Dua WNI Positif Corona, Pemerintah Diminta Proaktif Melakukan Pemeriksaan

Kompas.com - 03/03/2020, 17:45 WIB
Seorang perawat Indonesia melihat melalui jendela kaca dari ruang isolasi untuk pasien yang terinfeksi virus corona, di Rumah Sakit Undata di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, 3 Maret 2020. Rumah sakit di seluruh negeri sedang bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan wabah setelah dua kasus pertama virus corona. EPA-EFE/OPAN BUSTAN OPAN BUSTANSeorang perawat Indonesia melihat melalui jendela kaca dari ruang isolasi untuk pasien yang terinfeksi virus corona, di Rumah Sakit Undata di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, 3 Maret 2020. Rumah sakit di seluruh negeri sedang bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan wabah setelah dua kasus pertama virus corona. EPA-EFE/OPAN BUSTAN

KOMPAS.com - Presiden RI Joko Widodo akhirnya mengumumkan ada dua warga negara Indonesia (WNI) positif virus corona pada Senin (2/3/2020).

Pengumuman ini menjadikan Indonesia negara yang telah terinfeksi virus corona baru atau SARS-CoV2.

Dengan konfirmasi dua pasien positif corona di Indonesia semakin menambah jumlah mereka yang terinfeksi oleh penyakit Covid-19, sejak pertama kali diumumkan di Kota Wuhan, China, pada akhir Desember 2019.

Hingga Selasa, virus corona telah menginfeksi 91.286 orang di 73 negara dan 3.116 orang dilaporkan tewas, dan angkanya masih terus bertambah tiap saat.

Informasi transparan

Melihat kondisi tersebut, Jurnalis Bencana dan Krisis (JBK) Indonesia menyoroti pentingnya informasi transparan dari otoritas, para ahli dan para pihak yang berkompeten, dengan publik yang berisiko menghadapi ancaman wabah penyakit.

"Sebagaimana diamanatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan United Nation Disaster Risk Reduction (UNDRR), komunikasi risiko memiliki peran penting dalam meminimalkan dampak bencana," kata Ketua JBK Ahmad Arif melalui rilis pers, Selasa (3/3/2020).

Tujuan manajemen risiko, menurut Arif, agar publik bisa memproteksi diri dan keluarga sehingga bisa meminimalkan dampak dan kekacauaan saat dan setelah wabah.

Baca juga: Dua WNI Positif Corona, Ini Perbedaan Pasien dalam Pengawasan dan Pemantauan

Kegagalan komunikasi risiko, selain memicu ketidakpercaayaan publik, juga bisa melemahkan kesiapsiagaan, kepanikan, dan kekacauaan yang bakal memperdalam dampak bencana.

Karena itu pihaknya mendesak Pemerintah Indonesia menyediakan informasi yang transparan kepada publik mengenai penapisan dan hasil pemeriksaan yang dilakukan, protokol pencegahan dan perlindungan masyarakat dari wabah virus corona.

"Tidak adanya transparansi, justru menempatkan publik menjadi lebih berisiko sehingga dampak wabah bisa lebih dalam," katanya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X