Nabila Larasati Pranoto dan "A Living Organism"

Kompas.com - 01/03/2020, 05:15 WIB
Disain ?A Living Organism? Nabila Larasati PranotoDisain ?A Living Organism?

Anda tentu sangat peduli pada isu lingkungan paling panas sepanjang abad ke-21: climate change, global warming, atau perubahan iklim, pemanasan global. Tetapi, sadarkah Anda bahwa mereka yang pertama kali terkena dampak paling berat adalah komunitas-komunitas yang tinggal di pinggir pantai? Karya Nabila Larasati Pranoto salah jawabannya.

Nabila menggugah kesadaran kita –terutama para pemimpin negeri- tentang bagaimana sebuah negara archipelago seperti Indonesia bisa menyelamatkan warganya yang tinggal di pesisir pantai. Utamanya, selamat dari musibah akibat pemanasan global, perubahan iklim dan gelombang air laut pasang.

Ajakannya justru bermula dari keinginan menerapkan ilmu yang diampunya. Inilah yang secara rumit dan komplet tetapi masuk akal, terangkum dalam gagasan yang diusung Nabila, dengan menggunakan kapabilitasnya sebagai arsitek lingkungan.

Pada 22 Januari 2020 lalu, tanpa banyak diberitakan media massa Indonesia sendiri, arsitek muda Indonesia yang bermukim di Singapura ini meraih penghargaan internasional tahunan bergengsi di bidang arsitektur lingkungan dari Jacques Rougerie Foundation, Prancis. Sayang seribu sayang, Duta Besar RI untuk Prancis tak hadir.

Diikuti desainer arsitektur dari berbagai negara, kompetisi ini dibuat untuk menanggapi tantangan perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut yang menjadi salah satu isu lingkungan paling ramai dalam beberapa tahun terakhir.

Dewan juri tahun ini dipimpin Dominique Perrault, arsitek dan urban planner Prancis; Claudie Haignere, politikus dan astronot; Justin Ahanhanzo, pakar Intergovernmental Oceanographic Commission UNESCO; dan Francis Rembert, Director of the Cite de l’Architecture.

Karya Nabila yang berjudul “A Living Organism”, menang 2019 Coup de Coeur Award kategori “Architecture and Sea level Rise” Leonardo da Vinci Promotion, mengalahkan peserta dari Denmark, USA, India, Namibia, Prancis serta ratusan peserta lainnya dalam seleksi awal. Indonesia sangat bangga, tentu saja.

Tahukah di mana plus point Nabila?

Nabila membawa kesadaran baru lewat karyanya. Mungkin sudah pula diusung para aktivis dan penggerak lingkungan kemaritiman secara luas, tetapi bedanya ia menggagas sesuatu yang riil dan detail. Ide, gagasan dan imajinasinya untuk bangsanya. Sederhananya, ia mengajak kita “menolong” masyarakat pinggir pantai lewat karya arsitektur ramah lingkungan.

“Karena generasi saya mulai peduli banget dengan environment dan pencegahan perubahan iklim, tapi gak banyak yang tahu kalau sekarang ini perubahan iklim sudah terjadi dan orang-orang yang pertama terserang dengan efek-efek buruknya itu ya orang-orang yang tinggal di desa perikanan dan pertanian di pinggir laut.”

Ini bukan pernyataan seorang aktivis lingkungan atau pengambil kebijakan. Ini suara Nabila Larasati Pranoto (23), perempuan arsitek Indonesia lulusan Singapore University of Technology and Design (SUTD) yang saya tanyai hanya lewat email beberapa hari lalu. Saya bertanya, dari mana ide gagasan ini muncul pertama kali.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X