Mengapa Obat untuk Virus Corona Tak Juga Ditemukan?

Kompas.com - 29/03/2020, 13:06 WIB
7 perusahaan berpacu temukan obat yang dapat sembuhkan infeksi virus corona Shutterstock.com7 perusahaan berpacu temukan obat yang dapat sembuhkan infeksi virus corona

KOMPAS.com – Kasus virus corona secara global terus mengalami peningkatan. Puluhan ribu kematian pun dilaporkan dari berbagai belahan dunia.

Saat ini, berbagai negara tengah berpacu untuk mengembangkan obat yang efektif untuk penyakit Covid-19, dan tengah berusaha untuk menemukan vaksin yang bisa menangani virus SARS-CoV-2 ini.

Virus sendiri merupakan makhluk kecil yang menjadi salah satu ancaman terbesar yang dihadapi manusia.

Mereka telah berada di belakang pandemi dahsyat yang pernah dikenal.

Baca juga: Update Rincian Kasus Corona di 29 Provinsi di Indonesia

Dari sekian banyak virus penyebab pandemi, pengobatan modern hanya mampu memberantas satu virus yakni cacar yang juga butuh upaya vaksinasi massal global selama beberapa dekade.

SARS-CoV-2 menjadi musuh baru yang dengan cepat menyebar. Italia sendiri telah mendapati puluhan ribu kasus dan kematian mencapai lebih dari 10.000.

Lantas mengapa obat untuk Covid-19 tak juga ditemukan?

Ilustrasi corona virus (Covid-19)shutterstock Ilustrasi corona virus (Covid-19)

Virus merupakan makhluk kecil tak kasat mata yang hanya memiliki sedikit molekul, namun mereka mampu berkumpul dalam bagian-bagian kecil.

Dengan hanya satu set instruksi kecil saja keberadaan mereka, kekacauan di seluruh ekosistem bisa terjadi.

Mereka bisa berpindah antar host misalnya melalui udara.

Makhluk ini juga mengalami mutasi dengan cepat dan berada di mana-mana.

Dibandingkan agen infeksi seperti bakteri dan jamur, ukuran virus jauh lebih kecil dan sederhana.

Akan tetapi, bahkan makhluk ini mampu membuat kuman lain sakit.

Baca juga: 6 Hal yang Perlu Diketahui soal Virus Corona, Apa Saja?

Ukuran virus polio misalnya hanya selebar 30 nanometer, sementara SARS-Cov-2 sekitar 120 nanometer.

Ukuran ini lebih kecil dibanding bakteri E. Coli yang ukurannya lebih besar dari SARS-Cov-2. Dan sel darah manusia berukuran 64 kali lebih besar lagi.

Ilustrasi bakteri Clostridium botulinumist Ilustrasi bakteri Clostridium botulinum

Pada patogen seperti bakteri, mereka memiliki alat molekuler yang bermanfaat utuk memperbanyak diri sekaligus melawan infeksi mereka sendiri.

Namun sekaligus alat molekuler inilah yang disasar oleh antibiotik saat dipakai untuk melawan bakteri.

Obat-obatan ditujukan untuk mengganggu mekanisme molekuler bakteri tapi tidak pada sel manusia.

Masalahnya virus berbeda. Mereka membutuhkan inang, dan antibiotik tak mampu digunakan untuk pengobatan virus.

Baca juga: Segala Hal yang Perlu Diketahui tentang Vaksin Virus Corona

Menyerang sel

Hal ini karena virus tidak mereproduksi dirinya sendiri, akan tetapi mereka menyerang sel dan membajak mesin inang mereka untuk membuat salinan diri mereka sendiri.

“Bakteri sangat berbeda dari kita, sehingga ada banyak obat dengan target berbeda. Tapi virus mereplikasi di dalam sel, sehingga mereka menggunakan banyak mekanisme yang sama dengan yang dilakukan sel kita,” ujar Diane Griffin, Profesor Mikrobiologi dan Imunologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Bloomberg di Universitas John Hopkins.

Oleh karena itu, menurutnya sulit untuk menemukan obat yang menargetkan virus tetapi tidak merusak sel juga.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber vox.com
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X