Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 08/03/2020, 17:45 WIB

Penelitian yang dilakukan tim Guangzhou didasarkan pada setiap kasus baru virus corona yang dikonfirmasi di seluruh dunia antara 20 Januari hingga 4 Februari.

Hal itu termasuk di lebih dari 400 kota dan wilayah Cina.

Analisis menunjukkan bahwa jumlah kasus naik sejalan dengan suhu rata-rata hingga puncak 8,72 derajat celcius dan kemudian menurun.

Baca juga: Menyebar Hampir di Seluruh Negara Anggota, Bagaimana Cara Eropa Menghadapi Wabah Corona?

Dikatakan juga bahwa iklim mungkin berperan dalam mengapa virus itu menyebar Wuhan, China tempat pertama kali terdeteksi.

Pakar lainnya, asisten direktur di Center for Infectious Diseases Research di American University of Beirut Hassan Zaraket juga mendukung hal tersebut.

Dia mengatakan ada kemungkinan bahwa cuaca yang lebih hangat dan lebih lembab akan membuat virus corona lebih stabil dan dengan demikian kurang menular, seperti halnya dengan patogen virus lainnya.

"Ketika suhu memanas, stabilitas virus dapat menurun. Jika cuaca membantu kita mengurangi transmisibilitas dan stabilitas lingkungan dari virus, maka mungkin kita dapat memutus rantai penularan," katanya.

Baca juga: Berikut Perkembangan Terkini Kasus Virus Corona di 16 Negara Timur Tengah

Tidak selalu suhu tinggi

Sebuah studi terpisah dilakukan oleh sekelompok peneliti termasuk ahli epidemologi Marc Lipsitch dari Harvard School of Public Health TH Chan.

Mereka menemukan bahwa penularan virus corona yang berkelanjutan dan pertumbuhan infeksi yang cepat dimungkinkan dalam berbagai kondisi kelembaban.

Misalnya dari provinsi dingin dan kering di China ke lokasi tropis, seperti daerah otonom Guangxi Zhuang di ujung selatan negara itu dan Singapura.

Cuaca saja, seperti peningkatan suhu dan kelembaban tidak akan serta merta menyebabkan penurunan dalam jumlah kasus infeksi virus corona tanpa penerapan kebijakan kesehatan masyarakat yang luas.

Direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO, Mike Ryan mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap epidemi akan secara otomatis mereda di musim panas.

“Adalah harapan yang salah untuk mengatakan, ya, itu akan hilang seperti flu. Kita tidak bisa membuat asumsi itu. Dan tidak ada bukti," ujarnya.

Baca juga: Melalui Kartun, Jokowi Ingatkan Masyarat Tak Panik Hadapi Virus Corona

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+