Sejumlah Negara yang Manfaatkan Aplikasi untuk Lacak Persebaran Virus Corona

Kompas.com - 27/03/2020, 15:35 WIB
Suasana Kota London sepi setelah wabah virus corona yang terjadi di Inggris, 19 Maret 2020. ShutterstockSuasana Kota London sepi setelah wabah virus corona yang terjadi di Inggris, 19 Maret 2020.

KOMPAS.com - Inggris memanfaatkan betul bantuan teknologi untuk mencoba meredam penyebaran virus corona di negara tersebut. 

Para peneliti di Inggris meluncurkan sebuah aplikasi yang bisa membantu melacak persebaran Covid-19 dan mengetahui siapa yang paling besar ada dalam risiko infeksi untuk memahami pandemi ini secara lebih baik.

Dikutip dari The Guardian (24/3/2020), aplikasi yang bisa diunduh secara gratis ini bernama Covid Symptom Tracker.

Di sana, pengguna akan diminta untuk mengisi data yang meliputi usia, jenis kelamin, dan kode pos tempat tinggalnya.

Tidak hanya data umum, pengguna juga diarahkan untuk mengisi kondisi kesehatannya, mungkin yang bersangkutan mengidap penyakit jantung, asma, dan diabetes.

Informasi mengenai penggunaan obat-obatan seperti immunosuppressants atau ibuprofen juga penggunaan kursi roda juga diminta untuk diisikan.

Selanjutnya, aplikasi akan meminta penggunanya untuk meluangkan waktu 1 menit setiap harinya guna melaporkan kondisi kesehatannya, apakah sehat atau tidak.

Jika tidak sehat, maka pengguna akan ditanya seputar gejala yang dialami mulai dari batuk, demam, merasa kelelahan, diare, atau yang lain.

Baca juga: Dari UN hingga Belajar di Rumah, Berikut Sejumlah Kebijakan Mendikbud Saat Pandemi Corona

Tim di balik aplikasi ini merupakan kolaborasi antara peneliti di King's College London, rumah sakit Guy and St Thomas, dan perusahaan pengetahuan data kesehatan ZOE.

Mereka berharap aplikasi yang dikembangkan bersama ini dapat memberikan informasi terkini tentang bagaimana penyakit yang telah ditetapkan sebagai pandemi ini menyebar di Inggris, salah satu negara yang menjadi hotspot penyebaran virus corona di Eropa.

Orang yang memimpin pembuatan aplikasi, seorang profesor epidemiologi Kings College London, Tim Spector menjelaskan produk teknologi yang ia buat.

"Konsepnya adalah sebagai peringatan dini, karena kita menanyakan gejala-gejala yang tidak biasa. Banyak orang melaporkan mengalami batuk yang tidak sama, atau merasa tidak sehat dan mengalami sesak di dada yang tidak masuk dalam daftar gejala umum lainnya, namun jika kita melihat kejadian di berbagai negara penderita dengan gejala tersebut adalah benar (Covid-19)," kata Spector.

"Jika hanya ada dua gejala yakni demam dan batuk berkepanjangan, itu salah. Covid-19 bisa terjadi melalui berbagai cara yang berbeda," tambahnya.

Spector menjelaskan aplikasi buatan timnya akan menjelaskan gejala juga penyebaran virus yang telah menginfeksi lebih dari 11 ribu orang di Inggris ini, secara geografis.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

INFOGRAFIK: Waktu yang Tepat untuk Berjemur di Bawah Sinar Matahari

INFOGRAFIK: Waktu yang Tepat untuk Berjemur di Bawah Sinar Matahari

Tren
28 Kereta Jarak Jauh dari Jakarta Dibatalkan Selama Sebulan, Ini Daftarnya...

28 Kereta Jarak Jauh dari Jakarta Dibatalkan Selama Sebulan, Ini Daftarnya...

Tren
Jangan Main-main dengan Virus, Lakukan Beberapa Hal Ini untuk Cegah Tertular Virus Corona

Jangan Main-main dengan Virus, Lakukan Beberapa Hal Ini untuk Cegah Tertular Virus Corona

Tren
[POPULER TREN] Kasus Corona di Jerman | Gejala Infeksi Covid-19 pada Anak

[POPULER TREN] Kasus Corona di Jerman | Gejala Infeksi Covid-19 pada Anak

Tren
Negara Mana Saja yang Belum Melaporkan Kasus Positif Virus Corona?

Negara Mana Saja yang Belum Melaporkan Kasus Positif Virus Corona?

Tren
Suka Gunakan Lipstik Warna Merah? Berikut Sejarahnya, dari Simbol Keberanian hingga Kebebasan

Suka Gunakan Lipstik Warna Merah? Berikut Sejarahnya, dari Simbol Keberanian hingga Kebebasan

Tren
Gambar Peta Karantina, Ini Cerita Seniman Saat Jalani Isolasi

Gambar Peta Karantina, Ini Cerita Seniman Saat Jalani Isolasi

Tren
Mengapa Cacing Keluar ke Permukaan Tanah Setelah Turun Hujan?

Mengapa Cacing Keluar ke Permukaan Tanah Setelah Turun Hujan?

Tren
Daftar 5 Petinggi Dunia yang Positif Virus Corona, dari Boris Johnson hingga Pangeran Charles

Daftar 5 Petinggi Dunia yang Positif Virus Corona, dari Boris Johnson hingga Pangeran Charles

Tren
Lebih dari 21.000 Pemudik Pulang ke Wonogiri, Ini Imbauan Bupati

Lebih dari 21.000 Pemudik Pulang ke Wonogiri, Ini Imbauan Bupati

Tren
Begini Karantina yang Dilakukan China untuk Mencegah Virus Corona

Begini Karantina yang Dilakukan China untuk Mencegah Virus Corona

Tren
Hindari Corona, Para Ahli Sarankan Ganti Lensa Kontak dengan Kacamata

Hindari Corona, Para Ahli Sarankan Ganti Lensa Kontak dengan Kacamata

Tren
Seekor Kucing di Belgia Ditemukan Terinfeksi Virus Corona

Seekor Kucing di Belgia Ditemukan Terinfeksi Virus Corona

Tren
Pasien Covid-19 Tembus 1.155 Orang, Korsel Prioritaskan Ekspor Test Kit Corona ke Indonesia

Pasien Covid-19 Tembus 1.155 Orang, Korsel Prioritaskan Ekspor Test Kit Corona ke Indonesia

Tren
Cegah Corona, Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Baik dari Hand Sanitizer

Cegah Corona, Cuci Tangan dengan Sabun Lebih Baik dari Hand Sanitizer

Tren
komentar
Close Ads X