Virus Corona, Wabah Demam Berdarah, dan Analisis Para Ahli...

Kompas.com - 12/03/2020, 05:51 WIB
(Ilustrasi) Petugas melakukan pengasapan penuntasan Fogging memberantas nyamuk penyebab Demam Berdarah Deungue (DBD) di Desa Loh Kumbang, Muara Dua, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (24/12/2019). Data bidang Pencegahan, Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan setempat menyebutkan, Januari hingga Desember 2019 jumlah kasus DBD mencapai 70 kasus dengan penderita meninggal dunia nihil, angka itu turun dibandingkan tahun 2018 yakni 97 kasus dengan satu orang meninggal dunia. ANTARA FOTO/Rahmad/foc. ANTARA FOTO/RAHMAD(Ilustrasi) Petugas melakukan pengasapan penuntasan Fogging memberantas nyamuk penyebab Demam Berdarah Deungue (DBD) di Desa Loh Kumbang, Muara Dua, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (24/12/2019). Data bidang Pencegahan, Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan setempat menyebutkan, Januari hingga Desember 2019 jumlah kasus DBD mencapai 70 kasus dengan penderita meninggal dunia nihil, angka itu turun dibandingkan tahun 2018 yakni 97 kasus dengan satu orang meninggal dunia. ANTARA FOTO/Rahmad/foc.

KOMPAS.com – Munculnya wabah virus corona yang bersamaan dengan wabah demam berdarah yang terjadi di wilayah Asia Tenggara menimbulkan kekhawatiran baru.

Kekhawatiran itu adalah tidak terdeteksinya virus corona yang justru terdeteksi sebagai demam berdarah.

Para ahli menilai ini menjadi tantangan baru bagi para pihak berwenang dan petugas kesehatan dalam mendeteksi kedua penyakit tersebut.

Baca juga: Cegah Penyebaran Corona, Saudi Berlakukan Denda Rp 1,9 M bagi Siapa Pun yang Menyembunyikan Penyakit

Alasan kekhawatiran tersebut dipicu adanya laporan pada 4 Maret yang dikeluarkan dokter di Singapura dalam jurnal medis The Lancet.

Penelitian tersebut menunjukkan adanya kesamaan antara penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut dengan Covid-19.

Laporan tersebut menyoroti bagaimana mereka yang menderita Covid-19 menghasilkan hasil positif palsu untuk demam berdarah.

"Penyakit dengue dan coronavirus 2019 (Covid-19) sulit dibedakan karena mereka berbagi fitur klinis dan laboratorium," tulis kelompok penulis dari Sistem Kesehatan Universitas Nasional Singapura, Rumah Sakit Umum Ng Teng Fong, dan Institut Kesehatan Lingkungan sebagaimana dikutip dari South China Morning Post.

Baca juga: Mengapa Pasien Suspect Corona yang Meninggal di RSUP Kariadi Harus Dibungkus Plastik?

Tes lanjutan

Laporan itu sendiri mengutip kasus adanya dua orang yang awalnya dinyatakan positif demam berdarah berdasarkan hasil tes serologis cepat, tetapi kemudian tes selanjutnya ditemukan ia ternyata positif Covid-19.

Pasien-pasien itu sendiri tak memiliki riwayat perjalanan ke daerah terpapar akan tetapi menunjukkan gejala seperti demam dan batuk.

"(Gejala) ini sangat umum dalam semua penyakit virus," kata ahli penyakit menular Leong Hoe Nam dari Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena.

Menurutnya, pada dasarnya nyeri otot adalah gejala lain yang kerap ditunjukkan oleh mereka yang mengalami influenza, demam berdarah, Zika ataupun Chikungunya.

Menurut Leong, diperlukan adanya tes lanjutan sehingga ketika hasil tes demam berdarah kembali positif, dokter bisa menyimpulkan bahwa pasien memang mengalami penyakit tersebut. Apalagi jika pasien tinggal di wilayah rentan terjadi demam berdarah.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X