Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Social Media Distancing, Jaga Jarak dengan Hoaks

Kompas.com - 29/03/2020, 10:37 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Sinta Paramita, SIP, MA

PEMERINTAH telah menyerukan social distancing kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Tujuannya mengurangi penyebaran Covid-19.

Bentuk nyata social distancing juga terlihat dari simbol-simbol pembatas jarak aman pada moda transportasi umum dan berbagai tempat lainnya.

Seruan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani dan mengurangi penyebaran Covid-19.

Tidak hanya permasalahan mengenai pengurangan penyebaran Covid-19 di masyarakat. Penyebaran hoaks terkait Covid-19 juga menjadi masalah tersendiri.

Isu mengenai asal muasal Covid-19, metode penyembuhan, dan hal-hal yang irasional yang belum tentu kebenarannya melenggang mulus di media sosial kita saat ini.

Simpang siur apakah informasi tersebut benar atau hanya hoaks terasa sulit untuk dibuktikan. Masyarakat akhirnya terkecoh dengan hoaks.

Di sisi lain, dunia virtual menyuguhkan ragam informasi mengenai Covid-19 dengan beraneka rasa.

Mereka yang mendapatkan rasa legit akan memiliki semangat untuk terus berjuang melawan Covid-19 dengan cara yang diserukan oleh pemerintah.

Mereka yang mendapatkan rasa getir akan menumbuhkan rasa menyerah, bahkan pada level tertentu akan memantik panik dan amarah.

Celakanya ketika seseorang sudah terjerembab dalam arus getir dalam sistem jaringan media sosial, mereka akan kesulitan mendapatkan informasi yang legit rasanya.

Keadaan seperti itu sudah dijelaskan Eli Pariser sebagai pencetus Filter Bubble pada media sosial.

Filter Bubble menyediakan ruang berdasarkan hasrat manusia untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.