Bisa Dipraktikkan, Masker Kain Homemade Rekomendasi ITB

Kompas.com - 02/04/2020, 08:04 WIB
Farida Intan Sari (39), seorang penjahit hijab dari Dusun Gondosuli, Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur menunjukkan masker kain buatannya yang siap dibagikan gratis bagi yang membutuhkan. KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWIFarida Intan Sari (39), seorang penjahit hijab dari Dusun Gondosuli, Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur menunjukkan masker kain buatannya yang siap dibagikan gratis bagi yang membutuhkan.

KOMPAS.com - Penyebaran wabah virus corona membuat masker bedah dan hand sanitizer menjadi barang langka di pasaran.

Masker bedah diperlukan salah satunya untuk melindungi diri dari paparan virus secara langsung.

Sebagai pencegahan, banyak warga yang mulai berinovasi dengan menggunakan masker yang terbuat dari kain, karena sejumlah hal.

Baca juga: Viral Foto Masker Bekas Seharga Rp 330.000 Dijual di Apotek di Yogyakarta

Sejumlah pihak pun mulai getol mengkampanyekan pemakaian masker dari kain sebagai pencegahan, salah satunya datang dari peneliti ITB.

Mereka mengajak masyarakat untuk membuat masker sendiri di rumah.

Inisiator campaign dari tim peneliti Design Ethnography Lab, ITB Prananda L. Malasan menjelaskan mereka membuat kampanye #bikinmaskersendiri untuk mengajak orang-orang dalam kondisi sehat membuat masker sendiri.

"Ini merupakan respons kami untuk membantu mengurangi pembelian berlebih pada masker bedah, sehingga tenaga kesehatan dan pasien mendapatkan masker tersebut," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (1/4/2020).

Prananda menjelaskan masker kain bisa dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah, seperti kain katun 100 persen (biasanya digunakan pada kaos-kaos oblong), sarung bantal, syal, serta lap meja.

Baca juga: Viral Driver Ojol Pakai Masker Gas karena Takut Terkena Virus Corona

Adapun kombinasi yang dianjurkan adalah:

  • kain katun 100 persen dan sarung bantal
  • kain katun 100 persen dan syal
  • lap meja dan kain katun 100 persen

Salah satu contoh masker kain homemade dibuat dari saputangan katun berukuran 40cm x 40 cm, kain sarung bantal, dan dua ikat rambut.

Salah satu cara pembuatan masker sendiri tanpa menjahit
designethno Salah satu cara pembuatan masker sendiri tanpa menjahit

Adapun cara membuatnya adalah sebagai berikut:

  1. Lipat kain menjadi dua
  2. Letakkan kain sarung bantal sebagai filter
  3. Lipat kain menjadi tiga
  4. Masukkan ikat rambut ke kedua sisi kain
  5. Lipat kedua sisi kain ke tengah, lalu sisipkan
  6. Balik kain ke bagian depan
  7. Tarik kedua ujungnya
  8. Masker siap digunakan

Baca juga: Menilik Upaya Rumah Sakit di Eropa Saat Menangani Virus Corona...

Tidak untuk pasien terinfeksi virus corona dan nakes

Pranada menegaskan masker tersebut bukan untuk tenaga medis.

"Harus digaris bawahi bahwa masker kain ini tidak diperuntukan bagi tenaga medis maupun pasien, karena tidak dapat menyaring droplet yang keluar dari hasil batuk/bersin," tuturnya.

Selain itu Prananda mengatakan mereka menyarankan untuk menggunakan minimal 2 lapis dengan mengkombinasikan kain-kain tersebut.

Dia juga menyarankan nakes maupun pasien terinfeksi virus corona tetap menggunakan masker bedah.

Hal itu karena masker kain tersebut tidak dapat menyaring 100 persen virus, tetapi dengan kombinasi dua layer kain tersebut, droplet yang dihasilkan bersin/batuk dari luar dapat tersaring.

Baca juga: Work from Home, Berikut Tips Lindungi Keluarga Anda di Rumah dari Virus Corona

Prananda melanjutkan, sebagai gambaran, masker bedah dapat memfilter bakteri 1 mikron sebesar 97 persen, kain lap meja dapat memfilter 83 persen, dan kain katun 100 persen dapat memfiliter sekitar 70 persen.

Meski tidak 100 persen dapat menyaring virus, penggunaan masker kain buatan sendiri dapat mengurangi intensitas menyentuh wajah dengan tangan.

Prananda menjelaskan mereka melakukan campaign tersebut sejak 24 Maret 2020 dan mereka berencana membuat kampanye lainnya untuk mengajak masyarakat membuat alat proteksi diri dari bahan-bahan rumahan dengan instruksi desain yang mudah dibuat.

Timnya terdiri dari 4 tim dosen dan peneliti, serta melibatkan 3 mahasiswa dari jurusan Desain Produk.

Baca juga: ITB Bangun Kampus di Cirebon, Berikut Konsep dan Perencanaannya

Pilihan terakhir

Meski masker kain dapat digunakan, tapi masyarakat perlu memperhatikan beberapa hal.

Dokter spesialis Paru RSUP Persahabatan Erlina Burhan mengatakan masyarakat dapat menggunakan masker kain di tempat umum dan fasilitas lain tapi perlu jaga jarak 1-2 meter untuk mencegah penularan virus corona.

Hal itu diungkapkannya sewaktu jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (1/4/2020).

Penggunaan masker kain dinilai kurang efektif mencegah penularan dan hanya bisa digunakan sebagai pilihan terakhir. Hal itu saat di pasaran masker bedah sudah mulai langka. 

Erlina menambahkan untuk mengoptimalkan penggunaan masker kain, idealnya dapat dikombinasikan dengan penutup wajah, karena 40-90 persen partikel masih bisa menembus masker.

Baca juga: Cegah Virus Corona, Dokter: Masker Dipakai Maksimal 4-8 Jam

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Uji Coba Vaksin Virus Corona Ini Menunjukkan Perkembangan Positif

Uji Coba Vaksin Virus Corona Ini Menunjukkan Perkembangan Positif

Tren
PSBB Transisi Diperpanjang, Ini 4 Kebijakan yang Diterapkan Anies

PSBB Transisi Diperpanjang, Ini 4 Kebijakan yang Diterapkan Anies

Tren
Naik Status Jadi Negara 'Upper Middle Income', Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Naik Status Jadi Negara "Upper Middle Income", Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Tren
Mengenal UU Penanganan Covid-19 yang Digugat Amien Rais, Din Syamsudiin hingga Abdullah Hehamahua

Mengenal UU Penanganan Covid-19 yang Digugat Amien Rais, Din Syamsudiin hingga Abdullah Hehamahua

Tren
BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi 4-6 Meter, Ini Wilayah yang Harus Waspada

BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi 4-6 Meter, Ini Wilayah yang Harus Waspada

Tren
Mengenang Masmimar Mangiang, Wartawan dan Guru Jurnalistik

Mengenang Masmimar Mangiang, Wartawan dan Guru Jurnalistik

Tren
Ramai soal Unggahan Menanak Nasi Dicampur Bawang Putih Diklaim Bermanfaat untuk Kesehatan, Benarkah?

Ramai soal Unggahan Menanak Nasi Dicampur Bawang Putih Diklaim Bermanfaat untuk Kesehatan, Benarkah?

Tren
Kasus Baru Virus Corona di Beijing Kemungkinan dari Asia Tenggara dan Asia Selatan

Kasus Baru Virus Corona di Beijing Kemungkinan dari Asia Tenggara dan Asia Selatan

Tren
Viral Unggahan soal Lagu Yamko Rambe Yamko, Ini Berbagai Versi Asal Muasalnya

Viral Unggahan soal Lagu Yamko Rambe Yamko, Ini Berbagai Versi Asal Muasalnya

Tren
BMKG Ingatkan soal Radiasi Sinar UV di Jabodetabek, Apa Dampaknya bagi Kulit?

BMKG Ingatkan soal Radiasi Sinar UV di Jabodetabek, Apa Dampaknya bagi Kulit?

Tren
Fitur Baru WhatsApp: Dark Mode untuk Versi Web hingga Tambah Teman dengan Kode QR

Fitur Baru WhatsApp: Dark Mode untuk Versi Web hingga Tambah Teman dengan Kode QR

Tren
Mengapa Biaya Rapid Test Berbeda-beda?

Mengapa Biaya Rapid Test Berbeda-beda?

Tren
[KLARIFIKASI] Penerima Bansos di Pulo Gadung Dipungut Biaya

[KLARIFIKASI] Penerima Bansos di Pulo Gadung Dipungut Biaya

Tren
Pencabutan Larangan Berkumpul dan Ancaman Klaster Baru Covid-19

Pencabutan Larangan Berkumpul dan Ancaman Klaster Baru Covid-19

Tren
Update Virus Corona Dunia 2 Juli: 10,7 Juta Orang Terinfeksi | Sekolah di Korea Utara Kembali Dibuka

Update Virus Corona Dunia 2 Juli: 10,7 Juta Orang Terinfeksi | Sekolah di Korea Utara Kembali Dibuka

Tren
komentar
Close Ads X