Corona Membangkitkan Tanya: Ada Apa dengan Alam Kita?

Kompas.com - 25/03/2020, 16:16 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.


SUNGGUH sulit mencari tema tulisan di tengah krisis kemanusian berkait Corona. Beberapa hari ini saya membaca ulang catatan harian. Terasa, catatan perjalanan perlu saya tuliskan di kolom ini untuk merenungi kemanusiaan kita berkait alam

Maumere-NTT, 1992

“Saya tidak tahu Bapa, kenapa laut ikut campur ke daratan . Ataukah tempat mereka bermain telah kita ambil, kita tutupi dengan rumah-rumah dan hotel di negeri ini? Apakah alam marah?“

Percakapan itu terjadi beberapa hari setelah Tsunami setinggi 30 meter terjadi dan menewaskan sekitar 1.300 orang.

Percakapan yang terdengar sederhana namun memberi renungan panjang. Meski saya tahu, negeri ini dikelilingi 100 lebih gunung aktif dan terletak di lempengan bumi yang mudah goncang.

Meulaboh-Aceh, Maret 2005

“Alam begitu indah, memerah jingga, ikan-ikan berlompatan di sepanjang tepi pantai. Keindahan itu ternyata sementara, menjadi tragedi, tsunami menerjang . Apakah kita sudah tidak lagi bisa berkomunikasi dalam alam kita sebagai rumah kita? Kenapa kita tak mampu membaca tanda-tanda alam kita ketika kecanggihan teknologi justru bertumbuh pesat?“

Percakapan itu adalah ucapan penyair Aceh, Ibrahim Kadir, setelah tsunami. Ucapan yang kemudian menjadi nyanyian Didong.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Foto masjid yang menjadi satu-satunya bangunan utuh di wilayah Meulaboh yang diambil pada 2 Januari 2005, menjadi salah satu foto yang paling diingat Eugene Hoshiko, fotografer Associated Press yang meliput tsunami Aceh. Tsunami meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004AP/Eugene Hoshiko Foto masjid yang menjadi satu-satunya bangunan utuh di wilayah Meulaboh yang diambil pada 2 Januari 2005, menjadi salah satu foto yang paling diingat Eugene Hoshiko, fotografer Associated Press yang meliput tsunami Aceh. Tsunami meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004

Saya berada di Aceh seminggu setelah Tsunami. Melakukan perjalanan dari Wasur-Meureke-Papua langsung ke Meulaboh lewat perjalanan panjang yang menunjukkan luasnya negeri ini.

Jalan kaki dari hutan Wasur, naik mobil, pesawat dua kali dan naik helikopter dari Medan ke Aceh. Sebuah perjalanan membuat dokumenter atas permintaan John Hopkins University

Saya mendarat di tengah kehancuran kota dan mayat-mayat. Tsunami Aceh setinggi 30 meter yang muncul akibat gempa bermagnitudo 7,5 menewaskan sekitar 250.000 manusia.

Sekali lagi pertanyaan muncul: apa yang dikabarkan alam pada kita?

Halaman:

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.