebihi Italia, China, dan Spanyol.

KOMPAS.com - Sejak dilaporkan pertama pada akhir tahun lalu, banyak data menunjukkan bahwa virus corona sebagian besar menyerang mereka yang berusia lanjut atau lansia.

Kekebalan tubuh yang lemah menjadi faktor utama para lansia masuk dalam kelompok rentan yang berpotensi terinfeksi virus corona.

Namun, baru-baru ini dokter dan petugas kesehatan di New York menemukan banyaknya pasien berusia muda yang dirawat di rumah sakit akibat virus corona.

Menurut data Departemen Kesehatan Kota, New York menjadi daerah episentrum virus di Amerika Serikat dan sekitar 1 dari 5 pasien rawat inap berusia di bawah 44 tahun.

Sementara, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, kasus infeksi virus corona sedang hingga parah secara global terjadi pada 10-15 persen orang dewasa di bawah usia 50 tahun.

Pada Jumat (27/3/2020), seorang pasien berusia 32 tahun di Rumah Sakit Mount Sinai Morningside Manhattan mendatangi dokter Kaedrea Jackson dan bertanya, "Apakah saya akan mati?".

Baca juga: Wabah Virus Corona, Dokter di New York Bersiap Kondisi Terburuk

Pria muda itu tak memiliki kondisi medis yang mendasarinya. Akan tetapi, ia mengalami demam, sesak napas, dan kadar oksigennya turun dengan cepat.

Ia datang ke unit gawat darurat rumah sakit empat hari sebelumnya, tetapi disuruh pulang, minum air, minum Tylenol, dan karantina mandiri.

Pria itu kembali ke rumah sakit dengan kondisi yang semakin buruk.

"Tingkat ketakutan di matanya sangat mencolok bagi saya. Ia sangat takut dan masih sangat muda," kata Jackson, seorang dokter pengobatan darurat, seperti dilansir dari Bloomberg.

Selama berbulan-bulan, pesan dari pihak berwenang adalah bahwa orang yang lebih tua berada pada risiko tertinggi.

Hal ini kemudian membuat para pejabat kesehatan mengambil tindakan keras kepada orang berusia 20 dan 30-an tahun untuk tinggal di rumah demi menghindari penularan penyakit terhadap para lansia.

Pada pertengahan Maret 2020, keyakinan itu berubah ketika seorang pejabat tinggi kesehatan Gedung Putih memperingatkan bahwa orang-orang muda di Italia dan Perancis jatuh sakit.

Tren kasus virus corona pada orang muda pun muncul di AS.

"Banyak sekali pasien yang tidak cocok dengan gambaran yang kami sampaikan dari Tiongkok atau Italia. Ini bukan hanya pasien usia lanjut; siapa saja," kata Jackson.

Ia memperkirakan, sebanyak 20 persen dari kasus yang dikonfirmasi di rumah sakit merupakan pasien di bawah usia 50 tahun.

Baca juga: Hadapi Wabah Corona, Wali Kota New York: Kami Hanya Miliki Stok Alat untuk Seminggu

Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X