Asal-usul Istana Bogor, dari Buitenzorg hingga Jadi Tempat Kediaman Presiden

Kompas.com - 14/03/2020, 09:45 WIB
Sejumlah anggota paskibraka duduk di taman saat peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 di Halaman Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/10). Peringatan dengan konsep bernuansa anak muda yang diikuti sekitar 1.000 pemuda berprestasi dari berbagai daerah di Indonesia tersebut mengangkat tema Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama. ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO ASejumlah anggota paskibraka duduk di taman saat peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89 di Halaman Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/10). Peringatan dengan konsep bernuansa anak muda yang diikuti sekitar 1.000 pemuda berprestasi dari berbagai daerah di Indonesia tersebut mengangkat tema Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama.

 

KOMPAS.com - Istana Kepresidenan Bogor terletak di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat menyimpan banyak sejarah di awal pendiriannya.

Istana Kepresidenan Bogor bermula dari pencarian orang-orang Belanda yang bekerja di Batavia (kini Jakarta) terhadap tempat yang ingin mereka huni sebagai tempat peristirahatan.

Mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan terlalu ramai sehingga mereka perlu mencari tempat-tempat yang berhawa sejuk di luar kota Batavia.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: YouTube Diluncurkan, Bagaimana Awal Mulanya?

Dikutip pemberitaan Harian Kompas, 28 Agustus 1975, Gubernur Jenderal Belanda, G.W. Baron van Imhoff, juga melakukan pencarian seperti itu dan berhasil menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung.

Adapun kampung tersebut bernama Kampong Baroe, pada 10 Agustus 1744.

Buitenzorg

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada 1745, Gubernur Jenderal van Imhoff memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebagai sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg (artinya bebas masalah/kesulitan).

Selain itu, ia sendiri yang membuat sketsa bangunannya dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris.

Dilansir laman resmi Sekretariat Negara, penamaan Buitenzorg itu termasuk wilayah perkampungan di sekitarnya, yang kini dikenal sebagai kota Bogor.

Gubernur Jenderal Belanda yang satu ini tercatat sebagai orang yang amat rajin membangun gedung tersebut walaupun hingga masa dinasnya berakhir, bangunannya masih jauh dari selesai.

Akhirnya, ia diganti oleh Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1750-1761).

Baca juga: Menyelisik Awal Mula Munculnya Klitih di Yogyakarta...

Rusak berat

Istana Kepresidenan Bogor mengalami rusak berat pada masa pemberontakan perang Banten di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang yang terjadi pada 1750-1754.

Pasukan-pasukan Banten dengan gagah berani menyerang Kampong Baroe dan membakarnya. Namun, pemberontakan itu berakhir dan mereka terpaksa harus tersingkir.

Bahkan perang tersebut mengakibatkan Kesultanan Banten menjadi rampasan Kompeni. Bangunan van Imhoff yang sudah rusak berat itu diperbaiki kembali oleh penggantinya dengan tetap mempertahankan arsitekturnya.

Masih pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, pergantian para gubernur jenderal Belanda itu mengakibatkan berbagai perombakan menimpa pesanggrahan impian.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X