Mengapa Trump Nekat "Pancing" Iran melalui Serangan yang Tewaskan Qasem Soleimani?

Kompas.com - 09/01/2020, 14:29 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan keterangan pers di Gedung Putih, Washington, pada 8 Januari 2020. Trump memberikan pernyataan sikap setelah Iran menyerang dua markas pasukan AS di Irak. Iran mengklaim bertanggung jawab sebagai balasan setelah Komandan Pasukan Quds, Jenderal Qasem Soleimani, tewas diserang rudal AS. AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/WIN MCNAMEEPresiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan keterangan pers di Gedung Putih, Washington, pada 8 Januari 2020. Trump memberikan pernyataan sikap setelah Iran menyerang dua markas pasukan AS di Irak. Iran mengklaim bertanggung jawab sebagai balasan setelah Komandan Pasukan Quds, Jenderal Qasem Soleimani, tewas diserang rudal AS.

KOMPAS.com - Serangan udara Amerika Serikat yang menewaskan jenderal top Iran Qasem Soleimani memicu panasnya hubungan kedua negara.

Selain Qasem, serangan yang dilakukan pada Jumat (3/1/2020) di Bandara Internasional Baghdad itu juga menewaskan Abu Mahdi al-Muhandis, pemimpin Hashd al-Shaabi di Irak.

Serangan itu dilancarkan atas perintah Presiden AS Donald Trump.

Sejumlah pihak memuji langkah Trump karena Qasem dianggap bertanggung jawab atas terbunuhnya warga AS di Timur Tengah.

Namun, tak sedikit pula yang mengutuk langkah itu karena akan memperburuk situasi di Timur Tengah saat ini.

Iran tak tinggal diam dan menyatakan akan membalas dendam kematian Qasem.

Hal itu dibuktikan melalui serangan rudal yang dilancarkan ke Pangkalan Militer AS di Irak pada Rabu (8/1/2020).

Mengapa AS nekat memicu pertikaian dengan langsung menarget Jenderal Qasem Soleimani?

Baca juga: Markas Militer AS Dihantam Rudal, Iran Simpan Cadangan Minyak Ratusan Miliar Barel

Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Siti Mutiah Setiawati menganggap langkah Trump tersebut sebagai upayanya untuk meninggalkan "warisan" menjelang akhir kepemimpinannya.

"Sekarang, Trump itu kan sudah mau habis waktunya. Terus apa peninggalannya? Jadi, sebelum melepas jabatan itu, Trump ingin meninggalkan legacy agar diingat publik," kata Mutiah, yang biasa disapa Titik, kepada Kompas.com, Kamis (9/1/2020).

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X